
"Sekarang kamu mau makan siang dimana, Nona?" tanya Dylan.
"Sebentar!"
Maria membuka tas ranselnya kemudian menghitung jumlah uang yang tersimpan di dalam ransel tersebut. Dylan sempat melirik ke arah Maria dan ia pun tersenyum setelah melihat tingkah lucu Maria ketika menghitung jumlah uangnya.
"Cukup gak, ya?" gumam Maria sambil menggaruk kepalanya.
"Kalo gak cukup, biar nanti aku yang bayar."
"Cukup kok, Om! Om tenang saja."
Dylan tidak habis pikir, Maria adalah anak dari Tuan Marcello yang terkenal dengan kesuksesan dan kekayaannya. Namun, entah mengapa nasib begitu tragis. Jauh dari kriteria anak seorang pengusaha sukses
"Setahu aku ya, anak orang tajir melintir itu selalu dikasih kemudahan untuk berbelanja. Mau apa aja tingal gesek, lah kamu kenapa, Nona? Kok, sepertinya nasibmu kurang beruntung, ya?" ucap Dylan dengan tatapan yang kembali fokus ke arah jalan.
Maria tersenyum kecut sambil mengingat-ingat kejadian dimana Daddy mengambil semua kemudahan itu darinya.
"Sebenarnya Maria dulu juga gitu, Om. Tapi, karena terjadi suatu kesalahan, Daddy mengambil semuanya kembali," sahut Maria sambil tertawa kecil.
"Kesalahan apa? Jangan bilang kamu memborong isi toko pernak-pernik kucing jepang itu dan hal itu membuat Daddymu marah kemudian mengambil kartu-kartumu?"
Maria tertawa pelan sambil menggaruk tengkuknya. "Sayangnya itu benar, Om. Makanya Daddy jera memberikan kartu-kartu itu kepada Maria."
"Ya ampun, Nona Maria." Dylan menggelengkan kepalanya.
"Eh, eh, berhenti disini aja, Om!" Maria menepuk pundak Dylan sambil menunjuk ke sebuah warung makan pinggir jalan yang begitu ramai dengan para pelanggannya.
"Kenapa kita berhenti disini, Nona. Apa tidak sebaiknya kita makan di restoran saja? Soal uang tidak usah kamu pikirkan, biar nanti aku yang bayar," ucap Dylan yang mulai panik. Ia takut kejadian dulu terulang lagi.
"Sebaliknya uangmu disimpan saja, Om Udin. Buat biaya pernikahan kita," sahut Maria.
"Gawat!" gumam Dylan sembari menepikan mobilnya ke tempat yang lebih aman.
Setelah Dylan selesai memarkirkan mobilnya, Maria segera keluar dari mobil kemudian menghampiri warung makan tersebut. Ia melihat-lihat menu yang terpampang di dinding ruangan itu kemudian memilih salah satunya.
"Pak, aku mau nasi goreng spesialnya satu ya!"
"Siap, Nona."
Dylan berdiri di samping Maria sembari memperhatikan sekeliling warung makan tersebut sengan seksama.
"Om mau apa?"
__ADS_1
"Tidak usah. Aku masih kenyang, Nona. Aku pesan air hangat saja, satu." Dylan menjawab pertanyaan Maria dengan ragu-ragu.
"Serius?" Maria menatap Dylan dengan tatapan penuh selidik.
"Ya, aku serius, Nona."
Tidak berselang lama, nasi goreng spesial pesanan Maria pun siap.
"Ini nasi goreng spesial pesanan Anda, Nona." Seorang pelayan meletakkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur serta suwiran ayam di atasnya.
"Wah, terima kasih!" ucap Maria.
Dylan memperhatikan porsi makan Maria sambil menautkan kedua alisnya.
"Porsi makanmu lumayan besar ya, Nona."
"Ini sedikit, Om. Biasanya kalo aku lagi kumat, aku bisa makan dengan dua porsi sekaligus," jawabnya.
Dylan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Apalagi saat ia melihat Maria menuangkan sambel pedas ke atas nasi gorengnya.
"Apa Nona tidak sakit perut? Itu cabenya banyak sekali!" pekik Dylan dengan wajah cemas menatap Maria.
