Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 280


__ADS_3

Setibanya di kediaman Tuan Dylan, kedatangan Maria disambut hangat oleh para penjaga yang sudah mulai mengenali dirinya sebagai tunangan majikan mereka.


"Selamat siang, Nona," ucap salah satu penjaga yang sedang bertugas di depan pagar sembari melemparkan senyuman hangat untuk gadis itu.


"Selamat siang juga. Tuan Dylan ada?"


"Loh, bukannya Tuan Dylan sedang bekerja, Nona. Saya kira Anda sudah tahu," sahutnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lagipula aku kesini bukan untuk Tuan Dylan, melainkan untuk Kakak perempuannya," sahut Maria sembari melepaskan helm kemudian menggantung benda tersebut di stang motor kesayangannya.


"Ta-tapi, Nona ...." Penjaga keamanan itu merasa khawatir. Ia takut wanita itu kumat kemudian menyakiti Maria yang mencoba mendekatinya.


Maria hanya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya memasuki halaman depan, dengan sebuah kue ulang tahun di tangannya. Salah seorang pelayan menghampirinya kemudian menawarkan jasanya untuk membawakan kue tersebut, tetapi Maria menolaknya.


"Biar saya bantu bawakan, Nona," ucap Pelayan itu.


"Tidak usah, Bi. Biar aku saja."


"Baik, Nona."


Pelayan itu mengikuti Maria hingga menuju kamar yang sedang di tempati oleh Kakak perempuan Dylan.


"Dia baik-baik saja 'kan, Bi?" tanya Maria.


"Ya, Nyonya baik-baik saja. Hari ini Nyonya terlihat lebih tenang, bahkan sangat tenang," sahut Pelayan sembari membukakan pintu ruangan itu.


Maria memperhatikan seorang wanita yang sedang duduk di tepian tempat tidurnya sambil melamun. Tatapannya kosong ke arah jendela kamar yang sengaja dipasang besi teralis.


Perlahan Maria menghampiri wanita itu walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, rasa cemas ituasih ada.

__ADS_1


"Kak?" panggil Maria yang kemudian mencoba duduk di samping wanita itu.


Sontak saja wanita itu menoleh kepada Maria dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Maria. Rasa khawatir dan cemas itupun kembali menghinggapi hati gadis itu. Ia takut wanita itu tiba-tiba saja mengamuk kemudian menyakitinya.


"I-ini aku, Maria. Kakak masih ingat 'kan?" ucap Maria dengan terbata-bata.


Wanita itu masih diam dan tatapan tajamnya masih tertuju pada Maria. Cukup lama ia dalam posisi seperti itu dan membuat Maria benar-benar ketakutan.


Namun, akhirnya ia tersenyum kemudian meraih tangan Maria. Senyuman hagay yang dilemparkan oleh wanita itu membuat hati Maria sedikit lebih tenang.


"Dimana Dylan?" tanyanya.


"Dylan sedang bekerja, Kak. Maria kesini bukan untuk Dylan, melainkan untuk Kakak. Kakak tau kenapa?" tanya Maria balik.


Maria terus tersenyum sambil menatap wanita itu dan sekarang hatinya sudah tenang. Tak ada rasa khawatir lagi di dalam hatinya.


"Hari ini ulang tahunku, Kak. Tapi, hari ini aku sedih. Semua orang melupakan hari istimewaku dan aku berencana ingin merayakan ulang tahunku sendirian saja. Tapi, tiba-tiba saja aku ingat sama Kakak. Dan aku pikir kenapa tidak merayakannya bersama Kakak saja," tutur Maria.


"Benarkah? Aku suka kue ulang tahun," sahut wanita itu.


"Ah, sebentar!" Maria meraih kue ulang tahun yang ia letakkan di samping tubuhnya kemudian memperlihatkan kue itu kepada Kakak perempuan Dylan.


"Nah, ini kuenya. Kita makan sama-sama ya, Kak!" ajak Maria dengan wajah semringah.


Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Ia memperhatikan Maria membuka kotak kue tersebut kemudian meletakkan lilin di atasnya.


"Sebentar ...."


Maria meminta pemantik kepada salah seorang pelayan dan tidak berselang lama pelayan itu kembali dengan membawa sebuah pemantik untuk Maria. Setelah menyalakan lilin tersebut, Maria pun mulai berdoa sebelum meniup lilin tersebut.

__ADS_1


Wanita itu memperhatikan Maria dengan seksama. Wajahnya benar-benar tenang dan dia terlihat bahagia saat Maria menemani dirinya.


"Doa apa yang kamu panjatkan, Nak?" tanya wanita itu sambil mengelus lembut punggung Maria.


"Aku mendoakan kesehatan untukmu, Kak. Dan semoga Tuhan mendengarkan semua doaku," sahut Maria.


Setelah memotong kue tersebut, Maria menyuapi wanita itu dengan lembut. Mata wanita itu nampak berkaca-kaca dan dengan senang hati ia menerima suapan dari Maria.


"Terima kasih, Nak."


Sementara itu.


Penjaga yang tadi sangat mengkhawatirkan keadaan Maria, segera menghubungi Dylan yang sedang berada di kantornya.


"Tuan Dylan, Nona Maria baru saja tiba disini dan dia sedang bersama Kakak Anda, Tuan."


"Apa?! Bagaimana bisa?!" pekik Dylan panik. "Baiklah, baiklah! Aku akan segera kembali. Oh, Tuhan ... semoga saja Kakak tidak melakukan hal yang aneh kepada Maria!" lanjutnya.


"Ada apa, Tuan Dylan?" tanya Mac yang kebingungan melihat Dylan.


"Maria ... gadis itu berkunjung ke rumahku dan sekarang ia malah menemui Kakakku. Dasar gadis aneh! Orang-orang ingin menghindari Kakakku, dia malah ingin mendekatinya! Apa itu tidak aneh namanya?" gerutu Dylan.


Dylan merapikan mejanya dengan tergesa-gesa. Setelah mejanya rapih, Dylan kembali mengenakan jasnya kemudian bersiap untuk kembali ke kediamannya.


Mac hanya bisa menatap kepergian Dylan yang melangkah dengan cepat menyusuri setiap ruangan di perusahaannya itu. Ia berharap Maria baik-baik saja dan ia setuju dengan ucapan Dylan, Maria memang gadis yang aneh.


...***...


Semoga author bisa Up lagi nanti malam. Soalnya si Dede rewel lagi, jadi Up nya lama 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2