
Tok ... tok ... tok ....
Shakila mengetuk pintu ruang kerja Joe sembari meminta izin masuk kepada lelaki itu.
"Dad, ini Kila. Boleh Kila masuk?"
"Masuklah, Shakila."
Terdengar suara Joe dari dalam ruangan itu. Perlahan Shakila mendorong pintu tersebut seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Hai, Dad!" sapa Shakila sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk lelaki yang kini duduk di sofa. Ternyata Joe tidak sendiri, ia bersama sang istri, Sofia.
"Duduklah," titah Joe.
Joe menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya dan memerintahkan Shakila untuk duduk di tempat itu. Sofia pun menurut saja, menjatuhkan dirinya di samping Tuan Joe yang kemudian diapit oleh Sofia.
"Mom? Sebenarnya ada apa ini?" tanya Shakila heran karena raut wajah kedua orang tuanya terlihat sendu, tidak seperti biasanya.
Joe meraih wajah Shakila yang saat itu sedang memperhatikan ekspresi Sofia yang terlihat sangat menyedihkan.
"Shakila, hari ini Daddy ingin menceritakan sebuah rahasia kepadamu. Sebuah rahasia yang mungkin akan membuatmu kecewa dan juga marah kepada kami," tutur Joe.
"Rahasia ... rahasia apa, Dad?" tanya Shakila yang mulai penasaran.
"Ini tentang masa lalumu, Shakila. Daddy rasa ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya. Tetapi, sebelumnya Daddy ingin meminta maaf jika kata-kata yang keluar dari mulut Daddy akan membuatmu kecewa."
"Daddy kenapa, sih?"
"Dengarkan saja Daddymu, Kila."
__ADS_1
Sofia memeluk tubuh Shakila sebelum Joe mulai menceritakan kebenaran itu kepada Shakila. Gadis itupun akhirnya memilih diam dan mulai memasang telinga agar ia bisa mendengar dengan jelas apa yang ingin dikatakan oleh Daddynya.
"Kila, 20 tahun yang lalu. Beberapa hari sebelum hari ulang tahun Tuan Muda Marvel dan Melvin yang ke-dua, Daddy bertemu denganmu disebuah panti asuhan. Saat itu usiamu baru berusia beberapa hari. Mommy jatuh cinta padamu pada saat pertama kali melihatmu, Kila. Begitupula Daddy. Hingga akhirnya Mommy dan Daddy memutuskan untuk mengadopsimu."
"A-apa ini? Kalian pasti sedang bercanda 'kan? I-ini benar-benar tidak lucu, Dad!" kesal Shakila yang kemudian memperhatikan ekspresi wajah sendu Tuan Joe dan Sofia saat itu.
"Maafkan kami, Nak. Tapi, seperti itulah kenyataannya," ucap Tuan Joe.
"Ini benar-benar tidak lucu!"
Shakila bangkit dari tempat duduknya kemudian berlari kecil meninggalkan ruangan itu sambil terisak.
"Shakila, dengarkan Daddy! Daddy belum selesai bicara."
Namun, Shakila tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Tuan Joe saat itu. Ia benar-benar kecewa dan berharap apa yang dikatakan oleh lelaki itu hanyalah sebuah kebohongan yang sengaja diciptakan olehnya. Shakila terus melangkahkan dengan cepat sembari menyeka air mata yang masih keluar dari pelupuk matanya.
"Kak Kila? Kak Kika kenapa?" tanya Lea yang kebingungan saat Shakila melewatinya sambil menangis.
"Sebenarnya ada apa, Mom? Kenapa kalian pada menagis semua? Kenapa Lea tidak di ajak juga?" tanya Lea.
"Hush! Siapa yang menangis. Ada debu yang masuk ke dalam mata Mommy, makanya mata Mommy berair. Memangnya ada orang nangis ngajak-ngajak? Kamu ini ada-ada aja," sahut Sofia yang kemudian kembali menyusul Shakila.
