Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 273


__ADS_3

"Dapat!" pekik Melvin.


Setelah mengambil kunci mobilnya, ia segera berlari menuju halaman depan mansion.


"Vin! Kamu mau kemana?" teriak Marvel saat melihat Melvin pergi begitu saja padahal saat ini mereka sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Shakila dari salah satu anak buah Tuan Joe.


"Astaga, aku sampai lupa memberitahukan masalah ini kepada mereka," gumam Melvin sembari berbalik dan berlari menghampiri Marvel yang terlihat kebingungan.


"Vel, entah mengapa aku yakin sekali Shakila adalah korban salah sasaran. Sebenarnya yang mereka inginkan adalah Aira, bukan Shakila."


"Apa maksud Anda, Tuan Muda?" sela Tuan Joe. Samar-samar Joe mendengarkan percakapan antara kedua saudara kembar itu dan ia begitu terkejut setelah mendengar penuturan dari Melvin.


"Ini tentang gadis itu, Om! Gadis yang aku bilang begitu mirip dengan Shakila. Aku rasa mereka menginginkan gadis itu, tetapi mereka salah sasaran dan malah menculik Shakila," jelas Melvin.


"Jadi, gadis itu benar-benar mirip Shakila, begitu maksudmu?" Marvel semakin kebingungan.


"Ya! Bukankah aku sudah pernah aku katakan kepadamu bahwa Shakila dan Aira itu begitu mirip! Bahkan aku pun tidak bisa membedakan mereka," sahut Melvin.


Joe terdiam, ia sadar bahwa selama ini ia sama sekali tidak pernah mencoba mencari tahu tentang siapa dan dari mana Shakila berasal. Baginya Shakila adalah putri pertamanya dan ia tidak peduli juga tak mau tahu bagaimanapun asal usul gadis itu.


"Kalian duluan saja! Aku berjanji akan menyusul kalian bersama gadis itu," ucap Melvin yang kemudian kembali berlari menuju mobilnya.


Sepeninggal Melvin, mereka pun bersiap menuju tempat dimana Shakila disembunyikan oleh lelaki hidung belang tersebut.


"Sebaiknya cepat! Sebelum lelaki itu melakukan hal yang tidak diinginkan kepada Shakila!" titah Tuan Joe kepada para Bodyguard yang akan menemani mereka.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Sementara itu.


Melvin tiba di depan sebuah rumah sederhana yang jauh dari keramaian. Rumah itu terlihat sepi. Bahkan pintu dan jendelanya pun tertutup rapat.


"Benarkah ini alamatnya? Awas saja jika dia memberikan informasi yang salah kepadaku, akan ku jitak kepalanya!" gerutu Melvin sambil terus memperhatikan bangunan yang berdiri di hadapannya.


Tiba-tiba pintu utama rumah tersebut terbuka dan nampaklah seorang Ibu-Ibu paruh baya keluar dari sana. Melvin bergegas menghampiri wanita itu dan mencoba bertanya kepadanya.


"Bu, bolehkah saya bertanya--"


"Bi, yang bungkusannya warna merah, ya!"


Ucapan Melvin terhenti ketika seorang gadis berteriak dari dalam rumah. Gadis itu berbicara melalui jendela kaca dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa Melvin berada di depan rumahnya dan berdiri di samping wanita paruh baya yang ia panggil Bibi tersebut.


"Ya Tuhan! Akhirnya dia menemukan aku," gumam Aira dengan tubuh bergetar hebat. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca saat itu.


Melvin bergegas menuju pintu rumah itu setelah mengetahui bahwa gadis itu adalah Aira. Tanpa meminta izin, Melvin mendorong pintu tersebut kemudian masuk ke dalam.


Aira yang sangat ketakutan mencoba berlari. Namun, karena lututnya masih bergetar, ia pun terjatuh tepat di depan tangga menuju lantai dua.


Melvin bergegas menghampiri gadis itu dan berniat membantunya, tetapi Aira menolaknya. Ia menepis tangan Melvin dengan kasar dan wajahnya nampak memerah saat menatap Melvin.


"Jangan sentuh aku! Dasar bajinngan!" hardik Aira sembari mengangkat tubuhnya dengan berpegangan di pegangan tangga.

__ADS_1


"Kenapa kamu menyebutku seperti itu? Apa salahku, Aira?"


Mendengar ucapan Melvin, Aira semakin meradang. Ia mendorong tubuh Melvin dengan kasar hingga tubuh lelaki itu mundur beberapa langkah kebelakang.


"Apa salahmu, kamu bilang? Kamu itu sudah gila atau apa, ha? Kamu dan anak buahmu setiap hari meneror dan mengancam akan menculikku. Bahkan kedua orang tuaku yang sama sekali tidak tahu menahu pun kalian ancam sedemikian rupa! Sekarang kamu masih bertanya apa salahmu?!" hardik Aira sambil berteriak.


Wajahnya memerah karena ia benar-benar marah kepada lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.


"Aku meneror dan mengancammu? Sebentar! Sepertinya kamu salah, Nona Aira! Aku bahkan kehilangan jejakmu, bagaimana aku bisa melakukan hal bodoh itu. Lagipula, untuk apa aku melakukan hal itu? Aku rasa aku tidak memiliki masalah apapun padamu," tutur Melvin dengan wajah kebingungan menatap Aira.


"Hah, jika kamu merasa tidak memiliki masalah denganku, kenapa kamu mencari aku hingga ke tempat ini?!"


Melvin menautkan kedua alisnya sambil berpikir keras. "Sepertinya dugaanku benar! Mereka memang menginginkan Aira, tetapi sayangnya mereka salah orang!" gumam Melvin.


"Apa maksudmu?" tanya Aira saat ia mendengar ucapan lelaki itu samar-samar di telinganya.


"Shakila diculik, Aira. Saat ini seluruh keluarga besarku sedang menuju tempat dimana Shakila disembunyikan. Dan aku yakin sekali, sebenarnya para penculik itu menginginkan dirimu. Namun, mereka salah sasaran dan Shakila lah yang menjadi korban."


"Jadi, kamu benar-benar tidak tahu tentang teror dan ancaman itu?" tanya Aira.


"Demi Tuhan, Nona Aira! Aku sama sekali tidak tahu masalah teror dan ancaman yang terjadi padamu. Dan yang membuat aku heran kenapa kamu malah menuduhku melakukan hal bodoh seperti itu?"


"Karena orang yang mengancam dan menerorku selama ini adalah orang yang sama, yang menyewa jasaku pada malam itu. Kamu dan lelaki itu, Tuan Felix! Bukankah kalian memang bersekongkol untuk menghancurkan aku?!"


"Tuan Felix? Jadi dalang dari semua ini adalah Tuan Felix?!" pekik Melvin.

__ADS_1


...***...


__ADS_2