Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 109


__ADS_3

"Daddy, Daddy pernah ketemu sama Putra pertama Ayah? Bagaimana wajahnya? Dia pasti tampan, persis seperti Ayah ya 'kan, Dad?" tanya Marissa ketika mereka tengah berjalan-jalan menikmati keindahan taman di belakang Mansion.


Saat itu pasangan Fattan dan Etika pun berada di taman itu. Mereka mengelilingi taman sambil sesekali ber-selfie ria di antara berbagai macam jenis bunga.


Marcello tersenyum sembari merengkuh pundak Marissa. "Ya, dia sangat tampan, persis seperti Tuan Riyadh. Selain tampan, dia juga cerdas. Ia ikut bekerja di perusahaan Ayah kalian disela-sela kesibukan kuliahnya. Oh ya, bukankah dia juga hadir di acara pernikahan kita kemarin? Apa kamu tidak ingat, dia sempat mengucapkan selamat buat kita,"


Marissa menggelengkan kepalanya perlahan. "Mungkin saja dia sempat memberikan selamat, tetapi karena aku tidak kenal, makanya tidak terlalu memperhatikan. Ehm, aku yakin Ayah pasti bangga padanya ya, 'kan? Sedangkan aku--"


Perkataan Marissa terhenti karena ia merasa malu saat itu. Marcello memperhatikan ekspresi wajah Marissa dan ia sempat bingung, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu.


"Kamu kenapa, Cha?" tanya Marcello.


"Aku sebenarnya malu, Dad. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari diriku. Jangankan pandai berbisnis sepertinya, kuliahku saja tidak pernah selesai-selesai," jawab Marissa sambil tersenyum kecut.


Marcello tergelak mendengar ucapan Marissa saat itu. "Yang membuat kuliahmu tidak selesai-selesai, siapa?" goda Marcello.


Marissa menekuk wajahnya. Ia kesal mendengar gelak tawa lelaki itu. "Ya, Icha juga, sih. Tapi 'kan semua itu karena Icha sering kabur, kabur dari Daddy tentunya. Habisnya Daddy itu menyebalkan, tau gak!" kesal Marissa.


"Tapi sekarang tidak lagi, 'kan?"


Marissa melemparkan senyuman manisnya kemudian mendekap tubuh lelaki itu dengan erat. "Masih, walaupun tidak tiap hari," jawabnya.

__ADS_1


Kembali ke Ismika.


Dengan langkah tergesa-gesa, Ismika berjalan menyusuri ruangan yang ada di kediaman mewahnya. Ia menuju halaman depan dan menghampiri Sopir pribadinya.


"Pak, ke hotel XX."


"Baik, Nyonya."


Ismika masuk ke dalam mobil dan duduk didalam sana dengan wajah gusar. Setelah itu, Sopir pribadinya pun menyusul dan segera melajukan mobil tersebut menuju hotel yang dimaksud oleh Ismika.


Ismika terus bergumam ria. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan terjebak dalam situasi terburuk dalam sejarah hidupnya. Dimana lelaki yang selama ini menjadi pemuas nafsunya, kini menjadi parasit dalam hidupnya.


"Bagaimana cara menyingkirkan lelaki itu? Haruskah aku melakukan cara yang sama, seperti aku menyingkirkan Dian saat itu? Tapi tidak, Dian saja masih bisa selamat. Apalagi lelaki bodoh itu!" kesalnya.


Ternyata lelaki itu sudah menunggunya di sebuah kamar mewah yang memang sengaja ia pesan sebelumnya. Lelaki itu hanya menggunakan kimono tidur saat itu dan ia tersenyum hangat ketika menyambut kedatangan Ismika.


"Selamat datang, Sayang. Bagaimana kabarmu, aku sudah sangat merindukanmu," ucap lelaki itu sembari menghampiri Ismika.


"Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? Uang? Berapa banyak, sebutkan saja!" ketusnya.


Lelaki itu menyeringai sembari mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ismika. Ia membelai rambut indah Ismika yang tergerai sambil berbisik pelan di samping telinganya.

__ADS_1


"Aku butuh kehangatan darimu, Ismika. Kita sudah lama tidak melakukan itu, bukan? Sekarang marilah kita bersenang-senang, lagipula kamu juga sudah lama tidak mendapatkan kehangatan dari seorang laki-laki, 'kan?!" bisiknya.


Akhirnya Ismika luluh dan mengikuti perkataan lelaki itu.


Beberapa jam kemudian, Ismika dan lelaki itu keluar dari hotel. Sebelum Ismika memasuki mobilnya, ia sempat menyerahkan sejumlah uang kepada lelaki itu. Dari kejauhan, seseorang dengan tidak sengaja memperhatikan mereka. Ia menghentikan mobilnya setelah melihat Ismika berjalan bersama seorang lelaki yang tidak ia kenali.


"Bukankah itu Mama, lalu siapa lelaki itu? Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh Papa itu benar. Tidak, tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk seperti itu sebelum aku mendapatkan bukti yang nyata," gumam Zaid sambil terus memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Mulai sekarang berhentilah menghubungiku. Lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal," ucap Ismika.


Lelaki itu kembali menyeringai licik. Ia mengangkat sebelah alisnya sambil menatap lekat wajah Ismika.


"Tapi aku masih butuh kamu."


"Bukan aku, tapi uangku!" tegas Ismika dengan wajah kesal membalas tatapan lelaki itu.


"Jalan, Pak!" titahnya kepada Pak Sopir.


Sopir pribadi Ismika pun segera melajukan mobilnya dan melesat pergi meninggalkan hotel tersebut.


"Ismika, ismika ... tidak semudah itu melupakan aku. Aku bukanlah mainan yang bisa kamu kamu mainkan disaat kamu butuh dan kamu buang setelah kamu puas memainkannya. Aku akan selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupmu, ismika. Yang selalu hadir dan mengikuti kemanapun kamu pergi," gumam lelaki itu sambil tersenyum puas karena sudah mendapatkan sejumlah uang dari wanita itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2