
"Nona, aku tahu berapa harga motormu dan dengan uang sebanyak itu, aku bisa membeli motor seperti itu dengan jumlah yang cukup banyak."
Clara terkekeh pelan ketika mendengar jawaban dari lelaki itu sedangkan Maria semakin kesal dan kini wajahnya terlihat menekuk sempurna.
"Ya, kamu memang benar, Tuan. Harga motorku memang tidak seberapa tetapi kamu lihat luka lecetku ini? Aku butuh uang itu untuk mengembalikan kulit mulusku, biaya Dokter itu sangat mahal. Oh ya, kamu pasti belum tahu 'kan siapa aku? Kenalkan namaku Maria Silvana Alexander, putri kesayangan Tuan Marcello Alexander."
Maria memperkenalkan diri dengan angkuh kepada lelaki bertubuh besar di hadapannya. Namun, ekspresi wajah lelaki itu tetap sama seperti tadi, tenang dan tidak ada ketakutan sama sekali. Walaupun saat itu Maria sudah mencoba membuatnya gentar dengan membawa-bawa nama besar sang Daddy.
"Kenapa diam? Pasti kamu takut 'kan, Tuan? Apalagi setelah tau siapa orang tuaku," ucap Maria masih dengan gaya angkuhnya.
Sudut bibir lelaki itu terangkat setelah mendengar ucapan sombong Maria.
"Sebenarnya tidak juga, Nona. Aku sama sekali tidak takut. Namun, seperti yang kamu katakan, aku hanya seorang sopir dari lelaki yang sedang duduk di dalam sana. Jadi, untuk mengganti kerugianmu dengan nominal sebanyak itu, rasanya sangat tidak mungkin."
"Lalu, bagaimana cara kamu mengganti semua kerugianku? Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja, Tuan. Aku akan mengejarmu bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun," ucap Maria sambil menatap kedua bola mata lelaki berusia 32 tahun tersebut.
"Begini saja, Nona. Kita bicarakan masalah ini nanti. Saat ini Boss saya sedang terburu-buru."
Lelaki itu berjalan menghampiri mobilnya dan meraih sebuah kartu nama. Setelah itu ia pun segera menyerahkannya kepada Maria.
"Ini kartu nama saya, Nona. Nona bisa menghubungi saya di nomor yang tertera di sana."
Maria menyambutnya kemudian memperhatikan kartu tersebut dengan seksama. Tiba-tiba saja Maria tergelak setelah tahu siapa nama lelaki itu.
__ADS_1
"Udin?!"
"Apa ada yang aneh dengan namaku, Nona?" tanya Lelaki itu sambil memperhatikan Maria yang masih tergelak.
"Hanya lucu saja. Wajahmu 'kan sebenarnya ya ... lumayan lah, rada bule-bule gitu. Tapi kenapa namamu Udin, 'kan jadinya gak sinkron," sahut Maria yang masih tergelak.
Lelaki itu menghembuskan napas panjang kemudian melangkah begitu saja menuju mobilnya, meninggalkan Maria yang masih tergelak. Sontak saja, tawa Maria terhenti setelah lelaki itu pergi. Ia segera berlari dan menyusulnya.
"Eh, Om Udin. Ini serius, ya! Jika nanti aku menghubungi nomor ponselmu, kamu harus segera menerimanya. Kalau tidak, maka aku akan perintahkan para Bodyguardku untuk memberikanmu pelajaran."
"Ya, tentu saja," jawabnya.
Lelaki itu masuk ke dalam mobil kemudian segera melaju meninggalkan Maria yang masih terdiam di tempat itu bersama Clara.
Clara benar-benar terpesona kepada lelaki dewasa itu dan benar, sejak pertama lelaki itu keluar dari mobilnya, Clara hanya diam sambil memperhatikan wajah tampannya tanpa berkedip sedikitpun.
"Ya, tapi sayangnya dia hanya seorang sopir dan namanya Udin," jawab Maria sembari menghampiri scooter maticnya yang lecet.
"Tidak apa, kalau aku 'sih tidak masalah. Selama itu dia, walaupun namanya Udin dan pekerjaannya hanya seorang Sopir, aku rela kok jadi istrinya."
Maria menatap Clara lekat kemudian meraba keningnya. "Kamu tidak sedang demam 'kan, Clara?"
Clara menepis tangan Maria sambil terkekeh pelan. "Ih, apaan 'sih! Aku gak demam, cuma lagi kena virus cinta sama Om Udin," ucapnya sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Hiyyy! Sudah, berhenti menghayal. Sebaiknya kita jalan lagi aja, nanti kalo jam sekolah udah usai, baru kita balik ke rumah kita masing-masing."
"Ok!" sahut Clara dengan cepat.
Sementara itu.
Mobil yang dikemudikan oleh lelaki itu meluncur menuju sebuah Rumah Sakit besar di tengah kota. Ia menghentikan mobilnya dan segera meminta pertolongan kepada para tim medis untuk segera membawa seorang laki-laki yang sedang duduk di jok belakang mobil dengan kondisi lemah.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya."
"Tentu saja, Tuan. Anda tidak perlu khawatir."
Para tim medis membawa lelaki yang sedang sakit tersebut untuk segera mendapatkan pertolongan.
"Huft! Semoga dia baik-baik saja," gumamnya.
Di saat ia sedang cemas memikirkan seseorang yang sedang di rawat oleh Dokter, tiba-tiba saja ia teringat akan gadis nakal yang sombongnya tidak ketulungan.
"Maria Silvana Alexander ... putri kesayangan dari Tuan Marcello Alexander. Ternyata Tuhan masih sayang padaku dengan mempertemukan kita di saat yang tepat, Maria."
...***...
Yang nungguin cerita Marvel, Melvin, Shakila, Alifa, Arsya, Lea dan Leo, nanti pasti di ceritain, kok. Sabar ya 😍😍😍 hehehe ...
__ADS_1