Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 79


__ADS_3

"Ih, Daddy malu-maluin. Masa Icha ke toilet doang, Daddy sampe segitunya," gumam Marissa sembari masuk ke dalam mobil.


"Daddy trauma, Cha. Daddy pernah kehilangan dirimu dan Daddy tidak ingin hal itu terjadi lagi," sahutnya.


Marcello duduk disamping Marissa, kemudian Joe pun segera melajukan mobilnya kembali ke Mansion.


"Dad, sebenarnya siapa sih, Tuan Riyadh itu?" tanya Marissa.


"Dia sahabat lama sekaligus rekan bisnisku. Kami sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di negara seberang," jawabnya.


"Oh, pantesan."


Tidak berselang lama, merekapun tiba didepan Mansion. Pasangan itupun segera memasuki bangunan megah tersebut. Ketika melewati ruang utama, Marissa dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sudah lama ia rindukan.


"Bibi?!" pekik Marissa sembari berlari menuju seorang wanita yang sedang tersenyum menyambut kedatangannya.


"Marissa!"


Bi Ani memeluk tubuh Marissa dengan erat. Wanita itu menitikkan air matanya sambil terus menciumi puncak kepala Marissa.


"Selamat datang, Bi Ani. Semoga kamu betah tinggal disini," ucap Marcello sambil melemparkan senyuman hangatnya.


"Terima kasih, Tuan, karena sudah mengizinkan saya tinggal di sini."


"Sama-sama," sahut Marcello.


Lelaki itu meraih tubuh Marissa dari pelukan Bi Ani.


"Sebaiknya biarkan Bi Ani beristirahat, dia pasti lelah setelah melewati perjalanan jauh."


Marissa pun setuju, lagipula ia juga ingin segera berendam di bath up kesayangan Tuan Marcello.


. . .

__ADS_1


Malampun tiba.


Marissa sudah berada di atas tempat tidur dan menunggu kedatangan Marcello yang sedang berada di ruang pribadinya. Seperti biasa, dengan balutan lingerie seksi, Marissa bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan benda pipih kesayangannya.


Karena sudah lebih dari satu jam ia menunggu disana dan Marcello tidak muncul juga batang hidungnya, Marissa pun berinisiatif menemui lelaki itu di ruangannya.


Marissa mengenakan kimono tidur untuk menutupi lingerie seksinya kemudian melangkah menuju ruangan pribadi Marcello.


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Bi Ani yang kebetulan berpapasan dengan Marissa.


"Mau menyusul suamiku, Bi. Sejak tadi ia belum juga kembali dari tempat kesayangannya itu," sahut Marissa sambil berlalu meninggalkan Bi Ani yang masih memperhatikan dirinya yang terus menjauh.


Setibanya di ruangan pribadi Marcello, ternyata benar. Lelaki itu masih disana dengan beberapa berkas yang tersusun di atas mejanya dan sebuah laptop yang layarnya masih menyala.


"Dad, boleh aku masuk?" tanya Marissa sambil mengintip dari balik pintu.


"Ehm, Icha. Masuklah," sahut Marcello sambil tersenyum hangat.


Namun, senyuman itu hanya sekejap mata. Lelaki itu kembali fokus pada pekerjaannya. Marissa duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan kursi kesayangan Marcello. Dari tempat itu, Marissa dapat melihat dengan jelas wajah serius Marcello ketika menatap layar laptopnya yang masih menyala.


"Dimana Om Joe?" tanya Marissa.


"Ia sedang keluar, ada sesuatu yang sedang ia urus." jawabnya tanpa menoleh sedikitpun kepada gadis itu.


Marissa mendengus kesal. Ia menekuk wajahnya karena tidak diperhatikan oleh lelaki itu. Perlahan Marissa bangkit dari sofa empuk tersebut kemudian melangkah menghampiri meja Marcello.


Marissa menyingkirkan berkas-berkas yang yang sedang di pegang oleh Marcello dan menutup laptop tersebut. Marcello mendongak dan ingin protes, tetapi setelah melihat kerlingan nakal Istri kecilnya itu, ia pun tersenyum.


Marissa mengambil alih meja tersebut dan duduk diatasnya, tepat di hadapan Marcello.


"Apa berkas-barkas itu lebih menarik dari pada aku, Tuan Marcello?!" goda Marissa sembari membelai paha mulusnya di hadapan Marcello.


Marcello terkekeh pelan. "Jangan menggodaku, Cha! Aku bisa saja menyerangmu ditempat ini."

__ADS_1


"Benarkah? Tapi sayangnya aku ragu," tantang Marissa sambil menyeringai.


"Oh, Ayolah! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah berani-berani mengganggu si singa tidur!" ucap Marcello.


Dengan tergesa-gesa, Marcello melepaskan kemejanya kemudian meleparkannya ke sisi kursi kesayangannya. Tidak cukup sampai disitu, ia juga melepaskan celananya dan kini hanya tersisa celana boxer yang masih melekat, menutupi senjata laras panjang yang sudah siap tempur.


"Kemarilah!"


Marcello meraih tubuh Marissa dan siap mengeksekusi wanita itu di atas meja kerjanya. Lelaki itu dengan cepat menyerang bibir indah yang sedang berlapis lipstik berwarna merah. Ciuman itu begitu panas hingga memacu detak jantung mereka lebih cepat dari biasanya.


Tangan nakal itu mulai menyusup ke segala sudut daerah pribadi Marissa. Hingga akhirnya mereka pun bermain disana dengan liarnya.


"Ehm, ah ..."


"Hssst, lebih cepat, Dad!" seru Marissa dengan mata terpejam.


Tiba-tiba Joe tiba dan mengetuk pintu ruangan tersebut tepat disaat Marcello sudah hampir berada di puncak kenikmatan.


"Tuan Marcello?"


"Ah, Joe mengganggu saja! Aku sudah tanggung ini!" kesalnya sambil terus memompa tubuhnya dengan lebih cepat hingga membuat Marissa tiada henti mendessah.


"Tunggulah sebentar lagi," teriaknya.


"Baik, Tuan." terdengar jawaban Joe dari luar ruangan. Lelaki itu menunggu disana sambil sesekali melirik jam tangannya.


"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Marcello didalam?" gumam Joe.


Setelah beberapa saat, pintu pun terbuka. Nampak lah sosok wanita cantik dengan balutan kimono tidur melenggang melalui Joe.


"Selamat malam, Nona Marissa," sapa Joe sambil menundukkan pandangannya.


Setelah Marissa menjauh, Joe pun segera masuk kedalam ruangan itu. Joe menggelengkan kepalanya pelan, sekarang ia tahu apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Apalagi ketika ia melihat kondisi tubuh Tuan Marcello yang masih dipenuhi keringat padahal AC diruangan itu masih on.

__ADS_1


...***...


__ADS_2