
Di kantor, saat istirahat makan siang.
Marvel masih duduk di kursi kesayangannya sambil bersandar dengan mata terpejam. Sedangkan Melvin duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan saudara kembarnya itu.
Melvin ingin sekali menanyakan tentang perasaan Marvel kepada Shakila, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan mereka.
"Vel?"
"Ehm," gumam Marvel tanpa membuka matanya dan tetap pada posisinya.
Melvin kembali ragu untuk menanyakan masalah itu kepada Marvel. Ia terdiam, tetapi matanya masih tertuju pada saudara kembarnya. Karena Melvin hanya diam, Marvel pun penasaran. Ia membuka matanya kemudian menoleh kepada Melvin yang masih menatapnya.
"Kenapa, Vin?"
Melvin menghembuskan napas berat kemudian bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri jendela. Melvin berdiri sambil memperhatikan keramaian kota dari balik kaca ruangan itu.
"Vel, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Marvel menautkan kedua alisnya sambil menatap punggung Melvin yang kini berdiri membelakanginya.
"Tanya apa, Vin?"
"Tentang Shakila."
Jantung Marvel sempat berdebar kencang setelah mendengar Melvin mengucapkan nama Shakila.
"Shakila? Kenapa dengan Shakila?"
Melvin berbalik dan menatap tajam ke arah Marvel sambil tersenyum kecut.
"Apa kamu menyukainya, Marvel?"
Sudut bibir Marvel sempat naik setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Melvin.
__ADS_1
"Ya, aku menyukainya. Semua orang juga menyukainya karena Shakila gadis yang baik dan sangat sopan. Kamu juga menyukainya 'kan, Melvin?" jawab Marvel.
Melvin berjalan menghampiri Marvel kemudian duduk di meja yang ada di hadapan saudara kembarnya itu.
"Oh ayolah, Marvel! Jangan berpura-pura tidak mengerti apa maksudku. Kamu beneran suka 'kan sama Shakila? Jawablah pertanyaanku dengan jujur," ucap Melvin sambil tersenyum getir menatap Marvel.
Marvel terdiam sejenak sambil membalas tatapan Melvin. Marvel memperhatikan ke dalam bola mata Melvin dan ia tahu bagaimana perasaan saudara kembarnya itu.
"Tidak mungkin aku menyukainya, Melvin. Karena selama ini aku tahu bahwa kamu begitu tergila-gila padanya, bukan?"
"Kamu salah, Marvel. Kamu salah jika menganggap aku masih menyukai Shakila. Ya, aku akui bahwa dulu aku memang menyukai bahkan begitu tergila-gila pada seorang Shakila, tapi sekarang sudah tidak lagi. Setelah aku tahu bahwa Shakila tidak memiliki perasaan apapun padaku, sekarang aku mulai menjaga jarak darinya. Dan sekarang aku punya target baru, mau tau siapa?"
"Siapa?" tanya Marvel sambil menautkan kedua alisnya.
"Tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah mengatakannya kepada siapapun," ucap Melvin.
"Baiklah, aku berjanji."
Melvin mendekatkan wajahnya kepada Marvel kemudian mengatakannya sambil setengah berbisik. "Alifa Zea Sadiya."
"Ya!" jawab Melvin yakin, sambil melemparkan sebuah senyuman kepada Marvel.
Sebenarnya Marvel masih belum yakin dengan pengakuan Melvin, tetapi untuk menghormati saudara kembarnya itu, Marvel pun manggut-manggut saja.
"Alifa gadis yang baik, sama seperti Shakila."
"Tapi kalau menurutku Alifa jauh lebih agresip di banding Shakila, Marvel. Dan aku rasa, aku akan cocok jika berpasangan dengannya. Kami akan jadi pasangan ter'gesrek sedunia!" ucap Melvin sambil terkekeh pelan.
Marvel menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum kepada Melvin yang masih duduk di atas mejanya.
"Sebaiknya akui saja, Vel. Kalau kamu menyukai Shakila sebelum Daddy benar-benar memilihkan jodoh untuk kita dan menikahkan kita dengan wanita lain."
. . .
__ADS_1
Sementara itu. Di kediaman Dylan.
Dylan benar-benar tergolek lemah di atas tempat tidur mewahnya. Ia bersandar di sandaran tempat tidur dengan wajah yang masih memucat.
"Tuan Dylan, sebaiknya anda beristirahat selama satu atau dua hari lagi. Tetapi jika dalam dua hari kondisi Anda masih seperti ini, maka mau tidak mau Anda harus di rawat di Rumah Sakit," ucap Dokter sambil memperhatikan wajah pucat Dylan saat itu.
"Oh, jangan lagi, Dok. Aku tidak ingin ke Rumah Sakit lagi," jawab Dylan.
"Ya, mau bagaimana lagi? Anda sendiri sudah tahu bagaimana sensitifnya lambung Anda, tetapi Anda masih saja tidak bisa menjaga makanan yang masuk kedalam perut Anda, Tuan Dylan."
"Huft! Ini semua gara-gara gadis itu," gumam Dylan sambil mengusap wajahnya kasar.
Dokter itu sempat mendengar ucapan Dylan walaupun tidak terlalu jelas. Ia tersenyum dan sekarang ia tahu alasan yang sebenarnya kenapa lelaki itu kembali jatuh sakit.
"Ya, sudah. Saya permisi dulu, Tuan Dylan. Semoga besok atau lusa Anda sudah bisa kembali beraktifitas seperti semula."
Dokter itu mengulurkan tangannya kepada Dylan dan segera di sambut oleh lelaki itu.
"Harus, Dok! Aku harus sehat seperti sedia kala. Aku tidak ingin terus seperti ini apalagi harus di rawat di Rumah Sakit."
Setelah Dokter pamit pulang, Dylan pun kembali beristirahat dan mencoba memejamkan matanya. Baru beberapa detik Dylan memejamkan matanya, tiba-tiba saja Pak Udin tiba di depan kamarnya sambil menenteng ponsel bututnya yang sedang berdering keras.
"Ada apa, Pak Udin?" tanya Dylan.
"Gadis itu kembali menghubungi nomor ponsel saya, Tuan? Apakah saya harus menerima panggilannya atau tidak?"
"Sini, biar saya yang menerima panggilannya."
Dylan mengulurkan tangannya kepada Pak Udin kemudian lelaki paruh baya yang baru saja sembuh dari sakitnya itu segera menyerahkan ponselnya kepada Dylan.
"Ini, Tuan."
Dylan segera menerima panggilan Maria dan mendengarkan celotehan gadis itu dari seberang telepon.
__ADS_1
"Om? Om Udin kemana aja, sih? Sudah puluhan kali aku menghubungi nomor ponselmu, tetapi panggilanku selalu ditolak!" kesal Maria.
...***...