
Disaat Erika ketakutan menghadapi Marcello dan anak buahnya. Marissa malah asyik berdiri diatas pohon sambil menggenggam ponsel milik Fattan di tangannya.
"Bagaimana, Marissa?" tanya Fattan dari bawah pohon sambil memegang tangga yang digunakan oleh Marissa untuk menaiki pohon tersebut.
"Gawat, Pak! Tuan Marcello sedang berada di rumahku. Ya, ampun! Semoga Erika dan Bi Ani tidak kenapa-napa," jawab Marisa sembari turun dari puncak pohon.
"Astaga ... kepalaku berputar!!!" gumamnya ketika melihat kebawah.
"Pelan-pelan, Marissa! Jangan lihat ke bawah, fokus ke langkah kakimu saja!" ucap Fattan cemas.
"Mau nelpon aja gini amat, ya! Nyari sinyal sampe naik pohon begini!" gerutu Marissa sembari menuruni tangga.
Sedangkan Fattan menahan tangga tersebut agar tidak jatuh. Lelaki itu terkekeh pelan sambil memperhatikan Marissa yang perlahan turun dari atas pohon.
"Beginilah hidup di desa terpencil, Marissa. Masih mending disini sudah ada sinyal walaupun harus berjuang untuk mendapatkannya," tutur Fattan.
Akhirnya dengan penuh perjuangan, Marissa berhasil menginjakkan kakinya kembali ke tanah.
"Fiuh! Akhirnya ...." Marissa menghembuskan napas lega.
"Mari," ajak Fattan.
Fattan kembali mengajak Marissa menaiki motor butut miliknya kemudian membawa gadis itu kembali ke desa kelahirannya. Ya, disaat ini Marissa dan Fattan sedang berada di desa tetangga yang sedikit lebih maju daripada desa kelahiran Fattan. Dan untuk menuju desa tersebut, mereka harus berkendara selama 30 menit dengan menggunakan motor butut tersebut.
"Maafkan aku, Marissa. Mungkin aku salah karena sudah mengajakmu ketempat terpencil seperti ini," ucap Fattan sambil melajukan motor bututnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak! Justru dengan berada disini, aku bisa belajar untuk lebih bersyukur lagi dengan kehidupan yang aku dapatkan ketika berada di kota. Berbagai macam yang aku keluhkan walaupun sebenarnya aku sudah hidup enak dengan fasilitas serba ada. Apapun yang diinginkan tinggal bilang, tapi disini ... hanya untuk mencari sinyal pun warga harus berjuang untuk mendapatkannya," tutur Marissa yang duduk tepat di belakang Fattan dan memeluk lelaki itu dari belakang.
Fattan terus menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya karena saat ini, ia dan Marissa benar-benar berada dalam jarak yang begitu dekat. Apalagi saat ini kedua tangan mulus Marissa sedang melingkar di pinggangnya.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya Marissa dan Fattan kembali ke desa kelahiran Fattan. Seperti kemarin, hari ini pun Marissa kembali menjadi pusat perhatian warga di desa tersebut. Wajah cantik dan tubuh yang nyaris sempurna, membuat gadis itu mendapat gelar 'Boneka Barbie' di desa tersebut.
"Lihatlah mereka, Marissa! Mereka semua melihat ke arahmu!" seru Fattan sambil terkekeh.
"Tapi mereka semua baik loh, Pak. Mereka begitu ramah dan tidak segan memberi bantuan kepadaku. Padahal aku adalah orang baru disini," tutur Marissa sembari melemparkan senyuman kepada warga desa yang terus menatapnya bahkan tanpa berkedip.
"Ya, karena kamu sendiri tidak sungkan bergaul dengan mereka," sahut Fattan.
Sore menjelang.
Marissa memperhatikan warga desa yang sedang mandi di aliran sungai nan jernih, tepat di depan rumah Ibu Nilam dari balik jendela bangunan sederhana tersebut. Sebenarnya ia sangat penasaran bagaimana rasanya mandi disana, tetapi ia merasa malu.
"Apa yang kamu lihat, Marissa?" tanya Fattan.
"Mandi di sungai sepertinya asik juga, ya!" seru Marissa sambil membayangkan dirinya mandi disana bersama warga desa.
"Yakin kamu berani mandi disana? Di sungai itu banyak binatangnya, loh!" goda Fattan.
"Binatang? Binatang apa?" tanya Marissa dengan wajah serius menatap lelaki itu.
"Banyak, ada ikan, kepiting, belut, bahkan ular pun ada," sahutnya.
__ADS_1
"Yang benar?!" pekik Marissa dengan mata membulat sempurna.
"He'em."
"Kalau begitu aku urungkan niatku mandi disana, aku takut!" seru Marissa.
Bu Nilam yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, segera menghampiri Fattan dan Marissa.
"Nak, mandi gih. Airnya sudah penuh," ucap Bu Nilam kepada Marissa.
"Baik, Bu."
Marissa pun bergegas menuju kamar mandi yang masih sangat sederhana itu dan segera melakukan ritual mandinya disana. Setelah mandinya selesai, Marissa bingung harus mengenakan apa. Sedangkan pakaian satu-satunya sudah sangat kotor dan harus segera di cuci.
"Ya, Tuhan! Hal ini terjadi lagi!" gumamnya.
Mengingat ketika pertama kali berada di Mansion, ia juga mengalami hal ini. Beruntung Bu Nilam mengerti, wanita paruh baya tersebut segera menghampirinya.
"Nak Marissa, Ibu cuma punya baju daster seperti ini loh, bagaimana?" tanya Bu Nilam sembari memperlihatkan daster miliknya kepada Marissa yang masih menutup tubuhnya dengan handuk.
"Ah iya, Bu. Tidak apa-apa. Daripada Marissa mengenakan handuk ini, 'kan bisa berabe," sahut Marissa sambil terkekeh pelan.
Marissa segera meraih daster tersebut kemudian mengenakannya. Setelah selesai berpakaian dan merapikan rambut indahnya, Marissa kembali ke ruang tamu, dimana Fattan masih menikmati teh manisnya.
"Bagaimana penampilanku, Pak Fattan? Sudah seperti gadis desa sesungguhnya, 'kan!" seru Marissa sambil tersenyum, memperlihatkan penampilannya kepada lelaki itu.
__ADS_1
Fattan pun terkekeh melihatnya. "Ya, kamu sudah seperti gadis-gadis disini, Marissa. Tetapi kamu yang jadi bunga desanya," seru Fattan.
...***...