
"Kamu sudah tidak sedih lagi 'kan, Cha?" Marcello menciumi puncak kepala Marissa yang sedang bersandar di dadanya. Tangan Marcello mengelus lembut perut Marissa yang sudah terlihat lebih besar dari ukuran normalnya.
"Ya." Marissa meletakkan tangannya di atas tangan Marcello yang masih mengelus perutnya. "Sama seperti yang kamu katakan, Dad. Aku tidak boleh larut dalam kesedihanku. Sekarang yang terpenting adalah fokus pada kedua nyawa yang sedang tumbuh di rahimku," jawab Marissa sambil tersenyum kepada Marcello.
"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya." Marcello kembali melabuhkan ciuman hangatnya ke atas puncak kepala Marissa.
"Tapi-- jika seandainya apa yang dikatakan oleh Dokter itu benar adanya? Apa kamu bisa menerimanya, Dad?" Marissa mengangkat kepalanya kemudian menatap lekat kedua bola mata elang milik Marcello.
"Ya, tentu saja, Cha. Aku pasti menerimanya karena dia anakku, darah dagingku, walaupun dia terlahir dengan keadaan yang tidak sempurna sekalipun," jawab Marcello mantap.
Marissa tersenyum puas setelah mendengar jawaban Suaminya. "Aku bangga punya suami sepertimu, Dad. Sangat," ucap Marissa.
"Oh ya, Cha. Apa kamu tahu, di luar sangat dingin karena hujan turun dengan lebatnya. Ayah dan Ibumu hebat, malam pertama mereka disambut oleh hujan lebat dan rasanya aku juga ingin melewati malam ini seperti pasangan pengantin itu," sindir Marcello sambil menyeringai menatap Marissa.
"Haha, Daddy! Kalau mau ngajakin gelut, gak usah bahas tentang malam pertama Ayah dan Ibuku juga kali. Langsung aja bilang 'Cha, kita bergelut, yuk!'," goda Marissa sambil terkekeh.
"Cha, kita bergelut, yuk!"
Marcello segera membaringkan tubuh Marissa kemudian menindihnya.
. . .
Di saat Dian dan Riyadh melewati kehangatan malam pertama mereka di kamar VIP. Marissa dan Marcello juga bergelut di dalam kamar mewahnya dan Assisten Joe yang tertidur dengan nyenyaknya di atas tempat tidur mewah dan empuknya.
Berbeda dari mereka semua, Sofia dan Ibunya sedang duduk di tengah-tengah rumah kecil mereka. Hujan lebat berserta angin kencang yang sedang terjadi malam ini membuat mereka ketakutan.
Ibu dan Anak tersebut saling berpelukan sambil terus berdoa agar hujan secepatnya reda. Atap rumah mereka yang sudah berlubang dimana-mana, membuat rumah mereka basah.
"Ya, Tuhan. Semoga hujannya cepat reda," gumam Ibunya Sofia.
__ADS_1
Petir dan kilat yang saling bersahutan, membuat malam itu terasa semakin mengerikan.
"Bu, Sofia takut," ucap Sofia dengan mata berkaca-kaca menatap Ibunya.
"Teruslah berdoa agar hujannya cepat reda, Nak," sahut Bu Sri, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.
Seperti itulah keadaan Sofia dan Ibunya. Setiap kali hujan turun disertai angin kencang, maka mereka akan duduk di tengah rumah sembari menanti hujan mereda.
"Bu, lihatlah! Rumah kita bergerak," pekik Sofia dengan wajah pucat pasi.
Kencangnya angin malam itu membuat rumah mereka yang memang sudah tidak layak huni itu bergerak-gerak. Belum lagi atap rumah yang terdengar seperti mau roboh.
Bu Sri pun tidak kalah panik. Ia dan Sofia segera bangkit memperhatikan sekeliling rumah mereka.
"Sebaiknya kita segera keluar, Nak. Kita numpang berteduh di rumah tetangga untuk sementara. Nanti ketika hujan sudah reda, baru kita kembali lagi," ucap Bu Sri.
"Iya, Bu. Sofia setuju."
Baru saja Ibu dan Anak tersebut menginjakkan kakinya di teras rumah tetangga, tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari jarak yang sangat dekat.
Brraaakkkk!!!
Rumah Bu Sri dan Sofia roboh dan kini rata dengan tanah akibat angin deras yang baru saja menimpa gubuk mereka.
"Ya, Tuhan! Rumah kita, Nak! Rumah kita roboh," pekik Bu Sri sambil menitikan air matanya.
Semua tetangga-tetangga Sofia keluar dari rumah mereka. Merekapun tidak kalah terkejutnya saat mendapati kediaman Bu Sri dan Sofia yang kini rata dengan tanah.
"Beruntung kita cepat keluar, Bu. Terlambat sedikit saja, kita pasti akan tertimbun oleh bangunan rumah kita sendiri," jawab Sofia dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Tubuh Bu Sri lemas. Tubuhnya yang kurus itu, kini merosot ke lantai. Para tetangga pun bergegas menghampiri Bu Sri dan mencoba menenangkannya.
"Yang sabar ya, Bu," ucap mereka.
"Sekarang kami akan tinggal dimana? Kami bahkan tidak punya uang sepeser pun," ucap Bu Sri sambil menangis lirih.
Sofia terdiam. Di dalam kepalanya saat ini hanya ada nama Tuan Joe. Assisten dingin yang kadang membuatnya sangat kesal. Namun, kali ini hanya lelaki itu harapan satu-satunya.
"Apakah Tuan Joe mau membantuku?" batin Sofia.
Malam itu, Sofia dan Bu Sri menginap untuk sementara di rumah tetangga mereka.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Sofia meminjam ponsel milik tetangganya kemudian mulai menghubungi nomor ponsel Joe.
Dreet ... dreettt ...
Joe yang baru saja selesai melakukan ritual mandinya, segera meraih ponsel tersebut dan menerima panggilan itu.
"Ya, siapa ini?" ucapnya dingin.
"Tu-tuan Joe, ini aku Sofia."
Deg!!!
Jantung Joe berdebar-debar ketika mendengar suara Sofia dari seberang telepon.
"Ya, Tuhan. Jantungku!" batin Joe.
__ADS_1
...***...