
Malam pun tiba.
Sofia duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya sambil melamun. Entah sudah berapa lama wanita itu terdiam disana dengan bibir yang tertutup rapat.
"Sofia, kamu kenapa?" tanya Joe yang baru saja tiba di kamar mereka.
Lelaki itu duduk di samping Sofia kemudian mengusap rambut wanita itu dengan lembut.
"Aku sedih, Mas. Semua orang sudah bersiap menjadi seorang Ibu, sedangkan aku? Nona Marissa dengan kedua bayi kembarnya, Nyonya Dian yang juga akan segera menyusul dan sekarang Erika pun sudah isi, padahal dulu ia sempat divonis tidak bisa memiliki keturunan oleh Dokter. Tapi sekarang ia malah curi start dariku." Sofia menghela napas berat.
"Seandainya dulu aku tidak bodoh dengan menyembunyikan hal penting itu darimu, mungkin saat ini aku masih ...," lanjut Sofia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan dan ia pun terisak disana.
"Jangan berkata seperti itu, Sofia! Yang lalu biarlah berlalu dan aku tidak ingin kamu mengungkit-ungkit masalah itu lagi!" kesal Joe.
"Tapi, aku benar-benar sedih, Mas."
Joe meraih Sofia ke dalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menagis di dadanya.
"Bagaimana kalau kita mengadopsi anak? Aku pernah dengar kata orang-orang dulu tentang anak pancingan, apa kamu tau tentang hal itu?" tanya Sofia.
"Apa itu? Aku tidak pernah dengar," sahut Joe.
Sofia melerai pelukan Joe kemudian duduk menghadap Joe sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Anak pancingan, Mas. Kita mengadopsi seorang anak agar kita bisa mendapatkan keturunan dengan cepat. Katanya sudah banyak yang berhasil. Apa Mas ingin mencobanya?" tanya Sofia dengan wajah serius menatap suaminya.
"Anak pancingan, ada-ada saja. Kenapa kamu masih percaya pada mitos seperti itu sih, Sofia? Dan seandainya jika hal itu benar, kamu mengadopsi seorang anak kemudian tidak lama setelah itu kamu hamil. Lalu bagaimana dengan nasib anak itu? Apa kamu masih yakin akan merawatnya dengan baik dan tidak akan menyia-nyiakannya?" Joe balik bertanya dan kini ia pun membalas tatapan Sofia dengan tatapan seriusnya.
"Ya, aku sangat yakin. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri, Mas," sahut Sofia mantap.
Joe menghembuskan napas beratnya. Ia menyentuh pipi Sofia kemudian mengelusnya dengan lembut.
"Sofia sayang, dengarkan aku. Jika kamu memang yakin seperti itu, aku pasti akan mendukungmu. Namun, tidak untuk sekarang."
Mata Sofia kembali berkaca-kaca. "Kenapa?"
"Usia pernikahan kita saja baru seumur jagung, Sofia. Tunggulah satu atau dua tahun lagi dan jika seandainya Tuhan masih belum memberikan kita momongan, maka kamu bisa mengambil keputusan itu," tutur Joe.
"Tapi-- satu dua tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, Mas. Sedangkan aku sudah tidak sabar ingin memiliki seorang bayi mungil seperti bayi-bayi milik Tuan Marcello dan Nona Marissa," lirih Sofia.
Sofia menghembuskan napas berat. "Huft, apa Tuan Marcello dan Nona Marissa mengizinkannya?"
"Aku yakin mereka mengizinkannya."
"Itu sih menurut, Mas. Jawaban dari mereka 'kan belum tentu," lirih Sofia.
. . .
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul 00.00, di saat semua orang terlelap tidur, kedua bayi Marissa terbangun karena kehausan. Tangis mereka memecah keheningan di malam itu. Dua orang Babysitter yang berjaga di ruangan itu segera membuatkan susu untuk mereka.
Baby Marvel dan baby Melvin terlihat tenang dan anteng ketika menikmati susu mereka. Dengan lahapnya mereka menghabiskan susu yang baru saja di biatkan oleh sang Babysitter. Namun, setelah susu di botol dot mereka habis, mereka pun kembali menangis histeris.
Bahkan suara tangisan mereka terdengar hingga ke kamar utama. Karena memang letak kamar kedua bayi mungil tersebut berada di samping kamar utama. Marissa menggoyang-goyangkan tubuh Marcello berharap lelaki itu segara bangun dari tidur nyenyaknya.
"Ada apa, Cha?"
"Apa kamu tidak dengar itu? Sepertinya bayi kembar kita sedang menangis," tutur Marissa sembari mendengarkan dengan seksama suara tangis bayinya.
"Sudahlah, Icha sayang. Tidur saja lagi. Lagipula kedua Babysitter itu sudah terlatih, jadi kamu tidak perlu khawatir," tutur Marcello dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Hhhh! Bangun donk, Sayang!"
Marissa kesal. Ia bangkit dari tempat tidurnya kemudian melangkah keluar dari kamar utama. Marcello yang enggan membuka matanya, terpaksa ikut bangkit dan melangkah di belakang Marissa dengan mata yang masih 'merem-melek'.
"Cha, kembalilah."
"Tidak!" sahut Marissa ketus.
Dan ternyata feeling Marissa benar. Kedua bayinya sedang menagis histeris bahkan kedua Babysitter itupun sudah terlihat kewalahan menenangkan mereka.
"Mereka kenapa, Mbak?" tanya Marissa sembari menghampiri kedua Babysitter tersebut.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah pada mereka, Nona. Tetapi entah mengapa mereka rewel malam ini. Padahal biasanya setelah selesai mimi, mereka akan tidur lagi," ucap Babysitter.
...***...