Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 77


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Sayang, hari ini kita jalan ke Mall, ya! Aku pengen beli sesuatu untuk hadiah pernikahan Erika," rengek Marissa sambil memeluk tubuh lelaki itu dari belakang.


"Hari ini aku sibuk, Sayang. Ada meeting penting yang harus aku hadiri dan tidak bisa ku tinggalkan."


Marcello meraih kemeja yang sudah tersedia di atas tempat tidur kemudian mengenakannya. Marissa merasa kesal karena lelaki itu tidak mengabulkan keinginannya, ia menekuk wajahnya kemudian berucap.


"Baiklah kalau begitu. Icha pergi sendiri saja."


Marissa berpaling kemudian melenggang menuju kamar mandi. Mendengar ucapan Marissa, Marcello bergegas membalikkan badan dan meraih tubuh polos Marissa yang berjalan menjauhinya.


"Ok, ok! Baiklah, hari ini aku akan menemanimu ke Mall," ucap Marcello sambil memeluk tubuh istri kecilnya itu.


"Serius?" Wajah Marissa semringah menatap Marcello yang sedang memeluknya.


"Ya, Sayang. Aku serius. Sebaiknya cepat mandi dan bersiap-siap," jawabnya.


"Ok, terima kasih!"


Marissa begitu bersemangat dan saking semangatnya, ia bahkan sampai menubruk pintu kamar mandi.


Brugkk!


"Aww!!!" pekiknya.


"Cha, hati-hati, donk!" ucap Marcello panik.


Marissa malah terkekeh dan terus melangkah memasuki ruangan itu. Setelah selesai berpakaian, Marcello segera menyusul Joe yang sudah menunggunya di ruang utama.


"Joe, batalkan semua janji hari ini. Aku ingin menemani Marissa jalan-jalan ke Mall." ucapnya.


Joe terkekeh pelan mendengar ucapan Tuannya itu. Ini pertama kalinya Marcello mengunjungi tempat seperti itu. Apalagi tujuannya hanya untuk sekedar jalan-jalan.


"Benarkan apa yang aku katakan. Singa jantan ini perlahan berubah menjadi anak kucing yang imut-imut setelah Nona Marissa menguasai hatinya," batin Joe.


"Joe, apa kamu mendengarkan ucapanku?"


"Ya, tentu saja, Tuan."


. . .

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Marissa dan Marcello sudah berada di dalam mobil mereka. Marissa duduk bersandar di bahu Marcello sambil memeluk lengan kekar lelaki itu.


"Kira-kira hadiah yang cocok buat Erika, apa ya, Sayang?" tanya Marissa.


"Sinyal," jawab Marcello singkat.


"Hah? Kok, sinyal?!" Marissa menatap heran kepada Marcello yang sekarang sedang terkekeh.


"Ya, karena di desa kelahiran Fattan tidak ada sinyal, 'kan?" celetuk Marcello.


"Huh, dasar!"


Tidak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi pun tiba di halaman depan Mall terbesar di kota itu. Dengan penuh semangat, Marissa menuntun Marcello memasuki tempat itu. Mereka mulai menjelajahi tempat itu sambil melihat-lihat barang yang cocok untuk diberikan kepada Erika di hari pernikahannya nanti.


"Jadi, hadiah apa yang ingin kamu berikan untuk Erika?" tanya Marcello yang sudah mulai lelah mengikuti langkah kaki Marissa mengelilingi tempat itu tanpa tujuan.


"Aku bingung, Sayang."


Tiba-tiba mata Marissa tertuju pada deretan koleksi lingerie seksi. Ia tersenyum sambil menatap Marcello seolah meminta izin kepada lelaki itu bahwa dia ingin ke tempat itu.


"Aku mau kesana!"


"Ya, Tuhan! Bagaimana jika ada salah satu-rekan bisnisku melihat aku ditempat ini," gumamnya.


Marissa mulai memilih-milih lingerie seksi yang terpajang didalam toko tersebut. Di antara banyaknya lingerie, pilihan Marissa jatuh pada sebuah lingerie seksi berwarna hitam, persis seperti yang ia lihat disebuah video dewasa waktu lalu.


"Aku mau ini, biar garang! Aarrghhh!" ucapnya seraya menggerakkan tangannya seperti harimau yang ingin mencakar mangsa.


Marcello terkekeh pelan. "Bukankah koleksimu sudah banyak? Bahkan hampir satu lemari penuh dengan koleksi lingerie'mu saja."


"Eh bukan, Sayang! Ini untuk Erika, biar malam pengantin mereka panas membara! Dan pak Fattan ikut kepanasan ketika melihat Erika mengenakan lingerie ini," celetuk Marissa.


"Terserah kamu sajalah. Sebaiknya cepat, aku tidak ingin berlama-lama ditempat ini."


"Ok, tapi bayar dulu,"


Setelah membayar belanjaan Marissa, Marcello pun bergegas mengajak istrinya itu keluar dari sana. Baru saja beberapa langkah mereka keluar dari toko tersebut, Marcello benar-benar bertemu dengan salah satu sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa.


"Marcello?!" sapa lelaki itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Riyadh?!"


Kedua lelaki itupun segera berjabat tangan dan berpelukan.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Marcello. Ngomong-ngomong sedang apa kamu ditempat ini?"


"Mengajak istriku jalan-jalan," sahut Marcello sembari merengkuh tubuh Marissa yang sejak tadi berdiri di samping suaminya.


"Istrimu?"


Riyadh memperhatikan Marissa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia seakan tidak percaya bahwa wanita muda itu adalah istri dari Marcello. Ia tersenyum menatap Marissa kemudian mengulurkan tangannya.


"Riyadh," ucapnya


Marissa menyambut uluran tangan lelaki itu kemudian menyebut namanya.


"Marissa."


Setelah melepaskan tangan Marissa, Riyadh kembali tersenyum dan menatap Marcello dengan tatapan serius.


"Kamu jahat, Marcello. Bukankah kamu sudah berjanji akan mengundangku jika kamu menikah," kesal Riyadh.


"Sebenarnya aku dan Marissa belum menikah secara resmi, tapi kami akan segera meresmikannya. Jadi, kamu tenang saja, undangan pernikahan kami pasti akan segera meluncur ke tempatmu."


"Janji?"


"Ya, tentu saja!"


Kedua lelaki itu memutuskan untuk berbincang disebuah cafe mini yang ada di Mall tersebut. Mereka kembali bercerita-cerita tentang kehidupan dan bisnis mereka. Marissa benar-benar bosan ketika berada di antara kedua lelaki itu. Tak satupun pembicaraan mereka yang 'nyambung' di otaknya.


"Ehm, Sayang. Bolehkah aku lihat-lihat barang disana?" tanya Marissa kepada Marcello sembari menunjuk deretan koleksi pakaian yang berada tepat berseberangan dengan cafe mini tersebut.


"Ya, tapi jangan jauh-jauh, ok!?"


"Ya, tentu saja."


Marissa melabuhkan ciuman hangat di pipi Marcello sebelum meninggalkan para lelaki itu. Wajah Marcello merona saat Marissa tanpa canggung menciumnya di hadapan Riyadh.


"Istrimu masih muda sekali ya, Marcello," ucap Riyadh.


"Ya, begitulah."

__ADS_1


...***...


__ADS_2