"Tidak usah khawatir, Om. Aku sudah terbiasa," jawab Maria sambil memasukan suapan pertamanya.
"Yakin, Om tidak mau?" tanya Maria sekali lagi.
Padahal saat itu Dylan tengah berbohong. Sebenarnya ia merasa lapar, tetapi ia tahan karena Dylan masih merasa trauma dengan kejadian dulu.
Selang beberapa saat, nasi goreng spesial milik Maria pun ludes dan setelah membayarnya, ia pun segera kembali ke mobil bersama Dylan.
"Karena perutmu sudah kenyang, sebaiknya aku antar kamu pulang ya, Nona?!"
"Eh, jangan! Kita belum menggila bersama, Om," protes Maria dengan mata membulat menatap Dylan.
"Astaga, ternyata dia masih ingat rupanya! Aku pikir setelah perutnya kenyang, dia akan melupakan hal itu!" gumam Dylan.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kamu mau kita kemana?"
"Ke toko pernak-pernik Hello Kitty!" seru Maria penuh semangat.
"Ya, tuhan!"
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, mereka pun tiba di Mall, dimana di dalamnya ada sebuah toko pernik-pernik Hello Kitty terbesar dan terlengkap. Dengan langkah cepat Maria mengajak Dylan masuk ke dalam toko tersebut.
__ADS_1
"Bukankah koleksimu sudah banyak, Nona. Sekarang kamu mau beli apa lagi?"
"Baju couple untuk kita, Om. Kita 'kan hanya punya piyama couple," jawab Maria sambil tersenyum manis menatap lelaki itu.
Dylan pasrah. Ini semua karena janji yang tidak sengaja ia ucapkan kepada gadis itu. Ia tidak menyangka bahwa janjinya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Nah, Om. Bagusan yang mana? Warna pink atau putih?"
Dylan mengelus tengkuknya sambil tersenyum kecut. Mana Dylan tahu, mana yang bagus karena baju kaos bergambar kucing fenomena tersebut terlihat sama saja di matanya.
"Putih saja, lebih aman," jawab Dylan.
"Ok, putih!"
Maria mengambil baju couple berwarna putih tersebut kemudian membayarnya ke kasier. Tidak lupa bando serta sandal baru dengan motif dan warna senada sama baju yang baru saja ia pilih.
Setelah membayar semuanya, Maria mengajak Dylan menuju ruang ganti dan meminta lelaki itu mengganti kemeja mahalnya dengan baju couple tersebut.
"Ini serius, Nona Maria? Apakah aku harus mengenakan baju ini bersamamu, disini?" pekik Dylan dengan mata membulat.
Maria menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil tersenyum puas. "Ya, bukankah kita ingin menggila bersama?"
"Oh, tidak! Semoga aku tidak bertemu dengan siapapun setelah ini!"
Dylan meraih baju tersebut dari tangan Maria kemudian segera masuk ke dalam ruang ganti dan mengenakannya. "Astaga, aku terlihat sangat manis!" pekik Dylan.
"Dylan yang selalu tampil keren dan tampan itu kini menghilang karena si Kitty sudah berhasil menguasai dirinya," gerutu Dylan sambil memperhatikan bayangannya di dalam cermin.
"Om, sudah selesai belum?" tanya Maria karena Dylan cukup lama berada di dalam ruang ganti.
"Ya, sudah."
Dylan pun keluar dari ruangan itu dengan wajah malas. Sedangkan Maria begitu bahagia karena Dylan bersedia melakukan hal konyol itu untuknya.
"Masih kurang, Om. Sandal serta bandonya belum!"
Maria memasangkan bando berbentuk telinga Kitty tersebut ke atas kepala Dylan kemudian meminta lelaki itu melepaskan sepatu mahalnya dan menggantinya dengan sandal Kitty yang juga sedang di kenakan oleh gadis itu.
"Sempura!" pekik Maria sembari memeluk lengan Dylan dengan erat.
"Sekarang apa lagi, Nona?"
"Sekarang kita keliling Mall dengan menggunakan pakaian ini!" sahut Maria sambil tertawa lepas.
__ADS_1
Dylan tidak sanggup menjawab. Ia menepuk jidatnya sambil mengikuti kemana Maria menuntunnya.
...***...