
"Ini bayinya, Tuan Joe. Terimalah."
Bu Kepala Panti menyerahkan bayi mungil itu kepada Joe dan lelaki itupun menyambutnya dengan sangat antusias. Raut wajah bahagia begitu jelas terlihat di wajah pasangan Joe Sofia.
"Terima kasih, Bu. Kami sangat senang," ucap Joe.
Joe menyerahkan bayi mungil tersebut kepada Sofia dan disambut oleh Sofia sambil menitikkan air matanya. Setelah semua urusan di Panti tersebut selesai, Joe dan Sofia pun pamit dengan membawa serta bayi mungil tersebut.
"Terima kasih, Mas. Karena sudah mengizinkan aku merawat bayi mungil ini," ucap Sofia dengan mata berkaca-kaca ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apapun untukmu, Sofia."
"Ngomong-ngomong, siapa namanya?" tanya Sofia.
Joe nampak berpikir sejenak sambil memikirkan nama yang bagus untuk bayi mungil tersebut. "Bagaimana jika namanya Shakila Arfia Jonathan? Ada namamu dan ada namaku juga," sahut Joe.
"Shakila Arfia Jonathan? Wah, nama yang cantik! Aku suka." Sofia pun tersenyum puas.
Joe meraih tubuh Sofia dan membiarkan wanita itu bersandar di dada bidangnya. Kedatangan bayi mungil tersebut, ternyata disambut oleh Marissa dan kedua bocah kembarnya. Bukan hanya Sofia, Joe dan Marissa saja yang begitu senang menyambut kedatangan bayi mungil tersebut, si kembar Marvel dan Melvin pun tidak kalah antusiasnya.
"Om Joe, Om Joe, boleh Melvin tium Dede na?"
Joe menoleh ke bawah dan ternyata si kecil Melvin sedang menarik-narik celana yang sedang dikenakan oleh Joe. Melvin mendongak sambil tersenyum kepada Joe.
"Tentu saja, Tuan Muda Melvin. Anda boleh mencium Dede bayinya kapanpun Anda mau," sahut Joe.
Sofia berjongkok kemudian membiarkan Melvin menghampirinya kemudian melabuhkan ciuman hangat di kedua pipi mungil itu.
"Sudah?" goda Sofia.
__ADS_1
"Sekali lagi," tawar Melvin.
Bocah itu kembali mencium kedua pipi bayi mungil itu hingga berkali-kali hingga membuat tidur nyenyak si kecil terganggu. Bayi mungil itu merengek kemudian membuka matanya.
"Nah lo, Vin. Dedenya nangis, Melvin sih cium Dedenya begitu," goda Marissa sambil terkekeh.
"Memangnya Melvin pengen punya Dede bayi seperti itu, ya?" tanya Marcello.
Melvin mengangguk cepat. "Ya, Melvin mau," jawabnya.
"Ok, nanti Daddy buatkan yang seperti itu," jawab Marcello. "Ya 'kan, Mom?" Marcello meraih pinggang Marissa dan mendekatkan tubuh wanita itu kepadanya.
"Ya."
Marvel pun sepertinya ingin memberikan ciuman untuk bayi mungil itu, tetapi dia tidak berani bicara. Hanya diam dan memperhatikan bayi mungil itu sambil tersenyum simpul. Sofia menyadari akan hal itu. Ia menghampiri Marvel yang berdiri tak jauh dari Marissa kemudian berjongkok di hadapan bocah pendiam itu.
"Tuan Muda Marcel tidak ingin mencium Dede bayinya, kah?" tanya Sofia sambil tersenyum hangat.
"Dedenya tantik, siapa nama Dede na?" Marvel.
"Ya, Dedenya memang cantik dan namanya Shakila Arfia Jonathan."
"Wah, namanya cantik sekali, Sofia!" seru Marissa.
"Ya, Nona. Mas Joe yang memberikannya," sahut Sofia.
. . .
Hari-hari Sofia dan Joe menjadi lebih berwarna setelah kedatangan bayi mungil yang biasa di panggil 'Shakila' tersebut di kehidupan mereka. Jadwal kesibukan mereka pun bertambah, tetapi mereka mengerjakannya dengan hati senang.
__ADS_1
Sebulan berlalu, setelah kedatangan Baby Shakila di mansion.
Sofia sedang duduk di tepian tempat tidurnya sambil memberikan sufor kepada Baby Shakila tiba-tiba ia merasakan pusing dan pandangannya buram. Memang sejak kemarin Sofia merasakan tubuhnya agak kurang fit. Mungkin efek kelelahan kerena kegiatan barunya sebagai Ibu baru.
"Aduh, kepalaku!" pekik Sofia.
Joe yang sedang merapikan setelan jasnya, segera menghampiri Sofia kemudian duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, Sofia?" tanya Joe.
"Entahlah, sejak kemarin kepalaku terasa pusing dan tubuhku pun sepertinya kurang fit. Mungkin aku kelelahan," tutur Sofia sembari melemparkan sebuah senyuman kepada sang suami.
Joe memperhatikan wajah Sofia dan memang benar, wajah wanita itu terlihat memucat. Joe nampak khawatir, ia meraba kening wanita itu kemudian berucap.
"Apa sebaiknya aku mencari Babysitter untuk membantumu mengurus Shakila, Sayang?" tanya Joe.
"Tidak usah, Mas. Aku masih sanggup, kok."
"Serius?"
"Ya," jawab Sofia.
"Sebaiknya aku panggil Dokter untuk memeriksakan kondisimu. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, Sofia." Joe membelai pipi istri mungilnya itu kemudian melabuhkan ciuman hangat di keningnya.
"Ya, kalau itu aku setuju. Aku tidak ingin sakit, nanti kasihan Shakila. Siapa yang akan merawatnya," sahut Sofia.
Joe meraih ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi Dokter langganan mereka. Setelah Dokter tersebut mengiyakan, Joe pun segera mengakhiri panggilan tersebut.
"Dokter akan segera tiba, sebaiknya kamu tunggu saja," ucap Joe.
__ADS_1
"Ya, terima kasih, Mas."
...***...