
Di kediaman Marcello.
Pasangan Erika dan Fattan baru saja tiba di kediaman Marcello. Setelah mendapat kabar bahwa Marissa tengah hamil muda, Erika segera meminta Fattan mengantarkannya ke Mansion untuk menjenguk Marissa.
"Eh, Nak Erika. Masuk, yuk!" ajak Dian yang menyambut kedatangan mereka.
"Terima kasih, Bu."
Dian menuntun Erika dan Fattan menuju ruang utama dan mempersilakan pasangan itu untuk duduk di sofa yang ada di sana.
"Duduk dulu ya, Nak. Ibu mau panggilkan Marissa nya dulu," ucap Dian.
Dian pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu, menuju kamar Marissa dan Marcello.
Di dalam kamar.
"Bagaimana rasanya, Daddy? Enak?" tanya Marissa yang tengah memijit kepala Marcello.
"Ya, apalagi yang memijitnya kamu, Cha," goda Marcello sembari memeluk tubuh Marissa yang sedang berada di sampingnya.
"Marissa sayang, Erika dan Fattan sudah menunggumu di ruang utama," ucap Dian yang hanya mengintip dari balik pintu tanpa memasuki kamar mewah tersebut.
"Ah ya, Bu. Sebentar lagi Icha susul."
Marissa melerai pelukan Marcello kemudian mulai menggeser tubuhnya dan bersiap melangkah menuju ruang utama, dimana Erika dan Fattan sudah menunggu di sana.
"Cha, aku ikut," ucap Marcello sembari mengulurkan tangannya kepada Marissa agar wanita itu segera membantunya bangkit dari tempat tidur.
Marissa menautkan kedua alisnya sembari menatap wajah pucat Marcello. Ia meraih tangan lelaki itu kemudian membantunya berdiri.
__ADS_1
"Sebaiknya Daddy istirahat saja? Icha takut Daddy jatuh pingsan kalau kelamaan duduk," goda Marissa sambil terkekeh pelan.
Marcello menekuk wajahnya kemudian membuang napas kasar. "Aku juga lelah, Cha. Sudah berhari-hari aku terkurung di ruangan itu," jawabnya.
Mau tidak mau, akhirnya Marissa pun setuju. Ia segera menggandeng lelaki itu menuju ruang utama untuk menemui pasangan Erika dan Fattan yang datang berkunjung.
"Erika," sapa Marissa dengan wajah semringah.
Marissa sangat senang karena akhirnya Erika berkunjung ke kediamannya. Apalagi pasangan itu membawakan beberapa bungkus rujak buah untuknya. Rujak buah yang terlihat begitu menggoda, apalagi di mata Tuan Marcello yang sedang mengalami kehamilan simpatik.
"Apa itu," ucapnya tanpa basa-basi.
"Rujak buah, Tuan Marcello. Biasa, bumil kan paling suka sama yang beginian," jawab Erika sambil tersenyum lebar.
Erika dan Fattan tidak tahu bahwa yang sedang 'ngidam' disini adalah Marcello, bukan Marissa. Marcello meraih rujak buah tersebut kemudian melahapnya tanpa mempedulikan ekspresi pasangan yang sedang duduk di hadapannya. Pasangan itu sempat saling tatap kemudian tersenyum tipis.
"Maaf ya, Erika. Tapi yang ngidam disini sayangnya bukan Bumil, tapi Pamil," ucap Marissa sambil terkekeh pelan.
Tepat di saat itu, Joe datang kemudian menghampirinya.
"Tuan--"
Belum habis Joe berucap, Marcello sudah memotong pembicaraannya.
"Joe, aku ingin buah duren yang di ambil langsung dari kebun," celetuknya dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun, sedangkan mulutnya terus saja mengunyah rujak buah yang terus masuk ke dalam mulutnya.
"Buat apa, Dad?" tanya Marissa heran.
Sebab setahu Marissa, Marcello tidak terlalu menyukai buah tersebut. Bahkan kadang lelaki itu sering menggerutu saat mencium aroma buah durian yang terlalu menyengat di hidungnya.
__ADS_1
"Buat dimakan lah, Icha sayang. Buat apa lagi?" jawabnya sembari mengelus pipi Marissa.
"Bukannya Daddy tidak suka buah itu lalu kenapa--"
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin menikmati buah itu. Tapi aku ingin buah duren yang diambil langsung dari kebun dan tolong jangan sampai jatuh ke tanah," ucapnya.
Joe menelan salivanya dengan susah payah. Seandainya boleh memilih, ia lebih memilih tugas lain dari pada harus menunggu buah duren yang jatuh dari pohon. Dan yang lebih parahnya lagi tidak boleh jatuh ke tanah.
"Yang benar saja!" batin Joe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa Joe, kamu keberatan?" tanya Marcello sembari menatap Joe, ketika tak ada jawaban dari bibir Asistennya itu.
"Baik, Tuan. Demi Anda, apapun saya lakukan," jawab Joe. Biasalah, dengan wajah dingin.
Dengan sangat terpaksa, Joe pun menyetujuinya walaupun sebenarnya ia ingin sekali menolak permintaan lelaki tersebut.
"Bagus, tapi jangan lama-lama, ya. Kalau bisa, besok sudah harus sudah ada karena aku sudah tidak sabar ingin menikmatinya."
Marcello tersenyum puas. Ia kembali menikmati rujak buah yang diberikan oleh pasangan Erika dan Fattan.
Marissa menatap Joe sambil menggaruk pelipisnya dan Joe mengerti bahwa Nona mudanya itu sedang kebingungan melihat perilaku suaminya.
Begitupula pasangan Erika dan Fattan, merekapun bingung melihat perilaku aneh Tuan Marcello saat itu. Benar-benar seperti Ibu-ibu hamil yang lagi 'Ngidam'.
"Apa kamu tidak menginginkan sesuatu gitu, Cha?" tanya Erika sambil memperhatikan Marcello yang masih menikmati rujak buah pemberiannya.
Marissa menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak pengen apa-apa. Biasa aja, paling indera penciumanku saja sepertinya yang agak lebih sensitif dari pada biasanya," jawab Marissa.
...***...
__ADS_1
Bab ini kita yang ringan-ringan dulu aja ya, soalnya udah dua bab tegang mulu 😂😄🙏