
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu kembar, Tuan Melvin," ucap Aira kepada Melvin yang terus memperhatikan dirinya sejak tadi.
"Ya, aku kembar dan aku lupa memperkenalkan dirimu dengannya. Namanya Marvel, dia adalah calon suaminya Shakila, gadis kembaranmu," sahut Melvin.
"Serius, Tuan Melvin. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar mirip denganku! Padahal kami sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Aku punya orang tua dan dia pun sama, benar-benar sebuah keajaiban." Aira menggelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
Di mobil lain, dimana Shakila dan Tuan Joe berada.
"Daddy, bagaimana bisa gadis itu benar-benar mirip denganku?" tanya Shakila yang kini masih berada di dalam pelukan Tuan Joe. Ia mendongak dan memperhatikan wajah Joe yang terlihat cemas.
Joe menarik napas dalam kemudian menghembuskannya. "Entahlah, Shakila. Sama seperti dirimu, Daddy pun shok setelah melihat gadis itu."
Sementara itu di mansion.
"Bagaimana, Mom ... apa sudah ada kabar dari mereka?" tanya Maria sembari menghampiri Marissa dan Sofia yang sedang duduk di sofa ruang utama dengan wajah cemas.
"Belum, Maria. Semoga saja mereka baik-baik saja. Terutama Shakila," sahut Marissa.
Tepat di saat itu, rombongan mobil yang membawa Bodyguard tiba di halaman depan mansion. Kemudian disusul oleh beberapa mobil lainnya.
Marissa dan Sofia bergegas menuju halaman depan, begitupula Maria. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Shakila dan mengetahui keadaannya.
Pintu mobil pertama terbuka, nampaklah Joe dan Shakila yang kini berjalan menghampiri ketiga wanita itu. Dengan mata berkaca-kaca, Shakila berlari kecil menuju Sofia kemudian memeluknya.
"Mommy," lirihnya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang?" Sofia memeluk erat tubuh Shakila dan mengusap lembut rambutnya yang sedang tergerai.
"Tidak apa-apa, Mom. Beruntung semuanya datang tepat waktu. Terlambat sedikit saja, Shakila tidak tau akan seperti apa nasib Kila di tempat itu," tutur Shakila.
"Oh, syukurlah!" pekik mereka bersamaan.
Tuan Marcello mengajak mereka memasuki mansion dan berbincang di ruang utama. Sedangkan Melvin dan Aira yang baru saja tiba, segera menyusul semua orang yang sudah berkumpul di ruangan itu.
__ADS_1
Marissa, Sofia dan Maria begitu shok saat melihat Aira yang sedang berjalan di samping Melvin. Gadis itu nampak malu-malu karena semua mata tertuju pada dirinya.
"Si-siapa Kakak itu?!" pekik Maria dengan mata membulat sempurna saat menyaksikan Aira yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Jadi, semua itu benar, Melvin?! Oh, Tuhan! Mommy tidak percaya, dia benar-benar mirip Shakila." Marissa pun tidak kalah histeris.
"Kenalkan semuanya, nama gadis ini Aira. Dan sekarang kalian percaya 'kan kalau aku tidak bohong." Melvin memperkenalkan sosok Aira kepada semua orang diruangan itu.
Walaupun gugup dan merasa sangat malu, tetapi Aira tidak sungkan menyalami semua orang yang ada disana, termasuk Maria.
"Kak, kenapa kamu mirip sekali sama Kak Kila?" pekik Maria dengan tangan gemetar menyambut uluran tangan Aira. Maria bahkan tidak berkedip sedikitpun saat menatap gadis itu. Ia melirik Shakila kemudian Aira secara bergantian dan hal itu membuat ia merasa pusing.
"Astaga, sepertinya aku akan jatuh pingsan setelah ini," gumamnya.
"Ish, Maria. Kamu ini ada-ada saja." Marissa meraih tubuh anak gadisnya itu kemudian memeluknya.
Tuan Marcello mempersilakan gadis itu untuk duduk bersama mereka dan mereka pun mulai berbincang-bincang.
"Boleh kami tahu siapa orang tuamu, Aira? Siapa tahu kami mengenal mereka, benar 'kan Joe?"
