Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 263


__ADS_3

"Apa syaratnya, Nona Maria?"


"Syaratnya sangat mudah, Om. Aku yakin Om pasti bisa memenuhi semua syarat dariku," ucap Maria.


"Katakanlah."


"Keinginanku masih sama seperti dulu. Aku ingin pernikahanku bertema Hello Kitty. Semuanya serba Hello Kitty, baik itu dekorasi, pernak-pernik, souvenir, dan semua-semuanya harus serba Hello Kitty."


Marissa membulatkan matanya sambil menatap anak gadisnya itu. "Maria!" pekiknya.


"Ayolah, Mom. Ini adalah pernikahan impian Maria. Jadi, kali ini bantulah Maria mewujudkannya, ya." Maria memasang wajah memelas kepada sang Mommy.


Marissa menggaruk pelipisnya sambil bertatap mata dengan Marcello. Ternyata ekspresi Tuan Marcello pun sama, ia bingung mendengar syarat yang di ajukan oleh anak gadisnya itu. Bukan hanya Marcello dan Marissa yang dibuat pusing, si kembar Marvel dan Melvin pun sama.


Mungkin untuk Marissa dan Marcello, hal itu bukanlah masalah besar. Mereka bisa saja mengabulkan keinginan putrinya tersebut. Namun, yang mereka khawatirkan sekarang adalah Dylan. Mungkinkah seorang Dylan bersedia menerima keinginan Maria yang begitu aneh.


"Ya, aku bersedia," jawab Dylan mantap.


"Kamu serius, Tuan Dylan?" pekik Marvel dan Melvin secara bersamaan.


"Ya, aku serius."


"Akh!" pekik Maria sambil bertepuk tangan. Gadis itu benar-benar bahagia karena Dylan bersedia memenuhi keinginan terbesarnya.


"Om tenang saja. Om akan tetap terlihat tampan dengan setelan jasmu. Maria tidak akan meminta Om mengenakan aksesoris atau apapun yang berbau Hello Kitty, pokoknya Om aman!"


"Benar ya, Maria!" Marissa kembali menohok tajam ke arah anak gadisnya itu.


"Ya, Maria janji!"

__ADS_1


Setelah Dylan menyanggupi semua syarat dari Maria, kini saatnya Dylan menyerahkan sebuah cincin kepada gadis itu.


"Mungkin harga cincin ini tidak seberapa, Nona Maria. Namun, aku berharap semoga kamu menyukainya," ucap Dylan sembari memperlihatkan sebuah cincin emas 24 karat dengan berat 10 gram dan bertahtakan berlian di atasnya.


"Huwah, indah sekali, Om. Aku sangat menyukainya." Mata Maria membulat saat menatap cincin tersebut.


Walaupun cincin itu tidak semahal harga perhiasan yang pernah ditawarkan oleh Aidan kepadanya. Namun, bagi Maria cincin itu jauh lebih istimewa dibandingkan satu set perhiasan milik Aidan.


"Benarkah? Nona menyukainya?"


"Ya!" sahut Maria mantap.


Dylan meraih tangan Maria kemudian memasangkan cincin tersebut ke jari manis gadis itu. Ternyata ukuran cincin itu sangat pas di jari manis Maria, tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan.


"Yeeayy!!!" seru semua orang yang ada di ruangan itu setelah Dylan berhasil memasangkan cincin tanda keseriusannya kepada Maria.


Perlahan, Maria memasangkan cincin itu ke jari manis Dylan dan setelah selesai, keluarga kecil Tuan Marcello kembali bersorak sambil bertepuk tangan.


"Ah, akhirnya ...." Marissa membuang napas lega sambil tersenyum puas setelah melihat pertunangan sederhana ala Dylan dan Maria akhirnya berjalan dengan lancar.


"Ingat, Maria, Dylan! Status kalian baru bertunangan, jadi jangan pernah melakukan sesuatu diluar batas. Kalian mengerti 'kan apa yang Daddy maksud?" Marcello mencoba mengingatkan anak gadis dan juga calon menantunya.


"Ashiapp, Daddy! Kami mengerti, benar 'kan, Om? Ehm, Om Dylan apa Om Udin ya?"


"Udin, Udin!!!" seru Marissa, Melvin dan Marvel. Hanya Marcello yang tidak ikut-ikutan. Lelaki tua itu hanya tersenyum sambil memperhatikan wajah Dylan yang tersipu malu.


"Terserah kamu saja, Nona."


"Masalahnya Maria sudah terbiasa menyebut Om dengan sebutan Om Udin, gimana dong?!"

__ADS_1


"Ya, aku pun sudah terbiasa dipanggil Udin oleh Nona," sahut Dylan sambil tersenyum kecut.


Setelah beberapa jam kemudian, acara sederhana ala keluarga mereka pun berakhir. Kini saatnya Dylan pamit kepada seluruh keluarga Tuan Marcello.


"Kamu berdoa saja agar Maria melupakan keinginan anehnya itu, Dylan," ucap Marcello sembari merengkuh pundak Dylan dan menepuknya pelan.


"Tidak masalah, Tuan Marcello. Saya bersedia memenuhi semua permintaan putri Anda," sahut Dylan sambil tersenyum hangat menatap lelaki paruh baya yang sedang menatapnya dengan tatapan serius.


"Jadi, kamu benar-benar serius soal itu? Maaf, apa kamu tidak malu dengan para tamu undangan jika pernikahanmu bertema Hello-Hello'an seperti itu?!" tanya Marcello sambil menautkan kedua alisnya.


Dylan terkekeh pelan. "Sepertinya saya sudah terbiasa dengan hal itu, Tuan Marcello. Putri Anda selalu mengajari saya untuk terbiasa dengan dunianya," sahut Dylan sambil menggaruk pelipisnya.


"Astaga! Jangan bilang anak gadisku sering mengerjaimu dengan kucing-kucing kesayangan itu?"


Dylan mengelus tengkuknya sambil tersenyum kecut. "Seperti itulah, Tuan Marcello."


"Ya, Tuhan! Maria," pekik Tuan Marcello sambil menggelengkan kepalanya.


Setibanya di hadapan depan mansion, Dylan segera memasuki mobil mewah miliknya setelah Mac membukakan pintu untuknya.


"Om, nanti ajak aku main ke kediamanmu yang asli, ya!" ucap Maria sambil mengusap matanya yang sudah mulai terasa berat.


"Ya, tentu saja, Nona. Sebaiknya Nona segera tidur karena kedua bola mata indah milik Nona sudah meminta haknya untuk beristirahat," ucap Dylan sembari menyentuh pipi chubby Maria.


"Siap, Om Udin!"


Dylan terkekeh pelan kemudian melambaikan tangannya kepada keluarga Tuan Marcello sebelum mobilnya melaju meninggalkan tempat itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2