
"Dad, minum dulu obatnya."
Marissa menyerahkan obat yang baru saja diberikan oleh Dokter kepada Marcello. Dengan mata yang masih terpejam, Marcello menelan semua obat yang diserahkan oleh Marissa kemudian kembali bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Apakah kamu sangat membenci Daddy, Nak? Hingga kamu ajab Daddy seperti ini," ucap Marcello dengan suara yang terdengar sangat lemah.
"Tenang saja, Dad. Kata Dokter ini tidak akan lama, jadi sabar ya," ucap Marissa sambil terkekeh pelan setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
Bukan hanya Marissa yang merasa lucu mendengar ocehan Marcello, Dian dan Joe pun ikut terkekeh tetapi tak ada yang berani mengeluarkan suara. Hanya bahu mereka yang terlihat bergetar dan bergerak turun-naik.
Sementara Marcello sedang menggantikan posisi Marissa mengalami Morning Sickness, Tuan Riyadh Abraham sedang berusaha keras menahan emosinya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Riyadh berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di bangunan mewah itu. Hingga akhirnya ia menemukan sang Istri sedang duduk bersantai bersama putra semata wayang mereka, Zaid Hanif. Riyadh menghampiri wanita itu dan kini berdiri tepat di hadapannya.
"Bisakah kita bicara empat mata, Ismika? Ada sesuatu yang penting, yang harus kita bicarakan sekarang juga," tegas Riyadh.
Ismika dan Zaid saling bertatap mata. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu.
"Kenapa tidak bicarakan disini saja?" tanya Ismika sembari membalas tatapan tajam lelaki itu.
"Ini masalah kita, Ismika. Zaid tidak perlu tahu," jawabnya singkat.
Riyadh melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu dan kini tinggal Ismika dan Zaid yang kembali saling bertatap.
"Ada masalah apalagi sih, Ma? Perasaan masalah kalian itu tidak ada habisnya sejak zaman dulu," tanya Zaid dengan wajah malas.
__ADS_1
Ismika menghembuskan napas kasar kemudian bangkit dari tempat duduknya. "Papamu lah yang suka cari gara-gara, Zaid," kesalnya sambil melenggang pergi.
Ismika berjalan mengikuti langkah Riyadh dari kejauhan. Ia masih bisa melihat lelaki itu berjalan menuju ruangan pribadinya.
"Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh Riyadh. Kenapa perasaanku sangat tidak enak," gumam Ismika.
Hingga akhirnya ia tiba di depan ruangan itu. Dimana Riyadh sudah menunggunya di depan pintu dan mempersilakan Ismika masuk.
"Masuklah," titahnya.
Setelah Ismika masuk kedalam ruangan itu, Riyadh pun bergegas menutup pintu dan menguncinya. Ismika sontak terkejut dan menoleh ketika ia mendengar suara pintu yang terkunci.
Ia menatap Riyadh yang kini memasang wajah kesal dan lelaki itu tiba-tiba melengos di depan wajahnya kemudian duduk di sofa yang ada disana.
Riyadh menyeringai sambil membalas tatapan Ismika. "Ternyata dugaanku selama ini benar, Ismika. Ternyata kamu adalah dalang atas menghilangnya Dian selama ini."
Ismika menghembuskan napas berat. Ia sudah menduga bahwa Riyadh memang akan membahas tentang wanita itu lagi. Ia memutarkan bola matanya kemudian memasang wajah malas.
"Ya Tuhan, Riyadh! Bukankah sudah ribuan kali aku katakan, bahwa wanita itu pergi dari rumah ini atas kemauan dirinya sendiri dan bukan atas paksaan apalagi seperti yang kamu tuduhkan kepadaku!!!" kesalnya.
"Sudah cukup, Ismika! Akui saja, aku sudah tahu semuanya!"
Riyadh bangkit kemudian menghampiri Ismika.
"Apa? Apa yang sudah kamu ketahui? Tuduhan apa lagi yang akan kamu lontarkan kepadaku! Katakan, Riyadh!" tantang Ismika dengan sorot mata tajam menatap lelaki itu.
__ADS_1
Riyadh mencengkeram tangan Ismika dengan erat. "Apa kamu tahu, Ismika? Dian masih hidup, begitupula anak kami. Sekarang ia sudah dewasa, hanya selisih dua tahun antara dia dan Zaid!"
Mata Ismika membulat sempurna. Ia benar-benar shok mendengar penuturan Riyadh saat itu.
"Bagaimana bisa?! Bukankah mereka sudah berhasil menyingkirkan Dian pada malam itu? Atau mereka hanya menipuku selama ini," batin Ismika.
"Kenapa diam, Ismika? Kamu pasti bertanya-tanya dari mana aku mengetahui semua itu, 'kan?!"
Ucapan Riyadh saat itu memang pelan, tetapi terdengar begitu tegas. Wajahnya yang sudah memerah, pertanda lelaki itu tidak sedang bermain-main pada Ismika.
Riyadh tersenyum sinis kemudian kembali melanjutkan ucapannya. "Aku sudah bertemu Dian dan anak kami, Ismika. Dan Dian sudah menceritakan semuanya tentang kejadian malam itu, dimana kamu dan orang-orang suruhanmu berusaha menyingkirkan dia dan bayi dalam kandungannya!"
"Bohong!!!" teriak Ismika yang tidak mau kalah.
Tubuh Ismika bergetar hebat dan buliran bening itupun meleleh dari kedua sudut matanya.
"Dia bohong dan kamu percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu? Kamu benar-benar bodoh, Riyadh! Aku sudah menemanimu selama 22 tahun sedangkan wanita itu baru beberapa jam bertemu denganmu dan kamu sudah percaya dengan ucapannya, keterlaluan!" lanjut Ismika sambil terisak.
"Kamu bisa saja mengelak untuk sekarang, Ismika. Tetapi, begitu kedua lelaki itu tertangkap, maka kamu pun akan ikut bersama mereka,"
"Kamu--"
Ismika tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia benar-benar ketakutan. Ia tidak menyangka, rahasia besar yang selama 19 tahun ini ia tutupi dengan begitu rapih, ternyata berhasil terbongkar.
...***...
__ADS_1