"Ya ... Anda benar, Tuan Marcello," sahut Joe sambil membuang napas berat.
Aira pun dengan sangat antusias menjawab pertanyaan dari Tuan Marcello dan ia juga menceritakan apa pekerjaan Daddy dan Mommynya selama ini.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan padanya Joe?" tanya Marcello dengan setengah berbisik kepada Joe.
"Sebaiknya aku menemui kedua orang tuanya saja, Tuan Marcello. Biar semuanya jelas. Saya rasa tidak tepat mempertanyakan hal ini kepada Aira karena saya yakin, Aira pun tidak tahu."
"Terserah padamu, Joe." Marcello mengangkat kedua bahunya dan membiarkan Joe mengambil keputusannya.
"Sebenarnya ada apa ini, Dad? Kenapa Daddy terlihat cemas?" tanya Shakila.
"Daddy tidak bisa menceritakan semuanya sekarang, Shakila, sebelum Daddy menemui kedua orang tua Aira."
__ADS_1
Shakila semakin penasaran dan ia tahu bahwa ada yang tidak beres sekarang ini.
Tidak terasa, sore pun menjelang. Melvin ingin segera mengantarkan Aira kembali ke rumahnya. Bukan hanya Melvin, Tuan Joe pun ikut bersama mereka. Ia ingin menemui kedua orang tua Aira dan membicarakan tentang hal itu.
Setibanya di tempat itu, kedatangan mereka pun disambut hangat oleh kedua orang Aira. Jika Joe memilih tinggal sebentar di tempat itu, Melvin memilih pamit dan kembali ke mansion.
"Silakan duduk, Tuan Joe. Wah, suatu kehormatan bagi kami karena Anda bersedia mengunjungi kediaman kami yang sederhana ini," ucap Daddy Aira, Tuan Hardy Barnard yang ternyata mengenali sosok Tuan Joe sebagai Asisten Tuan Marcello.
"Terima kasih, Tuan Hardy."
Setelah Joe duduk di sofa yang ada di ruangan itu, Tuan Hardy pun kembali memulai percakapan mereka.
"Maafkan putri saya, Tuan Joe. Mungkin dia sudah menyusahkan Anda," ucap Tuan Hardy yang sama sekali tidak tahu tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Ehm, Tuan Hardy. Bicara soal putrimu, Aira, bolehkah aku bertanya sesuatu tentangnya?"
Tuan Hardy dan Nyonya Lisa saling tatap sejenak dengan raut wajah sedikit cemas.
"Memangnya ada apa, Tuan Joe? Apa ini tentang pekerjaan putri kami yang memalukan itu? Ini memang salah kami, Tuan Joe. Karena kurangnya perhatian kami, Aira malah terjerumus ke dalam pekerjaan yang seperti itu," lirih Tuan Hardy dengan kepala tertunduk.
"Sebenarnya bukan tentang itu, Tuan Hardy. Apa kamu sudah tahu bahwa putriku dan putrimu begitu mirip. Bahkan saking miripnya, mereka susah dibedakan. Coba lihat ini."
Joe menyerahkan ponselnya dan di dalamnya terdapat foto Shakila. Tuan Hardy menyambut ponsel tersebut kemudian pasangan itupun memperhatikan foto Shakila dengan mata membulat sempurna.
"Daddy, apa jangan-jangan ...." Nyonya Lisa tidak berani melanjutkan ucapannya. Wajahnya terlihat cemas saat itu, sama seperti raut wajah Tuan Hardy dan juga Joe.
"Maaf jika pertanyaanku lancang dan menyinggung perasaan kalian berdua, Tuan Hardy. Tapi, aku harus melakukannya demi kejelasan Shakila, anak perempuanku."
"Ta-tanyakanlah, Tuan Joe," sahut Tuan Hardy dengan terbata-bata.
"Apa Aira putri kandung kalian?"
Seketika Tuan Hardy dan Nyonya Lisa pun terdiam.
__ADS_1
...***...
Yang nungguin cerita Nona Kitty dan Om Emon, sabar ya ... kita kelarin dulu masalah Aira dan Shakila, oke 😍😍😍