Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 49


__ADS_3

Oek ... oek ... oek ...


Marcello mengerjapkan matanya, ia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi. Marcello bangkit kemudian duduk di tepian tempat tidurnya sambil mendengarkan suara berisik tersebut.


Karena penasaran, akhirnya Marcello berjalan menghampiri ruangan tersebut. Nampaklah Sarrah yang sedang berpura-pura kelelahan dengan bersandar di dinding kamar mandi.


"Kamu kenapa, Sarrah?!" tanya Marcello yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi tanpa memiliki keinginan untuk menghampiri wanita itu.


"Aku pusing dan perutku mual, Sayang. Tapi apa kamu tahu apa artinya ini?" jawab Sarrah sambil tersenyum hangat menatap Marcello yang nampak bingung.


"Apa?!"


"Aku hamil, Sayang! Coba lihat ini!" ucap Sarrah dengan wajah semringah memperlihatkan test pack bergaris dua, yang ia dapatkan dari sahabatnya, Keke.


Sarrah bangkit kemudian menghampiri Marcello sambil menunjukkan test pack tersebut ke hadapan Marcello. Bukannya bahagia, raut wajah Marcello malah berubah memerah. Ia marah, tetapi masih bisa ia tahan.


"Kamu hamil? Bagaimana bisa? Selama ini aku selalu menggunakan pengaman saat berhubungan denganmu, Sarrah! Bukan kah kamu sudah tahu, bahwa aku belum siap menjadi seorang Ayah sebelum kita benar-benar sah menjadi Suami-Istri?"


"Ta-tapi, bisa saja pengamananmu bocor, Sayang! Nah, buktinya aku hamil sekarang!" jawab Sarrah.


"Sayang, sebaiknya percepat pernikahan kita sebelum perutku semakin membesar, ya!" bujuk Sarrah sembari memeluk lengan kekar lelaki itu.


"Baiklah, akan ku urus semuanya!"


Setelah mengucapkan hal itu, Marcello segera keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuju ruang pribadinya. Sedangkan Sarrah begitu bahagia ketika mendengar jawaban dari Marcello.


"Akhirnya, aku berhasil meyakinkannya! Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini lagi, kesempatan ini tidak akan datang dua kali dalam hidupku!" gumamnya sambil menyeringai licik.


Sementara itu di ruang pribadi Marcello.

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" tanya Joe yang baru saja tiba di ruangan itu dengan wajah khas bangun tidurnya.


"Baru saja Sarrah mengaku bahwa dia tengah mengandung anakku. Dia bahkan menunjukkan test pack garis dua itu kepadaku. Tapi, entah kenapa aku tidak mempercayai kata-katanya, Joe! Aku yakin bahwa selama aku berhubungan dengannya, aku selalu bermain aman. Aku minta selidiki wanita itu, apakah dia benar-benar hamil atau malah hamil tetapi anak orang lain!"


"Baik, Tuan! Akan segera saya selidiki!"case sahut Joe.


Sementara itu, di Desa kelahiran Fattan.


"Pak, maafkan aku yang terus menyusahkan dirimu," lirih Marissa dengan wajah sendu menatap Fattan.


"Tidak apa-apa, Marissa. Aku malah senang karena bisa membantumu," sahutnya.


Hari ini Fattan akan kembali ke Kota. Ia masih harus melanjutkan pekerjaannya disana. Walaupun sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Marissa ditempat terpencil itu bersama Sang Ibu, Bu Nilam.


"Pergilah, Nak. Marissa akan baik-baik saja disini bersama Ibu," ucap Bu Nilam.


Setelah berpamitan kepada Ibunya dan juga Marissa, Fattan pun segera berangkat. Kini tinggal Marissa dan Bu Nilam dirumha sederhana itu.


"Ehm, Marissa ikut, Bu."


Marissa malah mengikuti Bu Nilam menuju dapur. Ternyata wanita paruh baya itu ingin melanjutkan pekerjaannya, yaitu memasak untuk makan malam mereka nanti.


"Ibu lagi masak apa?" tanya Marissa.


"Itu, Ibu lagi memasak nasi, Nak. Nasi tadi udah abis." Bu Nilam terkekeh, "Fattan itu kalau sudah memakan masakan Ibu, suka lupa sama porsinya," sambungnya.


Seumur-umur, gadis itu tidak pernah bergelut di dapur. Bahkan ketika ia masih tinggal bersama Melinda pun, Bi Ani lah yang selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Ia dan Melinda tinggal duduk manis kemudian menyantapnya.


Namun, karena posisinya disini sebagai orang yang hanya numpang hidup bersama Ibundanya Fattan, ia harus bisa menempatkan diri dirumah itu. Marissa pun tidak segan belajar memasak di tungku bersama Ibunya Fattan.

__ADS_1


"Nah lo, Bu. Apinya padam," ucap Marissa.


"Tinggal ditiup aja, Nak. Pake itu," sahut Bu Nilam sembari menunjuk benda yang biasa ia gunakan untuk meniup api di tunggu.


"Owh, ini! Gimana caranya?"


Marissa mengambil benda itu dan,


"Fuuhhh ...!!!"


"Uhukk ... uhukk ...!!!"


Marissa terbatuk-batuk karena bukannya berhasil menyalakan kembali api di tungku malah ia yang terhisap asap dari tungku tersebut.


Bu Nilam tergelak melihat Marissa yang terlihat lucu. Ia menghampiri gadis itu kemudian meraih benda yang sedang dipegang oleh Marissa.


"Begini, Nak. Caranya,"


Bu Nilam mengajari gadis itu cara menghidupkan api di tungku tersebut.


"Fuuhhh ..., pelan-pelan saja."


Marissa menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya ia masih tidak mengerti bagaimana cara melakukannya dengan benar.


Tak terasa, malam pun menjelang. Setelah menikmati makan malam sederhana ala Bu Nilam, Marissa duduk bersantai didalam kamarnya. Ia menatap langit yang penuh dengan bintang melalui jendelanya yang masih terbuka.


Di Desa itu masih ada beberapa penduduk yang belum menggunakan listrik sebagai penerangan mereka. Mungkin karena faktor ekonomi atau mungkin mereka lebih suka hidup dengan seadanya.


Marissa merasa tenang hidup di desa tersebut walaupun kadang rasa was-was itu sering melanda hatinya. Ia takut Tuan Marcello menemukan keberadaannya kemudian membawanya kembali ke Mansion.

__ADS_1


...***...


__ADS_2