Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 58


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


Ruangan yang tadinya ramai dengan suara berisik Erika, tiba-tiba saja hening ketika terdengar suara ketukan dari pintu luar. Semua mata membulat dan saling lempar pandang satu sama lain.


"Siapa itu?!" tanya Marissa cemas.


Entah mengapa perasaannya mulai tidak nyaman setelah mendengar ketukan pintu tersebut. Fattan mengelus pundak Marissa dengan lembut dan mencoba menenangkan gadis itu.


"Tenang saja, Marissa. Mungkin itu hanya tetangga sebelah," sahut Fattan.


Fattan bangkit dari tempat duduknya.


"Kalian lanjutkan saja makan kalian, aku mau mengecek siapa yang ingin bertamu malam-malam begini," ucap Fattan


Lelaki itu berjalan menuju pintu depan tanpa rasa curiga sedikitpun bahwa yang sedang berdiri didepan pintunya adalah Marcello. Lelaki penguasa yang akan menjemput gadis kesayangannya.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan itu semakin keras saja dan membuat Fattan semakin penasaran.


"Siapa?!" tanya Fattan.


Namun, tak terdengar jawaban dari luar. Hanya suara ketukan yang semakin cepat dan keras. Sedangkan Marissa semakin tidak tenang. Ia menghentikan makan malamnya kemudian menatap kearah pintu depan dengan wajah cemas.


"Sebentar, sebentar!" ucap Fattan dengan sedikit kesal, karena orang yang sedang berdiri didepan pintu sepertinya sudah tidak sabar menunggu pintunya dibuka.


Saat Marissa masih memperhatikan Fattan dengan cemas, Erika dan Bu Nilam malah asik bercengkrama sambil menikmati makan malam mereka.


Perlahan Fattan membuka pintu tersebut dan nampaklah beberapa orang laki-laki berdiri di hadapannya. Marcello, Joe dan beberapa Bodyguard yang kemarin menyeretnya.

__ADS_1


"Tu-tuan Marcello?!" ucap Fattan.


"Selamat malam, Tuan Fattan. Kami yakin Anda sudah tahu maksud kedatangan kami," sahut Joe sambil menyeringai.


Sama seperti janjinya, Joe sudah gatal ingin memberikan bonus untuk lelaki tampan yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah pucat pasi.


"Aku sudah muak bersikap baik padamu, sekarang katakan dimana Icha kecilku!!!"


Marcello mencengkeram baju kaos yang sedang dikenakan oleh Fattan dengan kasar. Tubuh Fattan terdorong kebelakang hingga menabrak tembok.


Braakkk!!!


Suara keras yang terdengar akibat benturan tubuh Fattan ke dinding mengejutkan semua orang yang sedang berada di ruang makan. Marissa yang sejak tadi sudah merasa tidak nyaman, segera berlari menuju pintu depan. Disusul oleh Erika dan Bu Nilam.


Marissa membulatkan matanya ketika menyaksikan Marcello sedang mencengkeram baju Fattan dan bersiap melayangkan pukulan ke wajah lelaki itu. Gadis itu berlari dengan secepat kilat menghampiri kedua lelaki itu.


"Hentikan, Tuan Marcello!" teriak Marissa.


"Icha? Gadis kecil Daddy!" seru Marcello dengan mata berkaca-kaca menatap Marissa yang kini berdiri tepat di depan matanya. Wajahnya yang tadinya terlihat mengerikan seketika berubah.


"Jangan pernah berani menyentuh Pak Fattan!" ancam Marissa dengan mata membulat menatap Marcello.


"Tapi dia menculikmu, Cha dan membawamu ketempat terpencil ini," ucap Marcello sembari menyentuh pipi Marissa.


"Pak Fattan tidak pernah menculik saya, Tuan Marcello! Saya lah yang sudah memaksa untuk ikut dengannya ketempat ini. Lagipula anda tidak berhak mengatur hidup saya, saya bukanlah siapa-siapa Anda sekarang!" geram Marissa.


"Tidak, Cha! Kamu akan tetap menjadi Marissa kecilku, ikutlah denganku. Kita kembali ke Mansion," ajak Marcello.


Marcello menarik tangan Marissa dan bermaksud membawa gadis itu kembali bersamanya. Namun, diluar dugaan Marcello, gadis itu malah menepis tangannya dengan kasar dan menolak mengikuti dirinya.

__ADS_1


"Lepaskan saya! Anda pergilah dan saya harap Anda tidak akan pernah mencari keberadaan saya lagi," ucap Marissa.


Fattan, Erika dan Bu Nilam hanya bisa terpelongo melihat pertengkaran kecil yang sedang terjadi diantara si gadis dan si Hot Daddy.


"Ada apa, Cha? Aku yakin ini pasti gara-gara laki-laki ini 'kan?!" kesal Marcello sambil menunjuk Fattan. Ia kesal karena gadis kecilnya sudah berani menolak perintahnya.


"Tidak,Tuan. Ini tidak ada hubungannya dengan siapapun termasuk Pak Fattan. Apa Anda tidak sadar, bahwa diantara kita tidak memiliki hubungan darah atau apapun. Jadi, apakah saya masih patut untuk tinggal satu atap bersama Anda?!" tanya Marissa.


"Ya, kenapa tidak? Bagiku kamu adalah Icha kecilku dan akan terus seperti itu," tutur Marcello dengan wajah memelas menatap Marissa.


Joe memejamkan matanya dengan erat sambil memijit keningnya. Kepalanya terasa pusing tujuh keliling memikirkan perasaan Bossnya itu. Ia benar-benar bingung, kenapa Tuan Marcello terus menyangkal perasaannya kepada Marissa. Padahal sudah sangat jelas bahwa Marcello sedang jatuh cinta kepada gadis itu.


"Ya ampun, Tuan Marcello! Ternyata Anda masih belum sadar juga," batin Joe.


"Sebaiknya lupakan semua itu dan pergilah!"


Marissa mendorong tubuh besar Marcello dengan susah payah hingga lelaki itu keluar dari rumah sederhana tersebut. Setelah berhasil mengeluarkan lelaki menyebalkan itu, kini matanya tertuju pada Joe dan para pengawalnya.


"Kalian, pergi! Dan jangan sampai aku berteriak kemudian membangunkan seluruh warga desa untuk mengeroyok kalian!" titah Marissa dengan emosi berapi-api menatap para lelaki itu.


"Tapi, Marissa!"


BRAAAKKK!!!


Marissa menutup pintu rumah itu dengan keras dan membuat Marcello serta anak buahnya mengedipkan mata mereka karena terkejut.


"Sekarang bagaimana, Tuan?! Perlukah kita menculik Nona Marissa?" tanya Joe yang sudah mulai kesal.


"Jangan, Joe! Dia hanya sedang emosi. Aku yakin, dia pasti akan luluh dengan sendirinya tanpa harus ada kekerasan," sahut Marcello

__ADS_1


***


__ADS_2