
Zaid masih memperhatikan gerak-gerik lelaki itu dari dalam mobilnya. Hingga akhirnya lelaki itu pergi meninggalkan hotel dengan menggunakan taksi.
"Sabaiknya aku ikuti dia," gumam Zaid sambil menghidupkan mesin mobilnya dan mengikuti sebuah taksi yang sedang mengangkut seorang penumpang, yakni lelaki yang tadi kedapatan bersama Ibunya.
Selang beberapa saat Zaid mengikuti, taksi yang ditumpangi oleh lelaki itupun berhenti disebuah Cafe. Setelah membayar jasa angkutan, lelaki itu bergegas memasuki Cafe dan duduk di salah satu meja.
Zaid pun segera memarkirkan mobilnya dan perlahan masuk kedalam Cafe tersebut. Zaid berpura-pura seolah dia hanya pelanggan biasa, sama seperti lainnya agar lelaki itu tidak curiga bahwa sebenarnya ia mengikutinya. Zaid juga sempat memberikan senyuman untuk lelaki itu ketika melewati tempat duduknya dan lelaki itupun membalas senyumannya.
Zaid memilih sebuah meja yang berdekatan dengan meja lelaki itu agar ia bisa mengintai gerak-geriknya dengan baik. Tidak berselang lama, seorang wanita cantik dan seksi menghampiri meja lelaki itu. Dengan wajah semringah, wanita itu menciumi kedua pipinya. Begitupula lelaki itu, ia terlihat begitu bahagia ketika si wanita seksi datang padanya.
"Bagaimana, Sayang? Sudah ada uangnya?" tanya wanita itu dengan gaya yang sensual.
"Tentu saja, Sayang! Ini dia, taa daa ...!"
Lelaki itu memperlihatkan sebuah amplop berwarna coklat muda yang ia peroleh dari Ismika kepada wanita itu. Sang wanita begitu bahagia melihat amplop berisi uang dan segera meraihnya dari tangan pria itu. Ia membuka isi amplop tersebut kemudian mengeluarkan isinya sambil tersenyum lebar.
"Ya ampun, Sayang! Uangnya banyak sekali!" pekik wanita itu dengan wajah semringah.
"Tentu saja, Sayang. Kamu bisa gunakan uang itu untuk membeli apa saja yang kamu mau, tas, sepatu, pakaian dan apapun yang kamu suka," jawabnya.
"Terima kasih, Sayang!"
__ADS_1
Pasangan itupun berpelukan dengan begitu erat tepat dihadapan Zaid. Zaid begitu geram karena uang itu adalah uang yang baru saja lelaki itu peroleh dari Ibunya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Mamaku, lelaki bodoh!" gumam Zaid dengan rahang yang mulai menegas.
"Ternyata Ismika masih belum bisa move-on ya, dari kamu. Buktinya, ia masih bersedia memberikan uang banyak untuk kamu," tutur wanita itu.
"Ya, pastilah! Siapa sih yang sanggup menolak pesonaku ini? Kamu saja tidak sanggup jauh-jauh dariku, 'kan? Apalagi si bodoh Ismika! Wanita itu hanya butuh kehangatan, puaskan dia maka uangpun segera meluncur ke tanganmu," jawab laki-laki itu sambil tergelak.
Zaid benar-benar meradang. Ia sangat marah mendengar lelaki itu menjelek-jelekkan Ibunya. Ia bangkit dan segera menghampiri mejanya. Tanpa pikir panjang, Zaid mendaratkan sebuah tamparan keras ke wajah lelaki itu.
Wanita yang tadi menemani lelaki itu, berteriak histeris dan menjauh ketika melihat teman kencannya dipukul dan jatuh terjerembab ke lantai Cafe.
"Jangan pernah menghina Mamaku dengan mulut kotormu itu, lelaki hina!" teriak Zaid dengan emosi yang tidak tertahan lagi.
Lelaki itu sempat terkejut mendengar Zaid mengucapkan kata 'Mama' dan hal itu membuat ia sadar bahwa Zaid adalah anak dari Ismika. Ia tersenyum sinis menatap Zaid sembari bangkit dari posisinya.
"Owh, jadi kamu adalah anak dari wanita itu? Ismika, benar 'kan?"
"Ya! Aku adalah anak Ismika, wanita yang sudah kamu hina dengan mulut kotormu itu!" hardik Zaid.
Lelaki itu kembali menyeringai. "Kamu tidak perlu membela Ibumu, Bocah! Seandainya kamu tahu bagaimana kelakuan Ibumu, mungkin kamu pun akan malu mengakuinya sebagai Ibu."
__ADS_1
"Apa maksudmu?!"
"Asal kamu tahu saja, Ibumu adalah seorang wanita kesepian yang butuh kehangatan dari seorang laki-laki. Ia bahkan rela membayarku, asalkan aku memuaskan dirinya."
"Kurang ajar!"
Zaid kembali menyerang lelaki itu. Namun, lelaki itu tidak tinggal diam. Ia melawan dan terjadilah perkelahian di Cafe tersebut. Perkelahian terjadi cukup lama hingga keduanya dipenuhi luka lebam yang menghiasi wajah mereka.
Hingga akhirnya para Security di Cafe tersebut melerai perkelahian mereka. Lelaki itu memilih pergi bersama teman kencannya dan meninggalkan Zaid yang akhirnya menanggung semua biaya ganti rugi akibat perkelahian mereka.
Setelah membayar ganti rugi dan meminta maaf kepada sang pemilik Cafe, Zaid pun kembali melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya.
Disepanjang perjalanan, Zaid terus mengumpat kasar. Ia tidak percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Ayahnya ternyata benar. Selama ini Ibunya lah yang menjadi dalang atas kehancuran rumah tangga mereka.
Setibanya di kediamannya, Zaid bergegas memasuki bangunan megah itu dengan lengkah cepat. Ia sudah tidak sabar, ingin segera menemui sang Ibu dan meminta penjelasan sedetail-detailnya kepada wanita itu.
Akhirnya Zaid menemukan Ismika yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia menatap heran melihat wajah Zaid yang dipenuhi luka lebam. Dengan penuh cemas, Ismika menghampiri Zaid dan memperhatikan luka-luka itu.
"Zaid, kamu kenapa, Nak?!" tanya Ismika.
...***...
__ADS_1