
Karena Joe masih saja acuh padanya, Sofia mulai memberanikan diri menghampiri lelaki itu dengan dalih minta bukakan kancing-kancing kebaya yang terletak di belakanganya.
"Ehm, Tuan eh Mas, bisa bantu aku melepaskan kebaya ini?" ucap Sofia sembari mendekatkan dirinya kepada lelaki itu.
"Baiklah," sahut Joe.
Rasa gugup itu masih saja menguasai dirinya. Apalagi saat ini Sofia benar-benar menantangnya. Dengan gemetar, Joe mulia melepaskan satu persatu kancing kebaya yang dikenakan oleh Sofia.
Perlahan tapi pasti. Punggung mulus Sofia mulai terlihat dan menggoda Joe untuk mencicipi punggung tersebut dengan bibirnya. Namun, Joe tetap berusaha menahan hasratnya hingga kebaya tersebut terlepas dari tubuh Indah Sofia.
"Sudah," ucap Joe dingin.
"Terima kasih, Mas."
Tanpa diduga, Sofia melepaskan bawahannya dan kini tinggal pakaian dalaam Sofia yang masih menutupi area-area pribadi gadis itu. Sontak saja mata Joe membulat. Senjata Joe yang sudah lama terpendam, akhirnya mulai bereaksi.
Deg!
"Ya, Tuhan! Apa yang dikatakan oleh Tuan Marcello benar. Senjataku tidak perlu di ajari untuk bangkit dan dia bangkit sendiri," batin Joe sambil menelan salivanya ketika menatap tubuh indah Sofia.
Setelah menyisihkan kebaya pengantinnya, Sofia pun segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Joe yang frustrasi menahan hasratnya, langsung duduk di tepian tempat tidur sambil mengatur napas yang terasa begitu sesak.
Huft!!!
Joe meraih gelas air minum yang terletak di atas nakas kemudian meneguknya dengan cepat. Maksud hati ingin menenangkan dirinya yang sedang grogi. Namun, sekarang ia harus menghadapi sesuatu yang lebih serius dari sekedar rasa grogi.
Cukup lama Sofia melakukan ritual mandinya, sedangkan obat yang tadi masuk ke tenggorokan Joe sudah mulai bereaksi. Hasratnya benar-benar bangkit seiring dengan bangkitnya benda pusaka milik Joe.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku terasa aneh seperti ini?" gumam Joe sambil menyentuh benda keramatnya yang sudah mengeras sejak tadi.
Disaat Joe masih bertarung melawan hasratnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi, disitu Sofia muncul dan menambah kepanikannya.
Gadis itu muncul dari balik pintu kamar mandi dengan menggunakan lingerie seksi pemberian Marissa.
"Astaga, cobaan apa lagi ini?!" gumamnya.
Sofia mendekat sambil tersenyum nakal kepada Joe. "Bagaimana penampilanku, Mas! Apakah aku masih terlihat seperti gadis kecil di matamu?!" goda Sofia dengan kerlingan nakalnya.
Joe yang tadinya duduk di tepian tempat tidurnya, kini bangkit dan berdiri sambil memandangi gadis seksi dengan lingerie transparan berwarna pink tersebut. Area pribadi gadis itu terlihat jelas bentuk dan ukurannya. Benar-benar meruntuhkan iman seorang Joe.
"Ke-kenapa kamu bersikap seperti ini, Sofia? Siapa yang mengajarimu?" tanya Joe dengan terbata-bata, tetapi tatapan lelaki itu tak terlepas dari tubuh seksi Sofia.
Sofia menghampiri Joe kemudian mengelus punggung lebar itu dengan lembut. Sentuhan Sofia saat itu membuat bulu-bulu halus yang tumbuh di tubuh Joe berdiri .
"Tidak masalah siapapun yang mengajariku, Joe-ku sayang. Selama aku melakukannya bersama dirimu. Benar, 'kan?!"
"Benarkah? Aku ingin tahu," tantang Sofia.
Joe yang sudah tidak bisa menahan hasratnya segera meraih tubuh mungil Sofia dan membawanya ke atas tempat tidur. Joe menyeringai licik sambil memperhatikan wajah cantik Sofia yang polos tanpa riasan apapun. Bahkan rambutnya saja masih setengah kering.
"Aku tidak bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu," ucap Joe yang kemudian menyerang bibir Sofia tanpa aba-aba.
Lelaki dewasa itu melumatt bibir mungil Sofia dan sesekali menggigitnya dengan lembut. Di saat bibirnya menguasai bibir Sofia, tangan nakal Joe malah bermain di dalam lingerie tipis milik Sofia. Tepat di kedua bulatan kenyal milik gadis itu.
Tubuh Sofia bergetar hebat ketika menerima sentuhan demi sentuhan yang di lancarkan oleh Joe. Apalagi saat jari telunjuknya memainkan puncak bulatan kenyal milik Sofia, membuat gadis itu mengeluarkan desahann-desahann manja.
__ADS_1
"Kamu sudah membangunkan singa tidur, Sofia. Maka bersiaplah menerima serangannya." Joe kembali menyeringai membuat Sofia bergidik ngeri dan menyesal karena sudah mengikuti anjuran sesat majikannya tersebut.
"Ya, Tuhan semoga aku masih hidup esok pagi!" Doa Sofia di sela rasa takutnya.
Joe yang sudah berada di puncak hasratnya tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu.
"Lihatlah senjataku sudah bangkit dan kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali!"
Joe memperhatikan senjata super besar yang selama ini terpendam akibat men'jomblo' terlalu lama. Sofia bergidik ngeri ternyata senjata Joe yang ia bayangkan hanya sebesar buah pisang, ternyata berkali-kali lebih besar dari buah tersebut.
Sofia tersenyum kecut dan terus berdoa di dalam hati agar ia masih di beri kesempatan untuk menghirup udara esok hari.
"Kemarilah gadis kecil, senjataku sudah meminta haknya padamu,"
"I-iya, sebentar! Biarkan aku bernafas dulu sejenak."
Bukannya mendengarkan permintaan istri kecilnya, ia malah menarik tubuh Sofia dan melepaskan lingerie yang dikenakan oleh gadis itu dan melepasnya ke sembarang arah.
Tubuh polos Sofia membuat hasrat Joe semakin membara. Joe menindih gadis itu hingga ia tidak bisa bergerak.
"Mas, pelan-pelan, ya! Punyaku masih original dan tak pernah disentuh apapun," ucap Sofia dengan bibir bergetar. Nyalinya benar-benar menciut setelah tahu ukuran senjata Joe yang sebenarnya.
Jeo kembali menyeringai. "Makanya jangan main-main sama senjata keramatku, Gadis Kecil!"
Perlahan Joe mengarahkan senjata keramatnya ke area pribadi Sofia. Sedangkan Sofia menutup kedua matanya sembari menunggu senjata milik Joe menguasai area pribadinya.
"Perlahan ya, Mas. Aku takut!" gumam Sofia.
__ADS_1
...***...
Segini dulu ya, pemirsah 😂😂😂 esok kita sambung lagi soalnya dari tadi ngetiknya sambil di gangguin bocah jadi gak konsen 😅😅😅 Kaburrr ...