Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 130


__ADS_3

Setelah perbincangan hangat bersama tujuh di Mansion milik Marcello.


Ia bangga bisa bekerja di Mansion itu, apalagi Joe menjanjikan gaji besar padanya. Yang jelas, ia tidak perlu lagi capek-capek mengadon kue yang tidak tahu pasti, laku atau tidaknya. Ia juga tidak perlu lagi berhadapan dengan preman pasar yang suka meminta uang padanya.


Tak terasa sore pun menjelang.


Marcello baru saja kembali dari kantor dan ia sedikit terkejut ketika melihat ada pelayan baru yang bekerja di Mansionnya. Marissa yang sejak tadi menunggu kedatangan suaminya, segera menghampiri Marcello kemudian memeluknya.


"Pelayan baru?" tanya Marcello kepada Marissa yang sedang bergelayut manja di lengan kekarnya.


Marissa menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Dad. Pelayan sekaligus teman baruku," jawab Marissa.


"Teman baru?" Marcello menautkan kedua alisnya sambil menatap Marissa.


"Ya, sepertinya aku cocok dengannya. Kami seumuran dan kisah hidup kami hampir-hampir mirip,"


"Terserah lah, yang penting kamu senang,"


Marissa dan Marcello pun segera menuju kamar mereka sambil bergandeng mesra. Sofia memperhatikan kemesraan pasangan itu sambil berdecak kagum.


"Ya Tuhan, mereka benar-benar pasangan yang serasi. Yang ceweknya cantik bak boneka Barbie dan cowoknya tampan bak model profesional dari mancanegara," gumamnya.


Sofia bahkan tidak sadar bahwa saat itu Joe berada tepat di belakangnya. Joe bahkan mendengar jelas apa yang dikatakan oleh gadis itu.


"Sepertinya aku sudah berkata dengan jelas bahwa pekerjaanmu disini adalah seorang Pelayan dan bukan seorang detektif yang bertugas memata-matai kemesraan Tuan dan Nona pemilik Mansion, benar 'kan?"

__ADS_1


Sofia terperanjat. Ia membulatkan matanya setelah tahu bahwa Joe sudah berada di belakangnya.


"Maafkan aku, Tuan!" ucap Sofia sambil membungkukkan badannya berkali-kali di hadapan Joe.


"Potong gaji!"


"Akh! Potong lagi? Janganlah, Tuan ... kasihanilah aku. Apa Tuan tega membiarkan aku dan Ibuku makan kertas nota hasil potongan hutang-hutangku," lirih Sofia sambil mengikuti langkah kaki Joe yang kini menuju kamarnya.


Joe tidak peduli walaupun gadis itu kini memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Ia terus saja melangkah dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Sofia berhenti mengejar lelaki itu. Sekarang ia pasrah walaupun Joe benar-benar akan memotong gajinya.


"Ya, sudahlah. Sepertinya aku memang akan makan malam dengan kertas-kertas itu." gumam Sofia dengan wajah sendu.


Setelah pekerjaannya selesai, Sofia mengganti pakaian dengan baju dan rok yang sebelumnya ia kenakan. Ia memasukkan seragam kebanggaannya kedalam keranjang kuenya yang sudah kosong.


Sofia sempat menolak, tetapi Marissa terus memaksa dan berdalih bahwa uang itu ia berikan untuk Ibunya yang sedang sakit. Dengan terpaksa, Sofia pun akhirnya menyambut uang itu dan membawanya pulang bersamanya.


Dengan langkah cepat, Sofia berjalan keluar dari Mansion. Sofia sempat kebingungan karena ia tidak tahu harus pulang dengan apa. Di tengah kebingungannya, Assisten dingin itu kembali menghampirinya.


"Kamu bisa menjalankan sepeda motor?" tanya Joe dengan wajah datarnya, sama seperti biasa.


Sofia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jangankan menjalankan sepeda motor, sepeda saja ia tidak punya.


"Tidak, Tuan."


"Bagaimana dengan sepeda? Jangan bilang kalau kamu juga tidak tahu cara menggunakan sepada."

__ADS_1


"Nah, kalau sepeda saya bisa!" jawab Sofia sambil tersenyum manis menatap Joe.


Joe berjalan menghampiri para Bodyguard dan meminta salah satu dari mereka mengambilkan sepeda untuk Sofia. Tidak berselang lama, seorang Bodyguard menghampiri mereka dan menyerahkan sebuah sepeda kepada Joe.


"Ini sepeda untukmu. Gunakanlah dengan baik," ucap Joe sambil berlalu dari hadapan Sofia.


Sofia begitu terharu. Matanya berkaca-kaca saat memperhatikan sepeda tersebut. Sudah sejak lama ia ingin memiliki sebuah sepeda, tetapi karena keuangannya tidak memungkinkan, hingga kini ia hanya bisa berkhayal memilikinya.


Dengan berlari kecil, Sofia mengejar Joe sambil memanggil-manggil nama lelaki itu.


"Tuan Joe! Tuan Joe!" teriaknya.


Mendengar Sofia memanggilnya, Joe menghentikan langkahnya. Namun, ia tidak ingin membalikkan badannya menghadap gadis itu. Kini Sofia berdiri tepat di belakang Joe, ia mengembangkan sebuah senyuman dengan mata berkaca-kaca menatap punggung Joe.


"Tuan, terima kasih banyak. Aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu kepadaku," ucap Sofia


Joe tidak menjawab. Ia kembali meneruskan langkahnya tanpa mempedulikan bagaimana reaksi Sofia saat itu. Namun, saat itu sudut bibir Joe terlihat naik. Hanya saja ia tidak ingin siapapun melihatnya.


Sofia sudah mulai paham dengan sikap acuh Assisten dingin itu. Ia tidak terlalu mempermasalahkan bagaimanapun sikap Joe terhadapnya. Yang penting baginya, ia sudah mendapatkan tempat kerja yang nyaman dan gaji yang cukup menjanjikan.


"Terima kasih, Tuan. Sama-sama, Sofia," gumam Sofia sambil terkekeh pelan.


Sofia menuntun sepeda yang diberikan oleh Joe kemudian mulai mengayuhnya dengan penuh semangat menuju kediamannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2