Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 168


__ADS_3

Sebulan kemudian.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya."


Joe mengecup puncak kepala Sofia sembari mengelus perut istri kecilnya yang masih rata. Hari ini usia kandungan Sofia sudah memasuki minggu ke-delapan. Joe sangat bahagia, begitupula Sofia.


"Hati-hati dijalan ya, Mas. Jangan ngebut!" balas Sofia.


"Ya."


Joe melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka. Namun, baru saja lelaki itu menyentuh gagang pintu kamar tersebut, ia kembali berbalik dan menatap Sofia.


"Ingat, Sayang. Jangan melakukan pekerjaan berat atau apapun itu. Kamu harus ingat pesan Dokter bahwa kandunganmu masih sangat lemah dan sebaiknya kamu istirahat saja. Mengerti?" ucap Joe dengan wajah serius menatap Sofia.


Ia khawatir Sofia melakukan pekerjaan berat seperti sebelumnya karena wanita itu memang tidak pernah mau diam.


"Ya, tentu saja, Sayang. Aku akan ingat itu," jawab Sofia sembari memberikan kiss bye untuk suaminya.


Joe terkekeh pelan kemudian kembali meneruskan langkahnya menuju halaman depan Mansion. Setibanya di sana, ternyata pasangan fenomenal itu belum kelihatan batang hidungnya. Mereka masih asik menikmati sarapan mereka di ruang makan.


Joe melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya sambil  bergumam. 


"Beruntung aku tiba lebih dulu disini. Kalau tidak, aku pasti kena bully lagi oleh pasangan fenomenal itu. Bisa-bisanya mereka menggodaku dan mengatakan macam-macam tentangku, padahal mereka adalah pasangan ter-mesum yang pernah aku temui di dunia ini."


Joe terkekeh pelan sembari memperhatikan sekelilingnya. Baru saja ia membicarakan pasangan fenomenal itu, ternyata mereka sudah muncul sambil bergandeng mesra.


"Tumben kamu tidak terlambat, Joe? Biasanya 'kan uwu-uwu'an dulu sama Sofia.  benar 'kan, Cha," goda Marcello.


"Benar, Daddy," timpal wanita berperut buncit tersebut.


Joe hanya bisa menghembuskan napas berat kemudian membukakan pintu mobil untuk Marcello.

__ADS_1


"Terlambat, tidak terlambat, ternyata aku tetap di goda oleh mereka, sial!" umpat Joe dalam hati.


Setelah Marcello masuk ke dalam mobil, Joe pun segera menyusul dan melajukan mobilnya. Meninggalkan Marissa yang masih berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


"Tidak terasa usia kandungan Marissa sudah memasuki bulan ke-7. Sebentar lagi aku dan Marissa ingin mengadakan acara tujuh bulanan di Mansion dengan mengundang anak-anak panti asuhan, dimana aku mengadopsi Marissa dulu," tutur Marcello.


"Itu ide bagus, Tuan. Saya pun senang mendengarnya," sahut Joe sambil terus fokus pada kemudinya.


Sementara itu di mansion.


Sofia sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel barunya. Ponsel pintar yang baru saja di belikan oleh Joe untuknya.


Ia memperhatikan foto pernikahannya bersama Joe yang terpampang di layar ponselnya. Sofia tersenyum-senyum sendiri sambil bergumam.


"Joe-ku memang tampan dan aku bangga karena bisa memiliki lelaki itu."


Tiba-tiba saja Sofia ingin ke kamar kecil. Perlahan wanita itu bangkit dari tempat tidur kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dengan sangat hati-hati Sofia menuju kloset kemudian duduk disana.


Bruggkhhh ....


"Akhh!!!" pekik Sofia sembari mengelus bokongnya yang terasa sakit.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Sofia dirasakan pula oleh Joe saat itu. Joe yang sudah berada di kantor Marcello turut merasakan sakit dibagian bokongnya.


"Kenapa bokongku terasa sakit?" batin Joe.


"Kamu kenapa, Joe?" tanya Marcello.


Rupanya Marcello memperhatikan Joe saat itu dan ia heran ketika melihat Joe menyentuh area bokongnya dengan wajah cemas.


"Ehm, tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja pantat saya terasa sakit seperti baru saja terjatuh," tutur Joe.

__ADS_1


Marcello terkekeh mendengarnya. "Ada-ada saja."


Perasaan Joe saat itu campur aduk. Ia merasa cemas, tetapi ia tidak tahu apa yang sedang ia cemaskan.


Sofia begitu panik, ia segera memeriksa area pribadinya dan setelah memeriksanya, Sofia pun bisa bernapas lega karena tidak ada sesuatu apapun yang keluar dari sana.


"Huft! Syukurlah," gumam Sofia.


Sofia kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan berbaring lagi disana.


. . .


Sore menjelang.


Kini saatnya Marcello dan Joe kembali ke mansion. Dengan hati gundah, Joe kembali melajukan mobilnya. Ia sangat mengkhawatirkan Sofia, ia takut terjadi sesuatu kepada istri kecilnya itu.


Setibanya di mansion, setelah sang Big Boss menghilang dari pandangannya, Joe bergegas melangkah menuju kamarnya bersama Sofia. Ia sudah tidak sabar lagi ingin menemui wanita itu.


Padahal sewaktu di kantor, Joe sempat menghubungi Sofia sebentar dan wanita itu sudah berkata bahwa dia baik-baik saja. Namun, Joe masih belum percaya dan ia yakin ada sesuatu yang terjadi pada istri kecilnya itu.


"Sofia?!"


Sofia segera menoleh kemudian tersenyum kepada Joe.


"Mas?!"


"Kamu tidak apa-apa, 'kan? Kamu baik-baik saja 'kan, Sofia?" tanya Joe dengan wajah cemas.


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Oh, syukurlah!" ucap Joe sembari memeluk dan menciumi puncak kepala Sofia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2