
Tak terasa usia kandungan Sofia sudah memasuki bulan ke-lima sedangkan usia Shakira sudah hampir 7 bulan.
Saat itu Shakila diajak oleh Marissa bermain bersama Marvel di ruang utama. Sedangkan Melvin lagi bermain di halaman depan mansion bersama sang Babysitter. Marissa memperhatikan Marvel yang begitu menjaga sosok Shakila. Bahkan bocah tampan itu tidak ingin Shakila jauh-jauh darinya.
"Aka Marvel dandi akan daga Dede. Aka dak akan bialkan tiapapun dahatin Dede," tuturnya sembari mengusap pipi chubby Shakila yang sedang duduk di hadapannya. Kebetulan saat ini Baby Shakila sudah bisa duduk sendiri.
(Kakak Marvel berjanji akan menjaga Dede. Kakak tidak akan membiarkan siapapun jahatin Dede)
Marissa mengerutkan alisnya ketika mendengar ocehan polos bocah tampannya itu. Ini pertama kalinya Marvel bicara sebanyak itu. Biasanya hanya sepatah, dua patah kata saja.
Shakila pun seolah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Marvel. Shakila tersenyum lebar, ia memperlihatkan dua gigi susu yang baru saja tumbuh dan terlihat sangat menggemaskan.
"Da ... da ..." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Mereka terlihat lucu ya, Mbak," ucap Marissa kepada Babysitter yang bertugas menjaga Shakila.
"Iya, Nona. Mereka seolah saling mengerti, ya," jawabnya sambil tersenyum melihat aksi kedua bocah tersebut.
Sementara itu.
Sofia sedang bersiap-siap berangkat menuju tempat praktek Dokter Kandungan. Hari ini jadwal Sofia memeriksakan kandungannya. Karena selama trimester pertama Sofia disarankan untuk beristirahat total, ia sama sekali tidak pernah melakukan pemeriksaan USG sebelumnya.
"Sudah?" tanya Joe ketika sang Istri menghampirinya.
__ADS_1
"Ya," jawab Sofia dengan wajah semringah.
Joe menggandeng tangan Sofia kemudian menuntun istri kecilnya menuju halaman depan. Ketika melewati ruang utama, pasangan itu sempat berhenti sejenak sembari menyapa Marissa yang sedang menemani Shakila dan Marvel bermain.
"Mau kemana, Om?" tanya Marissa.
"Memeriksakan kandungan Sofia, Nona." sahut Joe sambil tersenyum hangat.
"Wah, kalau nanti jenis kelamin bayinya sudah ketahuan, jangan lupa kasih tau aku, ya!"
"Tentu saja, Nona."
Baby Shakila yang tadi sedang asik bermain bersama Marvel, setelah mendengar suara Joe, segera berbalik dan mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
Shakila ingin Joe mengangkat tubuh mungilnya. Selama Sofia beristirahat total, Joe lah yang menggantikan posisi Sofia sebagai Ibu sekaligus Ayah untuknya.
Joe menghampiri Shakila kemudian mengangkat tubuh mungilnya sambil tersenyum lebar.
"Putri Daddy tunggu disini saja ya bersama Kak Marvel. Daddy janji tidak akan lama," ucap Joe sembari mencium kedua pipi mungilnya.
Marvel berdiri di samping kaki Joe kemudian mendongak kepada lelaki itu. "Dangan bawa Dede Kila ya, Om Do."
Joe tersenyum kemudian menyerahkan baby Shakila kepada Marissa kemudian berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan bocah tampan itu.
__ADS_1
"Om tidak akan ajak Dede Kila karena Dede kila 'kan milik Tuan Muda Marvel," goda Joe.
Marvel pun tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari Joe. Joe dan Sofia pun pamit meninggalkan Marissa, Marvel dan Shakila di ruangan itu.
Wajah Shakila sendu dengan bibir bawah yang terlihat lebih maju dari bibir atasnya. Bayi mungil itu sedih saat Joe dan Sofia meninggalkannya. Sadar akan hal itu, Marissa pun segera menghiburnya degan berbagai mainan yang menghambur disana.
Sofia dan Joe sudah berada di dalam mobil dengan seorang Bodyguard sebagai sopir pribadi mereka hari ini.
Sofia menyandarkan kepala ke dada bidang Joe sedangkan lelaki itu memeluk tubuh Sofia sambil mengelus puncak kepalanya.
"Mas, nanti jika anak kita sudah lahir aku ingin kita memiliki rumah sendiri. Biarpun kecil dan sederhana, tetapi kita akan lebih tenang bersama anak-anak kita nantinya."
Joe menoleh kepada Sofia kemudian menatap lekat kedua bola mata wanita itu. "Apa kamu sudah merasa tidak nyaman tinggal di mansion bersama kelurga Tuan Marcello?" tanya Joe.
"Bukan seperti itu maksudku, Mas. Hanya saja aku ingin kita punya rumah sendiri. Dimana hanya ada aku kamu dan anak-anak kita," tutur Sofia.
Joe menghembuskan napas berat. "Seandainya Tuan Marcello mengizinkan aku pergi meninggalkan mansion, mungkin sudah lama aku punya rumah sendiri. Namun, Tuan Marcello tidak pernah mengizinkan aku meninggalkan mansion. Baginya, aku adalah keluarganya, Sofia. Tuan Marcello hanya memiliki aku dan akupun sudah menyayangi lelaki itu seperti adikku sendiri. Aku tidak tega meninggalkan dirinya sendirian di tempat ini," jelas Joe.
"Tapi, aku akan mempertimbangkan kembali permintaanmu. Aku akan mencoba mengajaknya bicara, siapa tahu dia mengizinkan kita memiliki rumah sendiri," lanjut Joe.
"Aku yakin Tuan Marcello pasti mengizinkannya karena sekarang ia sudah memiliki keluarga yang sebenarnya. Ada Nona Marissa, si Kembar tampan dan juga Tuan Riyadh beserta Nyonya Dian dan Arsya."
"Ya, semoga saja."
__ADS_1
...***...