
Dreett ... dreett ... dreettt ....
Dylan baru saja selesai mandi dan berniat mengenakan piyama tidurnya. Baru saja Dylan meraih piyama Doraemon pemberian Maria, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara getar dari ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Dylan mengurungkan niatnya dan meletakkan piyama tidur Doraemon tersebut ke atas tempat tidur. Sekarang ia meraih ponselnya yang masih bergetar dan mengecek siapa yang sedang menghubunginya.
"Maria, tidak salah lagi 'kan," gumam Dylan sembari meletakkan ponselnya ke samping telinga.
"Ya, Nona?"
"Om!" pekik Maria karena saking senangnya. Ini pertama kalinya Dylan menerima panggilannya dengan cepat. Biasanya butuh berkali-kali Maria melakukan panggilan, baru di terima oleh lelaki itu.
"Ya Nona, Apa ada kabar baik buatku?" tanya Dylan sembari mengucek telinganya yang terasa sakit akibat pekikan gadis itu.
"Belum sih, Om. Tapi Om tenang saja, Maria yakin Daddy pasti setuju!" sahut Maria sembari menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Semoga saja ya, Nona."
"Oh ya, Om. Piyama pemberianku Om pake 'kan?"
Dylan menggaruk kepalanya sambil memperhatikan piyama Doraemon yang teronggok di atas tempat tidur.
"Ya."
"Sekarang?" tanya Maria penasaran.
"Ehm, ya."
"Akh! Maria juga sedang pake nih, Om! Mau lihat? Maria VC, ya?" sahut Maria dengan begitu antusias.
__ADS_1
"Jangan, jangan! Sekarang aku sedang berada di kamar kecil, Nona Maria. Jangan di VC, bahaya!" pekik Dylan.
"Owh, begitu ya. Maaf," lirih Maria.
"Bisa berabe kalau Maria melihatku sedang berada di kamar ini, bisa-bisa dia curiga padaku," gumam Dylan sembari menjauhkan ponselnya agar Maria tidak dengar apa yang ia ucapkan.
"Nanti kasih aku fotomu saja, Nona. Itu sudah cukup."
"Baiklah. Kirim juga foto Om ya, yang pake piyama pemberian dariku," jawab Maria dengan sangat antusias.
"Ya, baiklah. Sudah dulu ya, Nona. Aku masih ingin ehm--"
"Ehm, ya, ya! Maria paham kok, Om! Bye, Om Udin, Love you," ucap Maria.
Tit ...
Panggilan pun di matikan oleh Maria. Dylan tersenyum sembari menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat bahagia apalagi setelah mendengar kata cinta dari gadis menggemaskannya itu.
"Kasian Om Udin, dia lagi asik poop malah aku gangguin," gumam Maria sambil terkekeh pelan.
Maria mengambil foto dirinya dengan menggunakan piyama Hello Kittynya kemudian mengirimkan foto tersebut ke nomor ponsel Dylan. Begitupula Dylan, setelah mengenakan piyama Doraemon pemberian Maria, ia pun segera mengambil foto dirinya dan mengirim ke ponsel milik Maria.
"Ya, Tuhan! Manisnya Om Udin!" pekik Maria setelah melihat foto Dylan yang sedang mengenakan piyama Doraemon tersebut.
Tepat di saat itu, pintu kamar Maria diketuk oleh seseorang dari luar.
"Siapa?"
"Ini Mommy, Maria. Daddy ingin bicara padamu soal itu," ucap Marissa dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Maria bergegas bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu kamar dan nampaklah sang Mommy yang sedang berdiri dengan anggunnya.
"Benarkah? Nanti bantuin Maria ngomong ya, Mom."
"Ya, dan berdoa saja semoga Daddymu mau mendengarkan omongan kita," sahut Marissa.
Setelah menutup pintu kamar, Maria pun bergegas mengikuti Marissa yang sudah melangkah lebih dulu di depannya. Setibanya di ruang utama ternyata benar, Marcello sudah duduk disana sambil memperhatikan kedua wanita cantik yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Dad,"
"Duduklah, Gadis Daddy."
Maria duduk tepat di hadapan sang Daddy. Sedangkan Marissa duduk di samping Marcello untuk berjaga-jaga, siapa tahu tiba-tiba saja tekanan darahnya naik kemudian marah-marah kepada anak gadisnya itu.
"Mommy-mu sudah bicara sama Daddy soal keinginanmu, Maria. Sekarang Daddy ingin mendengarnya langsung darimu," ucap Marcello yang nampak sangat serius.
Maria melirik Marissa sejenak kemudian kembali fokus pada sang Daddy yang masih menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
"Apa yang dikatakan oleh Mommy itu benar, Dad. Maria tidak ingin bertunangan dengan Tuan Aidan karena menurut Maria, Tuan Aidan itu terlalu sombong. Kemarin saat Tuan Aidan mengajak Maria jalan, tidak sengaja kami bertemu dengan seorang wanita cantik. Maria yakin, wanita itu adalah mantannya Tuan Aidan. Tuan Aidan tidak mau mengakui Maria sebagai calon tunangannya. Dia malah bilang bahwa Maria adalah Adik sepupunya."
"Benarkah?" Marcello mengerutkan kedua keningnya.
"Ya, Dad. Sumpah, Maria tidak bohong. Kalau Maria bohong, Daddy bisa potong uang jajan Maria selama setahun penuh!"
Marcello mencebikkan bibirnya. "Dan sekarang bisakah kamu jelaskan pada Daddy, siapa itu Udin?"
"Sebentar,"
Maria meraih ponsel yang ia simpan di saku piyama tidurnya. Kemudian mulai membuka aplikasi pesan chatnya bersama Dylan. Ia menemukan foto Dylan yang sedang mengenakan piyama tidur bermotif Doraemon, yang baru saja dikirimkan oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Nah, Dad. Inilah Om Udin, dia tampan 'kan? Maria baru saja dapat fotonya, Dad!" ucap Maria dengan sangat antusias menyerahkan ponselnya kepada Marcello.
...***...