
Marcello menatap tempat tidurnya yang kini berubah 180 derajat. Tak ada lagi tempat tidur mewah dan megah seperti miliknya. Yang ada hanya sebuah ranjang kayu berukuran kecil dan di atasnya terdapat sebuah kasur yang berukuran sama.
"Huh! Ayo, Marcello. Yakinlah, kamu pasti bisa melewati ini!" gumamnya sambil bersiap merebahkan tubuhnya ditempat itu.
Marcello berjalan menghampiri ranjang tersebut kemudian mulai merebahkan tubuhnya disana.
"Awal yang baik dan sepertinya aku akan baik-baik saja disini!" ucap Marcello sambil tersenyum sinis.
Marcello mulai mencari posisi enak dengan membolak balikkan badannya. Namun, ia tetap tidak bisa menemukan posisi nyamannya tersebut. Mungkin dikarenakan oleh kasur yang sudah mulai usang atau mungkin karena lelaki itu memang belum terbiasa.
"Ya, Tuhan! Kasur ini keras sekali. Mana mungkin aku bisa tidur kalau seperti ini," gumamnya sambil menepuk-nepuk kasur tersebut.
Belum lagi ranjang tersebut terus mengeluarkan bunyi 'Krek-krekk' disaat ia bergerak. Marcello penasaran dengan bunyi tersebut dan mulai iseng menggerak-gerakkan tubuhnya dengan berbagai macam gaya. Hingga akhirnya,
Brakkk ...
Ranjang kayu tersebut roboh bersama Marcello didalamnya.
"Akh, pinggangku!" pekiknya.
Dengan penuh perjuangan, Marcello mencoba bangkit dan keluar dari reruntuhan ranjang kayu tersebut.
"Joe!!!" teriaknya.
Lelaki itu bahkan lupa bahwa dirinya sudah memerintahkan Joe dan para Bodyguardnya pulang terlebih dahulu.
"Astaga, aku lupa bahwa Joe sudah pulang," gumam Marcello sambil mengelus pinggangnya yang masih terasa sakit. Ia berjalan menghampiri kemeja yang tergantung dibalik pintu dan mencari benda pipih kesayangannya.
Ia mencoba menghubungi Joe dan kesialan kembali menimpanya. Tak ada sedikitpun sinyal di desa tersebut dan hal itu membuat Marcello semakin panik.
"Oh Tuhan, bagaimana ini!" gumamnya sambil memijit keningnya.
__ADS_1
"Harus bisa! Aku harus bisa bertahan disini demi Marissa."
Lelaki itu meletakkan kembali ponselnya kemudian mengambil kasur yang terjebak di antara reruntuhan ranjang kayu tersebut. Ia membawa kasur lusuh itu ke samping pintu dan menggelarnya di sana.
Keesokan harinya.
Setelah selesai makan siang, Marissa dan Fattan duduk bersantai di depan teras rumah sambil memperhatikan Erika yang sedang bermain air bersama anak-anak sekitar rumah Fattan.
"Pak Fattan, sebaiknya aku pergi saja dari sini," lirih Marissa dengan kepala tertunduk.
"Loh, pergi kemana, Marissa?" tanya Fattan panik.
"Kemana saja. Aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi."
Fattan meraih tangan Marissa kemudian menggenggamnya dengan erat. "Kamu tidak pernah menyusahkan siapapun, Marissa. Aku dan Ibu tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Tetaplah disini, ku mohon!"
Fattan menatap lekat mata indah milik Marissa yang mulai berkaca-kaca. Tanpa mereka sadari seseorang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan sendu. Erika, gadis itu cemburu melihat kedekatan Fattan dan Marissa.
"Kakak. Ayo, kita main lagi!" ajak seorang anak kecil yang sejak tadi bermain bersamanya. Anak kecil itu menarik-narik tangan Erika yang terdiam memperhatikan kebersamaan Fattan dan Marissa di teras rumah dengan wajah sendu.
Erika tersadar kemudian menoleh kepada anak kecil tersebut, "Baiklah," sahut Erika sambil tersenyum kecut.
Dari kejauhan nampak Marcello melenggang menuju kediaman Bu Nilam dengan berjalan kaki. Erika, orang pertama yang sadar akan keberadaan lelaki itu segera berlari menghampiri Fattan dan Marissa. Gadis itu panik sekaligus ketakutan. Ia takut Marcello melakukan sesuatu kepada Fattan dan Bu Nilam.
"Ada Tuan Marcello, ada Tuan Marcello!!!" ucapnya panik.
"Apa?! Mana, dimana?!" tanya Marissa yang tidak kalah paniknya.
"Disana!!!" tunjuk Erika dengan wajah pucat.
"Astaga! Ternyata lelaki itu masih disini?!" pekik Marissa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana ini? Aku takut," ucap Erika tanpa sadar memeluk tubuh si Dosen tampan. Fattan hanya bisa mengelus kepala gadis itu tanpa melerai pelukannya.
"Kamu tenang saja, Erika! Lelaki itu tidak akan berkutik denganku, lihat saja nanti."
Marissa menyingsingkan lengan baju dasternya dan bersiap menghadang kedatangan lelaki itu.
"Hai, Icha!" sapa Marcello ketika ia sudah berdiri di hadapan gadis itu.
"Tuan Marcello, bukankah kemarin sudah jelas saya katakan dengan jelas bahwa saya tidak ingin pulang bersama Anda. Kenapa sekarang Anda datang lagi?!" tanya Marissa sambil memperhatikan wajah menyedihkan lelaki itu.
Wajah Marcello terlihat pucat, karena tadi malam ia tidak bisa tidur. Selain karena cuaca yang terasa panas, nyamuk pun senang sekali mengerumuni tubuhnya. Terlihat jelas totol-totol merah yang menghiasi kulitnya yang putih bersih.
"Karena Putri kesayangan Daddy tidak ingin pulang, maka Daddy pun akan tinggal disini," sahutnya tanpa beban.
"Apa?!" pekik Marissa.
"Ya, Daddy akan tinggal di desa ini sampai kamu bersedia pulang bersama Daddy!"
"Ya, Tuhan!" gumam Marissa sambil memijit pelipisnya.
Marissa menarik tangan Erika dan Fattan secara bersamaan. Ia membawa kedua orang itu masuk kedalam rumah.
"Apa ini hanya perasaanku saja, sepertinya Tuan Marcello sudah gila?!" ucap Marissa sambil mengintip lelaki itu dari balik jendela. Ternyata Marcello menyadari bahwa Icha kecilnya sedang mengintip dari balik jendela. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.
"Kalian lihat dia? Dia tidak pernah tersenyum konyol seperti itu sebelumnya dan hal ini benar-benar membuat aku takut!" sambung Marissa.
"Ya, Tuan Marcello sepertinya memang sudah gila dan kamu lah yang sudah membuat dia gila, Cha. Apa kamu tidak lihat sorot matanya? Sepertinya dia jatuh cinta padamu, hanya saja dia tidak tahu cara mengungkapkannya isi hatinya padamu," tutur Erika.
Fattan dan Marissa sontak terdiam setelah mendengar penuturan gadis itu.
...***...
__ADS_1