Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 248


__ADS_3

"Mac, hari ini aku merasa bahagia sekali. Tadi malam Maria bilang bahwa Tuan Marcello bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu denganku," ucap Dylan sembari mengelap bibirnya dengan sebuah tissue.


Dylan baru saja selesai menikmati sarapan paginya dan kebetulan Mac tiba kemudian menunggunya di ruangan itu. 


"Maksud Tuan, Tuan Marcello ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan masalah hubungan Anda bersama Nona Maria, begitu?" tanya Mac sambil menautkan kedua alisnya.


"Ya, Mac. Tuan Marcello ingin membahas masalah hubunganku dengan anak gadisnya yang menggemaskan itu."


"Wah, selamat ya, Tuan Dylan. Semoga pertemuannya lancar. Ngomong-ngomong kapan Tuan berencana berkunjung ke kediaman Tuan Marcello?" tanya Mac sambil tersenyum lebar menatap Dylan.


"Mungkin satu atau dua hari lagi."


Sementara itu di kediaman Tuan Marcello.


Maria baru saja melaju dengan motor maticnya sama seperti biasa. Kurang lebih seratus meter dari tempat tinggalnya, tiba-tiba saja motornya dihadang sebuah mobil mewah.


"Ya Tuhan, dia lagi!" gerutu Maria seraya membuka kaca helmnya.


Maria menepikan motornya dan diam disana sambil memperhatikan seorang laki-laki tampan yang baru saja keluar dari mobil mewah tersebut. Lelaki itu terlihat sangat keren dengan tuxedo mahal yang melekat erat di tubuhnya yang atletis. Dan sebuah kacamata hitam yang masih menutupi kedua matanya yang indah.


"Hai, Maria sayang! Apa kabar?" Aidan melepaskan kacamata yang masih melekat di wajahnya kemudian menyimpan benda tersebut ke dalam saku jas.


Maria memutarkan kedua bola matanya kemudian memasang wajah malas saat membalas tatapan Aidan.


"Kabarku baik, Tuan Aidan."


"Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan seperti kemarin, bagaimana?" ucap Aidan sambil tersenyum manis menatap Maria.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa, Tuan. Hari ini ada mata pelajaran penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Lagipula aku sudah diperingati oleh wali kelasku untuk tidak bolos lagi."


"Ayolah, Maria sayang. Aku tidak suka di tolak."


Aidan mengambil kunci motor milik Maria kemudian menyembunyikan kunci tersebut di saku celananya. Ia menyeringai kepada Maria setelah melihat ekspresi kesal gadis itu.


"Sekarang ambillah jika kamu bisa!"


Aidan merentangkan tangannya. Ia pasrah jika seandainya Maria bersedia menggeledah saku celana yang sedang ia kenakan. Maria mendengus kesal. Wajahnya menekuk sempurna saat bersitatap mata dengan lelaki menyebalkan itu.


"Baiklah aku kalah dan kamu menang, Tuan Aidan! Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?"


"Seperti yang kuucapkan sebelumnya, aku ingin kamu ikut denganku. Aku ingin kita jalan-jalan, menghabiskan waktu kita sama seperti kemarin."


"Tapi ada syaratnya!"


"Sekarang katakan apa syaratnya?" lanjut Aidan.


"Ini terakhir kalinya kamu mengganggu kegiatanku, Tuan Aidan. Setelah ini aku tidak ingin di ganggu lagi olehmu!"


"Cuma itu? Baiklah, tidak masalah bagiku."


Aidan meraih ponsel yang ia simpan di dalam saku jas kemudian menghubungi salah satu anak buahnya untuk mengamankan motor kesayangan gadis itu. Setelah selesai bicara dengan anak buahnya, ia pun kembali menyimpan benda pipih tersebut ke tempat semula. 


Aidan mengulurkan tangannya sembari tersenyum hangat kepada Maria. Namun, Maria enggan menyambutnya. Setelah melepaskan helm dan mengamankannya, Maria pun melangkah menghampiri mobil mewah milik lelaki itu.


Aidan tersenyum kecut ketika Maria hanya melewati tangannya begitu saja. Ia mengikuti Maria dari belakang kemudian membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.

__ADS_1


Di perjalanan.


"Maria, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"


"Apa itu?" tanya Maria heran.


Maria menoleh kepada Aidan yang masih fokus pada mobil mewahnya.


"Sekarang saatnya untuk bersikap dewasa, Maria. Sebaiknya lupakan Kitty-Kitty-mu karena kamu akan menjadi seorang istri dari Aidan Tristan Putra Alfonso."


Maria tersenyum sinis. Selama ia kenal dengan Om Udin, lelaki itu tidak pernah mempermasalahkan kecintaannya terhadap kucing jepang yang sangat fenomenal tersebut. Berbanding terbalik dengan Aidan. Baru sebentar saja, Aidan sudah berani memerintahkan dirinya untuk melupakan Kitty-kittynya.


"Memangnya apa yang salah dengan Kitty-Kittyku?" tanya Maria.


"Itu sangat kekanak-kanakan, Maria! Kamu sudah dewasa dan sebentar lagi kita akan bertunangan kemudian menikah. Aku tidak mau ya kamu mempermalukan aku dengan semua benda-benda konyolmu yang sangat kekanakan itu!" sahut Aidan.


Maria sangat kesal ketika Kitty-Kittynya dikatakan seperti itu oleh Aidan. Ia menekuk wajahnya sambil berpikir keras.


"Aku akan buat kamu semakin ilfil padaku, Tuan Aidan! Jika kamu menginginkan diriku, maka kamu harus bisa menerima Kitty-Kittyku!" batin Maria.


Setelah beberapa saat, mobil yang di kemudikan oleh Aidan tiba di pusat perbelanjaan terbesar di kota mereka. Aidan kembali menuntun Maria yang masih mengenakan seragam putih abu-abu yang hanya di tutupi dengan jaket jeans ketat.


"Bukankah kita sudah pernah jalan kesini, Tuan Aidan? Kenapa hari ini kamu mengajakku ke tempat ini lagi?" tanya Maria.


"Sebenarnya aku ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang," jawab Aidan tanpa menoleh sedikitpun kepada Maria.


...***...

__ADS_1


__ADS_2