
Aidan yang sedang emosi tingkat dewa, tidak bisa menahan amarahnya. Ia segera pergi setelah membayar kekacauan yang ia buat di Restoran tersebut.
Sambil terus menggerutu, Aidan melajukan mobil mewahnya menuju tempat dimana ia akan mengadukan perbuatan Maria dan juga Dylan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menyita waktu, akhirnya Aidan menghentikan mobil mewah tersebut tepat di halaman mansion milik Tuan Marcello.
Dengan tergesa-gesa, ia memasuki mansion dan meminta izin kepada para Bodyguard untuk bertemu dengan calon mertuanya itu.
Salah satu Bodyguard menuntun Aidan memasuki bangunan megah tersebut kemudian mempertemukan lelaki itu dengan sang pemilik mansion.
"Tuan Marcello, Tuan Aidan ingin bertemu dengan Anda," ucap Bodyguard.
Marcello yang sedang bersantai di ruang utama bersama sang istri, segera menoleh ke arah Aidah dan Bodyguard yang saat itu sedang berdiri di belakanganya.
"Wah, Aidan. Kebetulan sekali kamu berkunjung kesini. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu dan ini sangatlah penting."
Aidan tersenyum puas, ia seakan menemukan secercah harapan untuk merebut Maria kembali setelah mendengar ucapan dari Tuan Marcello barusan.
"Ya, Tuan Marcello. Aku pun sama, ada sesuatu yang penting yang harus aku bicarakan padamu. Ini tentang Maria, putrimu!" jawab Aidan dengan tegas.
"Duduklah dulu, Aidan."
Marcello mempersilakan Aidan untuk duduk disebuah sofa yang terletak tepat di hadapannya. Baru saja Aidan mendudukkan tubuhnya di sofa tersebut, beberapa Pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa minuman dingin dan juga berbagai macam camilan.
"Minumlah dulu, Aidan. Aku lihat kamu sedang gerah sekarang, benarkan?" sindir Tuan Marcello sambil tersenyum menatap wajah kusut Aidan.
__ADS_1
"Tuan Marcello, kali ini aku tidak ingin berbasa-basi lagi padamu! Hari ini aku benar-benar kesal, sangat-sangat kesal! Karena putri kecilmu itu sudah berani meninggalkan aku demi pria lain!" kesal Aidan.
Marcello hanya tersenyum tipis sambil menggaruk pelipisnya dan belum sempat Marcello menyahut ucapan Aidan, Tuan Alfonso tiba di ruangan itu bersama seorang Bodyguard yang mengantarkannya.
"Ah, itu Tuan Alfonso!" ucap Marcello sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
"Silakan duduk, Tuan Alfonso."
"Terima kasih, Tuan Marcello," sahut Tuan Alfonso sembari menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Aidan.
Mata Aidan membulat karena ia tidak menyangka bahwa Ayahnya juga berkunjung ke kediaman Tuan Marcello.
"Daddy sedang apa disini?" tanya Aidan dengan nada setengah berbisik kepada Tuan Alfonso.
"Membicarakan masalah sikapmu yang kurang sopan itu, Aidan! Kamu benar-benar memalukan," sahut Tuan Alfonso juga dengan setengah berbisik.
"Sebaiknya kamu diam dan dengarkan Tuan Marcello bicara!" sahut Tuan Alfonso yang sedang menahan rasa kesal kepada anak lelakinya itu.
"Tuan Alfonso, maaf karena aku sudah merepotkanmu dengan memintamu berkunjung ke kediamanku. Tapi, aku rasa aku harus melakukannya dan membicarakan masalah ini padamu dan kebetulan sekarang Aidan pun sudah berada disini."
Tuan Alfonso membuang napas berat sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mengerti, Tuan Marcello."
"Sebenarnya ada apa ini? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Aidan nampak kebingungan. Ia bahkan sampai lupa tujuan utamanya berkunjung ke tempat itu.
"Begini, Aidan. Aku sebagai Ayah dari Maria Silvana, merasa sangat kecewa atas perlakuanmu terhadap putri kesayangan kami. Maria sudah menceritakan semuanya dan aku pun tidak tinggal diam. Aku sengaja menugaskan seseorang untuk menyelidiki kebenarannya dan ternyata apa yang dikatakan oleh putri kami memang benar, kamu sudah membuatnya merasa tidak nyaman dan mengajarinya hal yang aku rasa memang kurang baik."
__ADS_1
Tuan Alfonso yang sudah mengetahui semuanya, hanya bisa diam sambil memijit pelipisnya. Wajahnya memerah karena menahan malu. Sedangkan Aidan masih kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Tuan Marcello barusan.
"Apa maksudmu, Tuan Marcello? Aku benar-benar tidak mengerti," tanya Aidan.
Marcello meraih dress seksi yang dikenakan oleh Maria saat itu kemudian menggelarnya ke atas meja.
"Masih ingat dress ini 'kan?"
Aidan mengusap wajahnya dengan kasar setelah menyadari bahwa dress yang tergeletak di atas meja adalah dress pemberiannya. Dress yang terpaksa dikenakan oleh Maria atas perintahnya.
"Ya Tuhan, maafkan aku, Tuan Marcello! Bu-bukan maksudku membuat Maria--"
"Maafkan aku, Aidan. Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubunganmu dengan putriku, Maria. Sebenarnya bukan hanya karena masalah ini, Aidan. Tapi, karena Maria juga merasa sangat tidak nyaman dengan sikapmu terhadapnya."
"Ayolah, Tuan Marcello! Berilah aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji tidak mengulangi kesalahanku dan aku berani pastikan padamu, Tuan Marcello, bahwa aku akan memperbaiki sikapku terhadap Maria."
Marcello menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Tuan Alfonso yang hanya terdiam seribu bahasa.
"Maafkan kami, Tuan Alfonso. Rencana kita untuk menyatukan anak-anak kita harus berakhir sampai disini. Dan aku harap tidak ada dendam atau apapun itu."
"Ya, aku mengerti, Tuan Marcello. Aku juga ingin meminta maaf atas prilaku anakku yang kurang menyenangkan terhadap keluarga kalian, terutama anak perempuanmu, Maria Silvana."
Tuan Alfonso bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Tuan Marcello. Ia memeluk tubuh Tuan Marcello sambil menepuk pelan punggungnya.
"Sebaiknya aku pulang dulu, Tuan Marcello."
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada Marcello, lelaki paruh baya itu pun segera pergi. Begitupula Aidan, ia mengikuti sang Daddy dari belakang sambil terus menggerutu. Ia tidak terima karena rencana pertunangannya bersama Maria harus pupus begitu saja.
...***...