
"Apa kamu serius?" Marvel masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya, aku serius, Tuan. Bukankah tadi kamu ingin aku berkata jujur? Sekarang aku sudah mengatakan yang sebenarnya bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Tuan Muda Melvin."
Marvel melepaskan genggaman kedua tangannya di pundak Shakila sambil tersenyum tipis.
"Shakila, aku--"
Marvel terdiam sejenak sambil terus menatap wajah Shakila sedangkan gadis itu nampak serius memperhatikan.
"Aku menyukaimu, Shakila."
Shakila begitu terkejut mendengar pengakuan Marvel. Ia hampir tidak percaya dengan ucapan lelaki itu. Walaupun Shakila tau bahwa selama ini Marvel tidak pernah sekalipun berkata bohong.
"Tu-tuan, aku ...."
Shakila tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus senang atau malah sebaliknya.
"Aku serius, Shakila."
"Tapi kata Daddy ...." Ucapan Shakila tertahan.
"Apa yang dikatakan oleh Om Joe padamu, Shakila?"
Shakila menelan salivanya dengan susah payah. Ia ingin berkata jujur, tetapi ia takut Marvel akan marah.
"Shakila," Nada suara Marvel terdengar naik karena Shakila hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tuan Marvel. Tapi aku rasa, aku tidak pantas mendapatkannya. Keluarga kami hanya sebagai pengabdi untuk keluarga kalian dan tidak sepantasnya jika aku mengharapkan sesuatu yang melebihi batasanku," lirih Shakila.
"Astaga!" Marvel mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang ia tahu mengapa Shakila selalu menjaga jarak darinya.
"Kenapa pikiran kalian kolot sekali, Shakila? Daddy dan Mommyku tidak pernah menganggap kalian seperti itu. Bagi kami, kalian adalah bagian dari keluarga besar kami. Mommy bahkan sangat menyayangimu sama seperti dia menyayangi Maria," tutur Marvel.
Shakila terdiam dengan kepala tertunduk menghadap lantai di ruangan itu. Marvel meraih wajah Shakila yang tertunduk kemudian mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
"Shakila, Daddy ingin aku segera menikah dan Daddy bahkan sudah mempersiapkan calon untukku. Tapi aku tidak mau, aku akan menikah tetapi dengan gadis pilihanku dan aku ingin membawamu ke hadapan Daddy sebagai calon istriku. Bagaimana, Shakila?"
"Ta-tapi, Tuan. Aku--"
Ucapan Shakila terhenti karena Marvel menutup bibir gadis itu dengan jari-jemarinya.
"Aku tidak ingin mendengar kata tapi, Shakila," bisiknya dengan lembut di samping telinga gadis itu.
Marvel menyentuh dan mengelus bibir mungil Shakila dengan jari-jemarinya. Bibir yang dipoles dengan liptint berwarna pink tersebut terlihat begitu menantang dan membuat naluri Marvel sebagai seorang laki-laki bangkit. Ia ingin mencicipi bibir mungil itu, tetapi ia kembali teringat bahwa dirinya dan Shakila bukanlah pasangan halal.
Shakila hampir saja pingsan karena Marvel, sang lelaki pujaan, berada sedekat itu dengannya. Apalagi lelaki itu hampir saja menautkan bibir mereka berdua. Beruntung Marvel tidak jadi melakukannya, jika seandainya lelaki itu benar-benar menautkan bibir mereka, mungkin Shakila akan benar-benar jatuh pingsan.
Shakila lega sekaligus bangga karena Marvel masih bisa mengontrol hasratnya. Lelaki itu begitu menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita.
"Kak kila, kamu dimana?" Samar-samar terdengar suara Lea memanggil nama Shakila dari kejauhan.
"Ehm, maafkan aku, Tuan. Aku harus pergi," ucap Shakila sembari berlari kecil meninggalkan Marvel yang masih terdiam sambil memperhatikannya.
Beberapa hari kemudian.
__ADS_1
"Entah kenapa aku begitu penasaran sama si Om Udin. Dia beneran sudah kawin atau cuma bohongin aku aja, ya? Secara dia itu ganteng banget, aku jadi penasaran secantik apa istrinya, coba. Apakah istrinya jauh lebih cantik dan lebih imut dariku? Aku harus cari tahu! Kalau tidak, bisa-bisa aku mati gara-gara penasaran!" gumam Maria saat mengenakan seragam putih abu-abu kebanggaannya.
Setelah selesai berpakaian dan berhias ala-ala remaja, Maria pun bergegas meraih tas ransel serta kunci motor matic kesayangannya. Sambil berlari kecil, Maria menuju ruang makan. Dimana Mommy dan Daddynya sudah menunggu.
"Selamat pagi, Mommy, Daddy!"
Maria mencium kedua pipi Marissa kemudian beralih ke pipi sang Daddy yang sudah mulai keriput.
"Kami tidak dicium juga?" tanya Melvin sambil memperhatikan Maria yang melabuhkan ciuman di pipi tua Marcello.
"Gak ah," sahut Maria acuh.
"Kamu kejam!"
"Biarin!"
Sarapan pagi keluarga Marcello pun dimulai dan mereka berlima begitu menikmatinya. Setelah beberapa saat, sarapan mereka pun selesai. Sebelum Maria berangkat, Marcello mulai berucap kepada gadis itu.
"Hei, Gadis Daddy! Malam ini lelaki yang ingin melamarmu akan berkunjung ke mansion kita. Jadi, persiapkan dirimu," ucap Marcello.
"Apa?!" pekik Maria dengan netra membulat sempurna.
"Kenapa kaget begitu? Bukankah Daddy sudah pernah bilang sebelumnya bahwa Daddy akan segera menikahkanmu setelah sekolahmu usai," ucap Marcello dengan tenangnya.
"Astaga, Daddy apa-apaan, sih? Jadi, Maria tidak lanjut kuliah, begitu?"
"Kamu bisa lanjutkan kuliahmu setelah menikah. Lagipula yang akan menjadi suamimu 'kan bukan orang sembarangan," sahut Marcello.
__ADS_1
"Hhhh, Daddy ngeselin!" protes Maria.
...***...