
Hehe, untung ada yang ngingetin di bab 55 😆 Author beneran lupa soal sinyal itu 😵 Thanks ya, Readers 😘😘😘 udah ngingetin 😅 saking malunya, gak berani buka komentar 😆😆😆 Rasanya pen jedotin pala ke tembok aja 😣😣😣
***
Joe memperhatikan ponselnya sambil tersenyum puas. Akhirnya, salah satu anak buah lelaki itu berhasil menemukan keberadaan Marissa. Tidak sia-sia ia membayar mahal orang-orang itu, karena selama ini hasil kerja mereka sungguh sangat memuaskan.
"Tuan Marcello pasti akan sangat senang mendengarnya!" gumam Joe sembari meletakkan ponselnya kembali keatas nakas.
Keesokan paginya.
Setelah berpakaian rapih, Joe segera mencari keberadaan Marcello untuk menyampaikan kabar baik yang ia peroleh dari salah satu anak buahnya tadi malam.
"Dimana Tuan Marcello?" tanya Joe kepada seorang Pelayan yang sedang membersihkan ruangan pribadi lelaki itu.
"Tuan Marcello sedang berolah raga di halaman depan, Tuan Joe," sahut Pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih."
Joe bergegas pergi dari tempat itu kemudian melangkah menuju halaman depan. Dan setibanya disana, ternyata benar lelaki itu sedang berlari kecil sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Tuan Marcello," sapa Joe.
Marcello menoleh kearah Joe dengan wajah kusutnya. Rambut lelaki itu terlihat berantakan, tidak seperti biasanya yang selalu tersisir rapih.
"Ada apa?" tanya Marcello.
Dengan wajah semringah, Joe berjalan menghampiri Marcello.
"Tuan, bisakah kita biacara sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan bersama Anda dan ini sangat penting," ucap Joe sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
Marcello mengangkat sebelah alisnya sambil menatap wajah Joe yang terlihat berseri-seri.
"Benarkah? Apa ini ada hubungannya dengan Icha kecilku?!" tanyanya.
Joe kembali menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. "Ya, Tuan. Ini ada hubungannya dengan Nona Marissa," sahutnya.
Seketika aura wajah Marcello berubah. Wajah kusutnya tiba-tiba sirna dan sekarang ia terlihat lebih bersemangat.
"Kamu serius, Joe? Apa anak buahmu sudah berhasil menemukan gadis kecilku?" tanya Tuan Marcello dengan sangat antusias.
"Ya, Tuan. Kami sudah tahu dimana Nona Marissa tinggal. Dan dugaan kita selama ini benar, bahwa Dosen itu ada sangkut pautnya dengan kepergian Nona Marissa."
"Apa?!" pekik Marcello dengan wajah memerah.
"Dia memang harus kita kasih pelajaran!" sambung Marcello sambil mengepalkan tangan dengan sempurna. Sehingga urat-urat di tangannya terlihat dengan sangat jelas.
"Sebaiknya kita bersiap, Joe. Kita jemput gadis kecilku. Sebelum ia menyadari bahwa kita sudah berhasil menemukannya," ucap Marcello sembari melangkahkan kakinya dengan cepat memasuki Mansion.
Sementara Tuan Besarnya sedang bersiap-siap, Joe menghampiri para Bodyguard dan memerintahkan mereka untuk ikut bersamanya menuju Desa, dimana Fattan menyembunyikan Marissa.
"Mungkin kalian harus mempersiapkan segala sesuatunya, karena perjalanan kita menuju desa tersebut tidaklah mudah."
"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.
Sementara itu di kamar mewah Marcello.
Setelah melakukan ritual mandinya, Marcello bergegas menuju tempat penyimpanan pakaian-pakaian mahalnya. Ia bingung, kemeja mana yang harus ia kenakan untuk menyambut pertemuannya dengan Icha hari ini.
"Ya, Tuhan! Ada apa denganku? Kenapa pakaian sebanyak ini terlihat jelek semua di mataku?!" gumamnya sambil mengacak-ngacak tempat itu.
__ADS_1
Joe sudah beberapa kali melirik jam tangan mewahnya. Ia bingung, sudah hampir satu jam, Tuan Marcello tidak juga keluar dari kamarnya.
"Ada apa dengan Tuan Marcello? Apa mungkin dia pingsan didalam sana karena saking bahagianya? Padahal kita sudah siap sejak tadi. Bukankah dia sendiri yang meminta kita untuk secepatnya bersiap? Huh, sebaiknya aku cek saja ke kamarnya," gumam Joe dengan wajah heran menatap kamar termegah di Mansion tersebut.
Joe bergegas menghampiri pintu kamar itu dan mencoba memanggil nama lelaki tersebut.
Tok ... tok ... tok ...
"Tuan Marcello, apa Anda didalam?" tanya Joe.
"Ah, tepat sekali! Beruntung ada Joe, jadi aku bisa meminta pendapatnya tentang pakaian-pakaian jelek ini," gumam Marcello.
"Masuklah, Joe! Pintunya tidak dikunci," titahnya.
Perlahan Joe membuka pintu tersebut dan melihat sosok Tuan Besarnya yang masih menggunakan handuk kecil untuk menutupi area pribadinya. Joe nampak kebingungan, rambut lelaki itu sudah kering sempurna sedangkan tubuh atletisnya masih dibiarkan terbalut dengan handuk kecil.
"Joe, kemarilah! Apa kamu lihat pakaianku ini, semuanya sudah terlihat jelek!" ucapnya sambil menunjuk koleksi pakaian mahalnya yang berserak di lantai kamar mewah tersebut.
Joe menautkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan ucapan Marcello. Pakaian yang dikatakan jelek oleh lelaki itu adalah koleksi terbaru yang dikeluarkan oleh brand terkenal yang sudah biasa ia kenakan dan harganya pun bikin geleng-geleng kepala.
"Tuan, saya rasa Anda hanya bingung. Apa Tuan butuh bantuan saya untuk memilihnya?" sahut Joe, mencoba menawarkan bantuannya.
"Ya, ya, pilihlah! Tapi harus yang bagus dan jangan permalukan aku," ucapnya.
Sementara Joe memilihkan pakaian yang cocok untuk Marcello, lelaki itu malah duduk di tepian tempat tidurnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak pernah merasa segugup ini, Joe! Bahkan ketika aku masih berpacaran dengan Melinda pun, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Sebenarnya ada apa denganku, Joe?" lirih Marcello.
Joe terkekeh mendengar ucapan Big Bossnya itu. "Ya, Tuhan! Tuan Marcello, tidakkah Anda menyadari bahwa Anda sebenarnya sedang jatuh cinta pada gadis kecil Anda sendiri," batinnya.
__ADS_1
...***...
Kalo Author sempat ngetik lagi, insyaallah Author UP lagi. Tapi, Author gak janji ya 😆😆😆 soalnya masih ngetik nupel sebelah,