
Maaf ya, Readers tersayang 🙏 Author gak bisa kasih Dian dan Joe bersatu karena disini Joe sudah ada jodohnya 😘😍💗 pokoknya seorang gadis yang bikin suasana hati Joe campur aduk, deh 😄. Kalo Dian emang udah Author gariskan buat Riyadh seorang ❤💗😂. Ok, Readers? Love you all 😘😘😘.
💗 Happy Reading 💗
"Jadi beneran, Om Joe tidak marah?" tanya Marissa lagi.
Joe terkekeh pelan kemudian perlahan lelaki dingin itu menggelengkan kepalanya.
"Tidaklah, Nona. Lagipula saya tidak pernah berharap Nyonya Dian bisa membalas perasaan saya terhadapnya."
Jawaban Joe saat itu membuat Marissa tenang. Ia tersenyum puas dan refleks menghambur ke pelukan Joe.
"Terima kasih, Om!"
Joe kelabakan karena Istri kecil kesayangan Tuan Marcello sedang memeluk tubuhnya. Dengan cepat, Joe melerai pelukan wanita muda itu.
"Sama-sama, Nona. Tapi saya mohon jangan peluk saya. Saya takut ada yang salah paham nantinya."
Marissa terkekeh, "Maafkan aku, Om. Saking bahagianya aku bahkan sampai memeluk Om."
"Ya, sudah. Sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda. Saya takut Tuan Marcello melihat Anda disini bersama saya kemudian salah paham," ucap Joe.
"Om benar. Sebaiknya aku kembali karena aku sudah terlalu lama meninggalkan Daddy sendirian di dalam kamar."
Tepat disaat itu, apa yang dikhawatirkan oleh Joe pun benar terjadi. Sosok Tuan Marcello sudah berada tepat di hadapan mereka berdua. Ekspresi wajah lelaki itu nampak berbeda dari biasanya dan hal itu membuat Joe merasa serba salah.
"Selamat malam, Tuan Marcello."
Marcello tidak menjawab. Wajahnya terlihat masam. Ia berjalan menghampiri Marissa dan menatap wajah Istri kecilnya itu dengan tatapan elangnya.
"Sudah waktunya kembali, Cha."
Marissa segera meraih tangan kekar Marcello kemudian memeluknya sambil melangkah bersama menuju kamar mereka. Sedangkan Joe hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memperhatikan Marcello dan Marissa yang kini berjalan menjauhinya.
"Apa Tuan Marcello melihat pelukan kilat yang dilakukan oleh Nona Marissa tadi, ya? Ah, aku harap tidak. Jika itu benar, maka karierku yang akan jadi taruhannya," gumam Joe.
Sementara itu.
"Kamu suka sama Joe, ya?!"
__ADS_1
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Marcello. Nada bicaranya terdengar ketus dan wajahnya pun masih masam, sama seperti sebelumnya.
"Hah?!"
Marissa bingung, mengapa tiba-tiba saja Marcello berkata seperti itu. Ia menautkan kedua alisnya sambil menatap lelaki itu.
"Maksud Daddy apa? Aku tidak mengerti,"
Marcello membuang napas kasar. "Sepertinya pertanyaanku sudah jelas, tinggal jawab saja, ya atau tidak. Beres, 'kan?" jawab Marcello.
Marissa semakin bingung mendengar jawaban dari Marcello. Ia mulai berpikir tentang pembicaraannya bersama Joe barusan dan ia begitu shok setelah sadar bahwa Marcello tengah cemburu padanya.
"Daddy cemburu, ya?!" tanya Marissa, masih menatap wajah Marcello yang sedang berjalan di sampingnya.
"Tidak!" ketus Marcello dengan kedua netra yang tetap fokus ke depan.
"Daddy melihatnya, ya? Aduh, maafkan Icha ya, Dad! Icha refleks memeluk Om Joe karena Icha begitu bahagia saat mendengar jawaban darinya," ucap Marissa.
Marcello menghentikan langkahnya kemudian diikuti oleh Marissa. Ia menatap lekat wajah Marissa lekat sambil mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" tanya Marcello serius.
Wajah Marcello memerah setelah mendengar jawaban dari Marissa. Ia yakin sekali bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Istri kecilnya itu.
"Kamu sudah belajar bohong dariku ya, Cha!" ketusnya.
Marissa terdiam sejenak sambil membalas tatapan elang Suaminya dengan wajah sendu. Bukankah ia sudah berjanji kepada Ibunya untuk tidak membicarakan masalah ini kepada Marcello.
"Sebenarnya Icha sudah janji tidak akan membicarakan masalah ini kepadamu, Dad."
"Katakan!" titahnya.
Marissa menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah memelas. Kemarahan Marcello sudah berada di ubun-ubun. Ia melenggang pergi dengan langkah begitu cepat meninggalkan Marissa.
"Daddy, tunggu!"
Jangankan berhenti, Marcello bahkan tidak ingin menoleh kearah Marissa. Ia malah mempercepat langkahnya hingga Marissa harus berlari kecil mengejar langkah kaki lelaki itu.
"Daddy, baiklah! Icha akan menceritakan semuanya!"
__ADS_1
Marissa meraih tangan Marcello dan berpegangan di tangan lelaki itu sambil mengatur napas. Marcello kembali menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan wajah Marissa yang kelelahan akibat mengejarnya. Marcello sebenarnya tidak tega melihat Istri kecilnya seperti itu, tetapi saat ini ia benar-benar sedang kesal karena Marissa sudah mulai berani menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sebenarnya, ini ada hubungannya dengan Ibu, Dad. Ibu dan Om Joe," jawab Marissa.
Marcello tidak menjawab. Ia mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih lanjut dari wanita itu.
"Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di kamar saja. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat,"
"Baiklah,"
Marcello mengangkat tubuh Marissa dan memboyongnya menuju kamar. Marissa tersenyum sembari mengalungkan tangannya ke leher Marcello.
"Daddy sudah tidak marah lagi 'kan sama Icha?"
"Tergantung dari ceritamu nanti," jawabnya.
"Percayalah, Dad. Ini tidak ada hubungannya antara aku dan Om Joe. Ini semua tentang perasaan Om Joe terhadap Ibuku,"
"Apa?!"
Marcello kembali menautkan kedua alisnya menatap Marissa.
"Nah, 'kan. Penasaran, kan?!" goda Marissa.
"Sebaiknya cepat ceritakan sebelum aku mati karena penasaran."
Marcello membuka pintu kamarnya kemudian melangkah menuju tempat tidur. Perlahan ia meletakkan tubuh Marissa disana dan ia pun turut duduk di samping wanita itu.
"Ayo, ceritakan sekarang!"
"Tapi janji, Daddy tidak akan membahas masalah ini kepada Om Joe!" tatapan Marissa tajam menatap lelaki itu.
"Ya, ya! Aku berjanji!"
"Sebenarnya Om Joe itu suka sama Ibu, Dad--"
"Apa?!" pekik Marcello.
...***...
__ADS_1