
"Selamat ya, Ayah, Ibu! Akhirnya kalian sudah sah menjadi suami istri," seru Marissa.
Ia berlari kecil menuju pelaminan dan segera memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan.
"Jangan berlari-lari, Nak. Ingat kandunganmu," ucap Bu Dian dengan wajah panik menatap Marissa.
"Ibumu benar," timpal sang Ayah.
Marcello pun turut bergabung bersama mereka. Ia mengulurkan tangannya kepada Riyadh dan mengucapkan selamat.
"Usahaku tidak sia-sia. Akhirnya kalian bersatu juga dan aku bangga bisa menjadi bagian dari kalian," ucap Marcello.
"Terima kasih, Marcello. Aku berhutang banyak padamu."
"Kau harus membayarku, Riyadh."
Riyadh mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum menatap Marcello. "Sebutkan!"
"Bikin anak yang banyak, Riyadh. Mumpung Anaconda masih aktif, wuss ... wuss!!!" sahut Marcello sambil tergelak.
"Ih, Daddy!" kesal Marissa.
"Lah, kenapa kamu sewot. Yang mau bikin anak banyak 'kan mereka,"
"Kalau aku punya adik lagi, aku pasti tidak akan disayang dan diperhatikan lagi oleh mereka," lirih Marissa sambil menekuk wajahnya.
Jawaban polos Marissa membuat mereka tergelak. Dian meraih tangan Marissa kemudian memeluknya denga erat.
"Kasih sayang Ibu tidak akan pernah berubah, Marissa. Bagi Ibu kamu itu adalah anak Ibu yang paling istimewa," ucap Dian dengan mata berkaca-kaca menatap wajah cantik Marissa.
"Terima kasih, Bu. Marissa sayang Ibu,"
__ADS_1
. . .
Acara pernikahan pun selesai. Marcello dan Marissa kembali ke mansion sedangkan pasangan pengantin baru sedang menikmati malam pertama mereka di Hotel yang sama, di sebuah kamar VIP.
"Sayang, akhirnya kamu resmi menjadi milikku."
Riyadh menghampiri Dian yang sedang duduk di meja rias sembari melepaskan aksesoris yang menempel di kepalanya. Lelaki itu membantu Dian melepaskan aksesoris itu satu persatu hingga semuanya terlepas.
"Boleh kubantu melepaskan kebaya pengantinmu?"
"Ya, silakan."
Dengan wajah yang merona, Dian membiarkan Riyadh melepaskan setelan kebayanya. Hingga hanya tersisa pakaian dallamnya saja.
"Ya, Tuhan! Aku gugup," ucap Dian sembari memeluk tubuh Riyadh dan membenamkan wajahnya ke dada lelaki itu.
"Kenapa harus malu? Aku adalah suamimu sekarang. Aku akan melihat tubuh polosmu setiap hari, Dian Maharani."
"Maafkan aku, Dian. Aku berjanji pada mu bahwa aku akan membahagiakanmu hingga akhir hanyatku."
Dian melerai pelukannya bersama sang Suami. "Sebaiknya aku mandi dulu, ya. Sudah gerah soalnya."
"Baiklah, kita mandi bersama."
Dian menganggukkan kepalanya pelan sambil mengulum senyum. Riyadh mencoba mengangkat tubuh Dian, beruntung Dian body Dian masih langsing. Hingga dengan mudah Riyadh membawanya ke kamar mandi.
"Awas, Sayang! Kamu sudah tua, apa kamu tidak takut sakit pinggang?!" goda Dian yang kini berada di gendongan Riyadh.
"Hah, jangan salah! Usiaku boleh saja sudah tua, tetapi tenagaku boleh di coba! Apalagi Anacondaku, dia sudah merindukan sarang terakhirnya."
"Siapa?" tanya Dian agak sewot.
__ADS_1
"Ya, kamu lah! Siapa lagi,"
"Masa, sih? Ah, gak percaya!"
"Setelah kejadian malam itu, aku dan mendiang Ismika tidak pernah melakukan hal itu lagi. Walaupun kami tidur dalam satu ranjang yang sama, tetapi kami tidak saling menyentuh, Dian," tutur Riyadh.
"Separah itukah hubungan kalian?" tanya Dian.
"Ya, hubungan kami hanya sebatas mempertahan pernikahan demi Zaid," jawab lelaki itu.
Perlahan Riyadh meletakkan tubuh Dian ke dalam bath up yang masih kosong. Riyadh menghidupkan keran air di bath up dan mulai mengisinya dengan air hangat. Riyadh melepaskan seluruh pakaiannya di hadapan Dian. Walaupun ini bukan pertama kalinya Dian melihat tubuh polos lelaki itu, tetapi ia tetap merasa gugup dan malu saat itu.
"Jangan terpesona ya, tubuhku masih berotot seperti dulu. Lihat ini!"
Riyadh memamerkan otot-otot lengannya kepada Dian dan tidak ketinggalan perut six pack miliknya.
"Wow ... aku terpesona," ucap Dian sambil tersenyum lebar menatap lelaki itu.
"Benarkan, tubuhku masih sekeren dulu," sahut Riyadh dengan bangga.
Dian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, bukan! Bukan itu yang aku maksud. Maksudku adalah Anaconda-mu yang ikut menari-nari di bawah sana. Dia terlihat keren," jawab Dian sambil menepuk jidatnya sendiri.
Ia bahkan tidak menyangka bahwa dirinya bisa memikirkan hal bodoh itu setelah melihat sang Anaconda milik Riyadh yang sudah mulai aktif, menari-nari di antara kedua pahanya.
"Wah, wah, wah!!! Sekarang aku baru tahu bahwa sifat nakal Marissa turun darimu ternyata!" seru Riyadh sambil menyeringai menatap sang Istri yang kini sudah berendam di dalam bath up berukuran jumbo tersebut.
"Kata siapa Marissa nakal?!" protes Dian sambil menekuk wajahnya.
"Kata Marcello lah, siapa lagi. Dulu 'kan kami bersahabat, dia selalu curhat tentang sifat Marissa yang kadang di luar kendali. Eh, ternyata ... dia malah menceritakan sifat istrinya kepada Ayahnya sendiri," tutur Riyadh.
...***...
__ADS_1