
"Joe, cari rumah warga yang bisa kita sewa untuk sementara. Aku ingin tinggal disini sampai gadis itu benar-benar luluh dan bersedia kembali ke Mansion," ucap Marcello sembari meninggalkan kediaman Bu Nilam.
"Baik, Tuan."
Joe mengikuti langkah kaki Marcello yang berjalan menghampiri mobilnya. Setelah lelaki itu masuk kedalam mobil, Joe pun segera menyusulnya. Salah seorang Bodyguard menghampiri Joe yang sedang duduk didepan setir mobil. Ia mengajak bicara lelaki itu lewat kaca mobil yang masih terbuka lebar.
"Bagaimana, Tuan?"
"Coba tanya pada warga sekitar sini, siapa yang bersedia menyewakan rumah mereka untuk Tuan Marcello. Katakan pada mereka bahwa kita bersedia membayar mahal asalkan mereka bersedia. Dan jika mereka masih tidak mau, maka ancam mereka. Aku yakin tidak ada satupun warga yang berani setelah melihat wajah sangarmu," ucap Joe.
Wajah Bodyguard itu terlihat masam ketika mendengar Joe mengatakan wajahnya sangar. Padahal yang sebenarnya, wajah Joe pun tidak kalah sangar dari mereka.
"Baik, Tuan."
Bodyguard itu berjalan menjauhi mobil Joe. Ia terlihat berdiskusi dengan Bodyguard yang lainnya hingga akhirnya mereka mulai menghampiri rumah-rumah warga untuk menanyakan perihal sewa rumah untuk sementara.
Ternyata tidak semudah yang mereka pikirkan, mencari warga yang bersedia menyewakan rumah mereka walaupun dengan iming-iming bayaran yang mahal. Hingga akhirnya ada seorang warga yang bersedia menyewakan rumahnya, tetapi jaraknya lumayan jauh dari kediaman Bu Nilam. Bodyguard kembali menghampiri mobil Joe, kemudian memberitahukan soal itu.
"Bagaimana, Tuan? Rumahnya cukup jauh dari kediaman Ibunya Fattan dan Anda tidak bisa memantau Nona Marissa setiap saat," tanya Joe.
Marcello nampak berpikir keras dan setelah itu ia pun menganggukkan kepalanya walaupun terlihat sedikit kecewa. "Baiklah, segera urus semuanya."
"Baik, Tuan."
Merekapun segera pergi meninggalkan kediaman Bu Nilam dan menuju rumah yang akan ditempati oleh Marcello untuk sementara.
"Fiuhhhh!!! Akhirnya mereka pergi juga," gumam Marissa sambil menyeka keringat yang mengucur dari pelipisnya.
__ADS_1
Sejak tadi gadis itu hanya berdiri disamping jendela, mengintip Marcello dan anak buahnya. Ia merasa lega karena lelaki itu sudah pergi dan ia berharap, Marcello tidak akan pernah menemuinya lagi.
"Mereka sudah pergi, Nak?" tanya Bu Nilam dengan wajah pucat pasi.
"Ya, Bu."
Marissa menundukkan kepala sambil meremass kedua tangannya secara bergantian. Ia merasa bersalah, karena dirinya lah, sekarang Fattan menjadi sasaran empuk para lelaki sangar itu.
"Maafkan Marissa, Bu. Gara-gara Marissa, kalian jadi ikut berurusan dengan Tuan Marcello," ucap Marissa tanpa berani menatap wajah wanita paruh baya itu.
Bu Nilam menghampiri Marissa kemudian merengkuh tubuh Marissa. "Tidak apa-apa, Nak. Lagipula Tuan Marcello tidak menyakiti kami, kok."
"Maafkan Marissa ya, Bu." Marissa memeluk tubuh Bu Nilam dan entah mengapa ia merasa begitu nyaman ketika berada di pelukan wanita itu.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa," sahut Bu Nilam sambil mengusap kepala Marissa dengan lembut.
"Pak Fattan, peluk aku!" pintanya sambil mengulurkan tangan kepada Fattan. Sontak saja Fattan semakin menjauh dari gadis itu.
"Eh, jangan sama Fattan, gak boleh! Sini, sama Ibu saja," ajak Bu Nilam kepada Erika.
Secepat kilat gadis itu menyambar pelukan Bu Nilam. Ia memeluk Bu Nilam dan Marissa secara bersama-bersama dengan sangat erat.
"Erika! Kamu mau membunuhku, ya! Aku tidak bisa bernapas!" keluh Marissa sembari melepaskan pelukan gadis itu.
"Maaf!"
Sementara itu.
__ADS_1
Marcello dan Joe sudah berada dirumah yang akan ditempati oleh lelaki itu untuk sementara. Hingga ia berhasil meluluhkan hati Marissa yang keras seperti batu dan membawa gadis itu pulang bersamanya.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Joe dan bawa serta para Bodyguard," titah Marcello.
"Tapi, Tuan. Apa Anda yakin tinggal disini sendirian?" tanya Joe sambil menautkan kedua alisnya menatap lelaki itu.
"Ya, aku akan baik-baik saja. Jangan kamu kira aku tidak sanggup bertahan hidup di desa ini, ya! Marissa saja sanggup, masa aku sebagai laki-laki tidak sanggup?! Memalukan!" sahutnya mantap.
Karena tidak berani membantah perkataan bossnya itu, Joe pun akhirnya menganggukkan kepala.
"Baiklah, Tuan. Saya dan para Bodyguard akan kembali ke Kota. Tetapi, jika Anda butuh sesuatu segera hubungi saya," ucap Joe.
Mereka tidak tahu saja bahwa di Desa itu tidak ada sinyal dan semoga saja, Author tidak khilaf lagi dengan yang satu ini.
Malam itu, Joe dan para Bodyguardnya kembali ke kota.
"Joe, tolong urus perusahaan dan Mansion sementara aku masih disini. Aku percayakan semuanya kepadamu dan aku berjanji tidak akan lama tinggal disini, paling sehari-dua, Icha-ku pasti akan luluh padaku."
Marcello begitu yakin ketika mengucapkannya. Sedangkan Joe hanya manggut-manggut saja, walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak yakin dengan ucapan lelaki itu. Joe tahu bagaimana sifat Marissa, gadis keras kepala yang tidak mungkin luluh begitu saja.
"Baiklah, Tuan. Semoga berhasil."
Setelah berpamitan, Joe pun segera meluncur bersama anak buahnya, meninggalkan Marcello sendirian ditempat itu.
"Setelah kita berhasil keluar dari desa ini, sebaiknya kita cari penginapan. Aku sudah sangat lelah," keluh Joe kepada Bodyguardnya.
"Siap, Tuan!"
__ADS_1
...***...