"Ya, kali aja 'kan."
"Sofia, biarkan dia sendiri. Dia butuh waktu untuk menerima semuanya," ucap Joe.
Sofia pun mengurungkan niatnya kemudian menghampiri Joe dan memeluknya. "Bagaimana ini, Mas. Aku takut Shakila tidak bisa menerimanya dan malah membenci kita."
"Tidak mungkin, percayalah padaku. Shakila pasti bisa menerimanya, sama seperti Aira."
__ADS_1
"Mereka membicarakan masalah apa, sih? Aku jadi bingung?!" Lea menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memperhatikan Mommy dan Daddynya.
Shakila berlari ke bangunan megah milik Tuan Marcello dan ingin bersembunyi disana untuk beberapa saat. Ia ingin menenangkan diri agar bisa berpikir jernih sama seperti sebelumnya. Disaat ia berlari, tanpa sengaja Shakila menabrak Marissa yang ingin ke kamarnya.
"Shakila, kamu kenapa?" Marissa menghampiri Shakila dan memperhatikan wajah sedihnya.
"Mommy Icha, Shakila ...."
Shakila terisak di pelukan Marissa dan Marissa pun bergegas menuntun gadis itu menuju sofa kemudian mendudukkannya disana.
"Shakila, ceritakan semuanya pada Mommy apa yang membuatmu menjadi seperti ini," ucap Marissa sambil menatap lekat kedua bola mata indah milik Shakila.
Perlahan Shakila mulai menceritakan semua yang dikatakan oleh Tuan Joe kepadanya. Gadis itu terisak-isak saat menceritakan hal itu dan membuat Marissa begitu iba.
"Apa yang dikatakan oleh Daddy itu benar, Mom? Tidak 'kan? Mereka pasti bohong 'kan?" ucapnya.
Marissa menghembuskan napas berat kemudian memeluk gadis itu.
"Kamu tidak sendiri, Shakila. Mommy pun pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang. Apa kamu tahu, Mommy juga seorang anak adopsi yang diambil dari panti asuhan dan lucunya kita sama-sama berasal dari panti asuhan yang sama, Shakila. Kamu dan Mommy!" sahut Marissa.
Shakila menyeka air matanya. "Ja-jadi itu benar? Shakila hanya anak pungut yang diambil dari panti asuhan?"
"Kila sayang, sebenarnya kamu adalah bayi yang paling beruntung. Di luaran sana, masih banyak Shakila-Shakila yang nasibnya tidak seberuntung kamu. Mereka terlantar dan tak seorangpun menginginkan mereka. Tapi, lihatlah dirimu. Semua orang menyayangimu, Shakila. Bukan hanya Tuan Joe dan Sofia, bahkan Mommy Icha dan Daddy Marcello pun begitu menginginkan dirimu, hanya saja saat itu kami mengalah karena Daddy Joe dan Mommy Sofia belum memiliki seorang anak. Dan sekarang lihatlah mereka, apakah Mommy dan Daddymu berubah setelah mereka dikaruniai anak? Tidak 'kan? Mereka tetap menyayangimu, Shakila. Dan itu yang lebih penting dari semuanya," tutur Marissa sambil mengusap lembut rambut Shakila yang tergerai indah.
Shakila terdiam dan kata-kata Marissa saat itu benar-benar meresap ke dalam hatinya. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke dada Marissa yang saat itu masih memeluk tubuhnya dengan erat.
"Tapi, Kila masih sedih, Mom. Hatiku masih belum bisa menerima kenyataan yang menyakitkan ini," sahut Shakila.
"Ya, Mommy mengerti. Dulu Mommy pun butuh waktu menerima kenyataan itu. Tetapi, Mommy tidak menyalahkan siapapun, Mommy anggap semua itu adalah takdir Mommy dan mau tidak mau, Mommy harus menerimanya dengan ikhlas."
__ADS_1
...***...