
"Zaid, Papa punya kabar baik. Apa kamu ingin mendengarnya?" tanya Riyadh dengan wajah berseri-seri menatap anak lelakinya itu.
Zaid menautkan kedua alisnya sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan Riyadh dan Dian di ruangan itu. Setelah pasangan itu duduk di sofa yang sama sepertinya, Zaid pun membalas ucapan sang Ayah.
"Apa itu, Pa?" tanya Zaid penasaran.
"Tidak lama lagi keluarga kecil kita akan kedatangan seorang anggota baru,' jawab Riyadh setengah-setengah agar Zaid semakin penasaran.
Zaid nampak berpikir. Ya, apa yang dikatakan oleh Riyadh memang benar, mereka akan kedatangan anggota baru yaitu kedua anak kembar Marissa.
"Calon keponakanku 'kan, Pa? Anak-anaknya Marissa," ucap Zaid masih dengan alis yang saling bertautan.
"Bukan, Zaid. Bukan mereka, tetapi kita akan kedatangan anggota baru selain si Kembar itu. Coba tebak siapa?" goda Riyadh sambil memeluk tubuh Dian yang duduk di sampingnya.
Dian hanya diam sambil terus memperhatikan ekspresi wajah Zaid. Ia takut Zaid marah atau malu setelah mendengar berita itu.
"Siapa sih, Pa? Papa suka bikin penasaran deh," ucap Zaid sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Riyadh kembali melebarkan senyumnya kemudian mengelus perut Dian dengan lembut.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Kakak untuk bayi yang sedang dikandung oleh Mama Dian."
Jantung Dian berpacu dengan sangat cepat. Ia begitu gugup menunggu ekspresi anak lelaki suaminya itu.
Zaid mengembangkan senyumnya. Ia bahkan membulatkan matanya setelah mendengar ucapan sang Ayah.
"Benarkah? Apa kalian serius?" pekiknya setengah tidak percaya.
"Ya, itu benar dan kami sangat serius," jawab Riyadh.
__ADS_1
Zaid bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri sang Ayah dan memeluknya dengan erat.
"Selamat, Pa. Aku sangat senang mendengarnya."
Mata Dian berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa Zaid akan menerima kehamilannya dengan suka cita.
"Benar 'kan apa kataku. Zaid pasti senang mendengarnya," tutur Riyadh sembari merengkuh pundak Dian.
"Selamat ya, Ma. Zaid senang kok mendengarnya. Akhirnya rumah ini akan semakin ramai dengan kehadiran bayi kalian," ucap Zaid sembari menghampiri Dian.
. . .
Karena saking senangnya, Zaid bahkan iseng memberitahu Marissa tentang kehamilan Mama Dian. Tanpa sepengetahuan Riyadh dan Dian, diam-diam Zaid menghubungi adik perempuannya itu.
Saat itu Marissa tengah menemani Marcello di ruang pribadinya. Sebenarnya wanita itu bukan menemani suaminya yang sedang sibuk, malah sebaliknya. Pekerjaan Marcello terganggu karena Marissa terus saja menciumi wajah lelaki itu tanpa henti.
Jangankan peduli, ia terus saja menciumi wajah suaminya tanpa mempedulikan ekspresi Joe yang kini duduk di tepat di depan mereka. Walaupun ia sudah terbiasa dengan sikap konyol Marissa dan Marcello, tetapi ia tetap saja merasa risih jika di hadapkan dengan adegan hot pasangan itu.
Jiwanya pun ikut meronta-ronta dan ingin merasakan hal yang sama. Beruntung sekarang ia sudah bukan jomblo akut lagi. Ada Sofia yang kini menjadi sasaran empuknya.
Di saat Marissa masih mengganggu pekerjaan suaminya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Ponselmu berdering, Cha. Apa kamu tidak ingin menerima panggilan itu?" ucap Marcello sembari melirik ponsel milik Marissa yang tergeletak di atas mejanya, tepat di samping paha wanita itu.
Marissa menghentikan aksinya kemudian meraih ponsel tersebut. Ia memperhatikan tulisan yang tertera di layar ponselnya dan ternyata nama Zaid lah yang kini terpampang.
"Kak Zaid?" gumam Marissa yang kemudian segera menerima panggilan itu.
Marissa turun dari meja Marcello kemudian berjalan menuju sofa, yang letaknya tidak jauh dari meja kerja suaminya. Marcello menghembuskan napas lega karena untuk sementara ia terbebas dari Macan Bunting yang lagi 'rese' tersebut.
__ADS_1
"Ya, Kak?!"
"Marissa, aku punya kabar baik untukmu," ucap Zaid sambil terkekeh pelan di seberang telepon.
"Benarkah? Kabar baik apa itu, Kak?" tanya Marissa dengan wajah semringah. Ia penasaran berita baik seperti apa yang akan di beritahukan oleh Zaid kepadanya.
"Marissa, sebentar lagi kita akan menjadi Kakak buat Dede bayi yang sedang dikandung oleh Mama Dian," ucap Zaid penuh semangat.
"Apa?! Hamil?!" pekik Marissa sambil membulatkan matanya.
"Ya, Mama sedang hamil," jawab Zaid.
Wajah Marissa tiba-tiba saja murung dan tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Marissa tidak bisa bicara apapun lagi. Ia benar-benar terkejut setelah tahu bahwa Ibunya tengah mengandung sekarang. Marissa terus mendengarkan celotehan Zaid yang terdengar sangat bahagia hingga akhirnya panggilan mereka pun terputus.
Ekspresi wajah murung Marissa membuat Marcello menjadi penasaran.
"Kenapa, Cha?" tanya Marcello yang masih duduk di kursi kesayangannya.
"Ibu hamil, Dad."
Marcello membulatkan matanya mendengar ucapan Marissa. Ia pun ikut bahagia karena akhirnya pasangan itu mendapatkan momongan untuk yang kedua kalinya. Namun, kali ini mungkin lebih spesial karena mereka mendapatkannya ketika usia mereka yang sudah tidak lagi muda.
"Baguslah kalau begitu. Aku pun sangat senang mendengarnya. Tapi, kenapa wajahmu sendu begitu, Cha? Apa kamu tidak senang mendengarnya?"
"Aku takut, Dad. Aku takut Ayah dan Ibu tidak akan mempedulikan aku lagi setelah mereka memiliki bayi itu," lirih Marissa.
"Ya, biarkan saja mereka. Lagipula, kamu 'kan sudah punya aku yang akan selalu mempedulikan dirimu sampai kamu sendiri merasa bosan karena terus aku perhatikan," goda Marcello sambil terkekeh.
...***...
__ADS_1