
"Anda sudah keterlaluan, Tuan Aidan! Akan kukatakan pada Daddy bahwa aku membatalkan acara pertunangan kita!" kesal Maria dengan mata membesar.
Amalia shok melihat pertengkaran kecil yabg terjadi pada Aidan dan Maria. Ia menghampiri Aidan kemudian mencoba menenangkan lelaki itu.
"Sudah, Aidan. Semua orang sedang memperhatikan kita," ucapnya.
"Tapi, dia!" sanggah Aidan.
"Sudah!"
Tepat disaat itu Dylan tiba. Ia melihat gelang milik Maria yang teronggok di lantai Cafe. Dylan meraih gelang tersebut kemudian berjalan menghampiri meja yang ditempati oleh Aidan, Maria dan Amalia, mantan kekasih Aidan.
"Maria," sapa Dylan sembari mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
"Om!"
"Apa yang kamu lakukan pada Maria?" kesal Dylan dengan sorotan tajam menatap Aidan.
Maria segera berlari ke arah Dylan dan memeluk tubuh lelaki itu. "Maria tidak apa-apa, Om. Sebaiknya kita pulang," ucapnya.
Aidan membulatkan matanya ketika melihat Dylan berada di tempat itu dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Dylan dan Maria saling mengenal.
"Kalian?!" pekik Aidan seolah tidak percaya melihat kebersamaan Dylan dan Maria.
Akhirnya Dylan mengalah, ia berbalik kemudian menuntun Maria berjalan keluar dari Cafe tersebut. Aidan tidak terima karena Dylan membawa pergi Maria tanpa seizinnya. Ia mencoba mengejar kedua orang itu, tetapi di tahan oleh Amalia.
"Sebaiknya jangan, Aidan. Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!" Amalia memegang lengan kekar Aidan agar lelaki itu mengurungkan niatnya.
"Tapi aku masih kesal, Amalia! Dia membawa pergi calon tunanganku tanpa seizinku!" kesal Aidan.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu juga mengincar Maria, Dylan. Ternyata kamu adalah musuh bertopeng sahabat! Awas saja, aku pasti akan membalas ini semua!" gerutu Aidan.
Sementara itu.
__ADS_1
"Om, terima kasih sudah menyelamatkan Maria dari lelaki itu," ucap Maria sembari memeluk lengan kekar Dylan.
"Apa yang sudah ia lakukan padamu?"
"Dia terus mengaturku, Om. Aku tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus pake ini, harus pake itu, ngeselin 'kan?" jawab Maria sambil menekuk wajahnya.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong Om Udin kenal ya sama Tuan Aidan? Karena dilihat dari ekspresi Tuan Aidan barusan, sepertinya kalian sudah saling mengenal."
"Ya, aku kenal. Karena Tuan Aidan adalah teman dari Tuan Dylan."
Saat mereka sedang berjalan di Mall tersebut, Dylan memperhatikan sekelilingnya dan entah mengapa ia merasa semua orang tengah memperhatikan dirinya dan Maria.
"Kenapa perhatian semua orang tertuju pada kita? Atau ini hanya perasaanku saja?" gumam Dylan sembari menautkan kedua alisnya.
Maria yang masih bergelayut manja di lengan Dylan, mengedarkan pandangannya. Ya, ternyata benar. Semua orang tengah memperhatikan dirinya dan juga Dylan. Seketika Maria tersadar bahwa pakaiannya saat ini begitu mencolok.
"Apa ini karena pakaian yang sedang aku kenakan, ya?"
"Ya, Tuhan! Apa-apaan ini!" pekik Dylan dengan mata membulat saat melihat tubuh seksi Maria yang terbalut dengan dress ketat, pendek dan terlalu terbuka menurut lelaki itu.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini, Nona Maria!"
Dylan memeluk tubuh Maria dan mencoba menutupi tubuh gadis itu dari mata-mata nakal yang sedang menatapnya dengan liar.
"Tuan Aidan lah yang memaksaku mengenakan dress ini, Om!"
Maria tersenyum puas karena Dylan begitu peduli padanya. Bahkan lelaki itu mencoba melindunginya dari tatapan nakal laki-laki hidung belang.
"Dimana jaketmu? Bukankah biasanya kamu selalu membawa jaket?"
"Di dalam ranselku, Om."
Dengan tergesa-gesa, Dylan menggagahi tas ransel milik Maria kemudian meraih jaket tersebut.
__ADS_1
"Kenakan ini!" titah Dylan sembari memasangkan jaket itu ke tubuh Maria.
Setelah selesai memasangkan jaket tersebut, Dylan kembali menuntun Maria keluar dari Mall.
"Masuklah, Nona. Aku akan mengantarkan kamu pulang."
Dylan membukakan pintu mobilnya untuk Maria ketika mereka sudah berada di tempat parkir.
"Sebentar, Om. Bolehkah kau mengganti pakaianku dulu? Aku yakin Daddy pun akan shok jika melihat penampilanku seperti ini."
"Tapi disini tidak ada ruang ganti, Nona Maria. Apa kamu ingin kita kembali ke Mall?"
"Tidak usah. Aku bisa mengganti pakaianku di dalam mobil kok, Om."
"Benarkah?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kamu masuk dan ganti pakaianmu. Aku akan berjaga di luar."
Setelah Maria masuk ke dalam mobilnya, Dylan segera menutup pintu mobil itu kembali.
"Jangan mengintip ya, Om!"
Dylan tersenyum tipis setelah mendengar ucapan gadis itu. "Siapa yang ingin mengintipmu? Aku tidak ingin melihat tubuhmu lebih awal, Nona. Nanti aku tidak akan penasaran lagi saat malam pertama!" jawab Dylan sambil menyandarkan tubuhnya di pintu mobilnya yang tertutup.
Maria terkekeh pelan sambil mengganti pakaian seksinya dengan seragam putih abu-abu seperti yang ia kenakan sebelumnya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Maria pun segera memberitahu Dylan.
"Om, aku sudah selesai."
"Bagus! Dan sekarang saatnya aku antar kamu pulang," ucap Dylan.
...***...
__ADS_1