Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 57


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu, apa aku sudah terlihat tampan?" tanya Marcello sambil menatap bayangan dirinya didalam cermin.


"Ya, Tuan. Anda sangat tampan," sahut Joe dengan wajah pasrah.


Entah in setelan yang ke berapa yang disarankan oleh Joe, tetapi selalu dikatakan jelek oleh Tuan Marcello. Dengan wajah malas, Joe memperhatikan Marcello yang masih melenggak-lenggok di depan cermin, untuk memastikan bahwa penampilannya saat itu terlihat sempurna.


"Tuan, sebaiknya kita segera berangkat. Perjalanan yang kita tempuh untuk menuju desa itu cukup memakan waktu dan melelahkan," ucap Joe.


"Ehm, baiklah. Tapi kamu benar-benar tidak bohong 'kan bahwa saat ini aku terlihat keren?"


"Ya, Tuan. Saya berani disambar geledek jika saya berbohong," sahut Joe.


Jawaban Joe membuat Marcello terkekeh. Ia tahu bahwa Asistennya itu sudah mulai bosan menemaninya memilih pakaian.


"Mari, Joe. Kita berangkat!" titahnya sembari merapikan setelan jasnya.


Dengan senang hati, Joe mengikuti langkah kaki Big Bossnya tersebut.


Sementara itu di Desa.


Marissa dan Erika sedang menikmati jalan-jalan pagi sambil menikmati keindahan alam pedesaan. Kehadiran kedua gadis cantik itu menjadi pusat perhatian para warga desa.


"Wah, pantas saja kamu betah tinggal disini. Ternyata tempat ini sangat indah ya, Cha," ucap Erika.


"Ya, dan yang pasti disini aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan. Tidak ada peraturan yang harus patuhi, aku bisa melangkahkan kakiku kemanapun aku mau tanpa harus meminta izin pada seseorang," jawabnya.


Erika tersenyum sambil melirik sahabatnya itu. Ia merengkuh pundak Marissa kemudian berjalan bersamanya.


"Kamu tahu, Icha sayang. Sebenarnya aku kasihan sama Tuan Marcello. Dia begitu frustrasi dan aku bisa lihat itu dari sorot matanya. Dia benar-benar kehilangan dirimu, Cha." Erika menatap wajah cantik sahabatnya itu dengan tatapan sendu.


Marissa tersenyum sinis. "Aku tidak peduli, lagipula aku bukan siapa-siapanya! Aku hanya anak pungut yang dia ambil dari panti." Marissa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dadanya kembali sesak jika teringat akan jadi dirinya.

__ADS_1


"Yang sabar ya, Cha." Erika mengelus lembut punggung Marissa agar sahabatnya itu kembali bersemangat.


"Tidak ada gunanya aku tinggal bersama mereka. Mereka akan segera menikah dan punya anak. Dan setelah anak mereka lahir, aku pasti tersingkir dan Tuan Marcello pun pasti akan melupakan aku," tutur Marissa.


"Mereka siapa?" tanya Erika dengan wajah heran menatap Marissa.


"Tuan Marcello dan Nona Sarrah, siapa lagi?!" jawab Marissa kesal karena sahabatnya itu tidak juga mengerti apa yang sedang ia bicarakan.


"Kamu belum tahu ya, Cha? Tuan Marcello membatalkan pertunangannya dengan Nona Sarrah dan hal itu kini viral di sosmed. Status dan cuitan wanita itu tentang hubungannya bersama Tuan Marcello yang kandas di tengah jalan menjadi tranding topik, loh!" ujar Erika.


"Hah, kamu serius? Ja-jadi Tuan Marcello sudah tidak lagi berhubungan dengan wanita penyihir itu?!" tanya Marissa dengan setengah tidak percaya.


"Hmm, belum juga setahun tinggal di desa, kamu sudah kudet, Cha!" sahutnya.


"Tapi, kenapa?!" tanya Marissa penasaran.


"Entahlah. Apa mungkin ada hubungannya dengan kepergian dirimu ya, Cha? Ya, bisa saja 'kan, karena Marcello lebih memilih mencari keberadaanmu dan mengabaikan wanita itu, hingga akhirnya hubungan mereka kandas," tutur Erika.


"Hati seseorang, siapa yang tahu, Cha!" ucap Erika sambil menepuk pundak Marissa.


***


Setelah melewati perjalanan yang begitu melelahkan akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Joe tiba di perbatasan desa tersebut.


"Masih jauh lagi kah, Joe?! Aku akan muntah kalau berlama-lama disini!" kesalnya sambil memukul jok mobil.


"Lumayan, Tuan. Apalagi jalan yang akan kita lewati didepan rusak parah dan memakan waktu lebih lama lagi menuju kediaman Ibunya Dosen itu," tutur Joe.


"Ya ampun! Percuma saja aku berpenampilan sekeren ini, kalau cuma duduk diam didalam mobil seharian penuh! Dan ketika Marissa melihatku, aku sudah terlihat berantakan, sialan!" kesalnya.


Joe hanya diam, ia tidak berani menjawab ucapan Tuan Marcello yang sedang kesal tersebut. Disepanjang perjalanan, lelaki itu terus mengumpat kasar, ia tidak menyangka bahwa perjalanan yang ia tempuh memang benar-benar membutuhkan kesabaran tingkat dewa.

__ADS_1


"Seandainya bukan untuk Icha, aku tidak akan pernah sudi melewati jalan ini!" hardiknya.


Joe terkekeh pelan mendengar umpatan lelaki itu.


"Seandainya bukan perintah dari Anda, maka saya pun tidak ingin menempuh perjalanan yang sangat melelahkan ini," sahut Joe dalam hati.


Setelah satu jam perjalanan, mereka pun tiba di desa tersebut. Marcello menghembuskan napas lega karena akhirnya ia terbebas dari perjalanan yang membuat emosinya meningkat.


Joe menghentikan mobilnya tidak jauh dari kediaman Bu Nilam. Ia bergegas membukakan pintu mobilnya untuk Marcello.


"Bagaimana penampilanku, Joe? Apa aku masih terlihat keren?!" tanya Marcello sambil merapikan setelan yang ia kenakan.


"Ya, Tuan. Anda masih terlihat keren," sahut Joe.


"Baguslah! Sekarang saatnya kita bawa pulang Icha kecilku,"


Marcello melangkahkan kakinya menghampiri bangunan sederhana tersebut kemudian memperhatikan sekelilingnya.


"Kasihan Icha'ku, bagaimana bisa ia tinggal ditempat seperti ini?!" gumamnya.


Sementara itu,


Para penghuni rumah tersebut sedang menikmati makan malam sederhana mereka. Erika begitu lahap menikmati makanan sederhana ala Bu Nilam. Walaupun makanan yang mereka santap bukanlah makanan mewah, tetapi kebersamaan merekalah yang membuat makanan itu terasa semakin nikmat.


"Makan yang banyak ya, Nak!" ucap Bu Nilam. Ia begitu senang melihat Erika yang begitu lahap memakan masakannya.


"Tentu saja, Bu! Sambal terasi ala Bu Nilam benar-benar maknyoss!" sahut Erika dengan mulut penuh.


Sedangkan Fattan terus memperhatikan Marissa yang masih menikmati makan malamnya. Entah mengapa, ia tidak pernah bosan menatap gadis itu walaupun penampilannya sekarang ini sangat sederhana sekali.


...***...

__ADS_1


__ADS_2