Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 65


__ADS_3

Malam menjelang.


Karena merasa Iba kepada Marissa dan Marcello yang akan dinikahkan secara mendadak, Bu Nilam berinisiatif menyewa jasa perias pengantin yang tidak jauh dari kediamannya.


Sebelum merias Marissa, terlebih dahulu perias itu mendadani Marcello. Tidak butuh lama untuk membuat lelaki itu menjadi lebih tampan, cukup teplok sedikit bedak ke wajah tampannya dan merapikan rambutnya. Kini Marcello jauh lebih baik, walaupun setelan kemeja yang dikenakannya sekarang hanya setelan biasa. Setelan milik Fattan yang harganya jauh di bawah milik lelaki itu.


Selesai berhias, Marcello duduk dengan gugup di ruang utama kediaman Bu Nilam. Ruangan yang akan menjadi tempat terselenggaranya pernikahan Marissa dan Marcello malam ini. Ia duduk bersama Fattan yang terlihat sedih. Ya, karena malam ini Marissa akan menjadi milik Marcello seutuhnya.


"Selamat ya, Tuan Marcello. Mungkin Marissa memang ditakdirkan menjadi jodoh Anda," ucap Fattan tersenyum kecut mengulurkan tangannya kepada Marcello.


Marcello menatap tangan Fattan yang mengulur di hadapannya. Ia ikut tersenyum kecut kemudian menyambutnya.


"Terima kasih, tetapi aku tidak tahu harus bahagia atau bersedih karena aku tidak pernah terpikir untuk menikahi Marissa, Fattan. Aku tidak menyangka, dari seorang Ayah dan sekarang aku harus menjadi seorang suami untuknya," tutur Marcello.


"Semoga kalian selalu bahagia dan langgeng sampai Kakek-Nenek. Jangan lupa, bikin anak yang banyak, ya! Biar hidup kalian menjadi lebih berwarna." Fattan menarik kembali tangannya sambil memperhatikan wajah Marcello yang terlihat cemas.


Sementara itu.


Marissa masih berhias di dalam kamarnya dengan ditemani oleh Erika dan Bu Nilam. Mereka terpana melihat kecantikan Marissa. Padahal tema Make Up Marissa malam ini hanya hanya natural. Serasi dengan kebaya pengantin yang akan ia kenakan.


"Tuan Marcello pasti tidak bisa berkedip melihatmu, Cha," goda Erika sembari memperhatikan wajah cantik sahabatnya itu.


"Hhhh, kamu bisa saja!" celetuk Marissa.


Tepat setelah Marissa selesai mengenakan kebaya pengantinnya, Pak Penghulu, Pak Kades serta para tetua desa tiba si kediaman Bu Nilam.

__ADS_1


Marcello dan Fattan segera menyambut kedatangan mereka kemudian mempersilakan orang-orang itu untuk duduk di lantai yang sudah digelar karpet terbaik milik Bu Nilam.


"Silakan duduk dulu, Bapak-Bapak. Calon mempelai wanitanya masih dirias," ucap Fattan.


Mereka pun duduk di sana sambil berbincang-bincang satu sama lain. Bukan hanya para Bapak-Bapak itu yang tiba disana, tetapi para warga desa pub tidak ingin ketinggalan di acara pernikahan Marcello dan Marissa. Mereka berkumpul dan duduk dengan rapi, memenuhi ruangan utama hingga ke teras depan rumah sederhana milik Bu Nilam.


"Bagaimana, Tuan? Apa keluarga dari pihak kalian sudah tiba? Terutama untuk pihak mempelai wanita," tanya Pak Penghulu.


"Maafkan kami, Pak. Baik saya maupun calon Istri saya tidak memiliki sanak saudara lagi." Wajah Marcello terlihat sendu.


Apa yang dikatakan oleh Marcello adalah benar. Kini ia hanya seorang diri. Kedua orang tuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dalam waktu yang hampir bersamaan karena memang usia mereka yang sudah tidak muda lagi. Sedangkan Marissa, ia bahkan tidak tahu siapa dan dimana kedua orang tuanya.


"Baiklah kalau begitu. Para tetua desa bersedia menjadi saksi di pernikahan kalian malam ini sedangkan untuk wali nikah mempelai wanita, kita bisa meminta Pak Kades untuk menjadi wali hakim mempelai wanita," tutur Pak Penghulu.


"Ayo, Marissa. Sepertinya semua orang sudah berkumpul," ajak Bu Nilam sambil tersenyum menatap gadis cantik itu.


Marissa bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah bersama Bu Nilam dan juga Erika menuju ruang utama, dimana semua orang sudah berkumpul disana. Kedatangan Marissa di ruangan itu, membuat semua mata tertuju padanya.


Mereka berdecak kagum melihat kecantikan Marissa pada malam itu, begitupula Marcello dan Fattan. Tanpa sadar, Marcello menyunggingkan sebuah senyuman di wajah tampannya ketika menatap Marissa.


Bu Nilam menuntun Marissa hingga gadis itu duduk tepat di samping Marcello. Marcello melirik gadis itu sambil tersenyum. "Cha, kamu cantik sekali," ucap Marcello.


"Baiklah, karena mempelai wanitanya sudah hadir, sebaiknya kita mulai saja acaranya," ucap Pak Penghulu.


Acara sederhana itupun dimulai. Setelah melakukan serangkain acara dan adat di desa tersebut, kini tiba saatnya Marcello mengesahkan Marissa menjadi istrinya.

__ADS_1


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/Ananda Marcello Alexander bin Martin Julianno Alexander dengan Marissa dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Marissa dengan mas kawin tersebut, tunai."


"Bagaimana saksi, sah?"


"SAH!!!"


Akhirnya Marcello dan Marissa sah menjadi Suami-Istri. Seluruh warga terlihat bahagia, begitupula Bu Nilam dan Erika. Hanya Fattan yang terlihat sendu, walaupun ia sudah berusaha ikhlas dan menerima kenyataan bahwa Marissa kini sudah sah menjadi Istri dari seorang Marcello.


"Tenang saja, Pak Fattan. Masih ada aku yang masih single," goda Erika sambil menyenggol tubuh Fattan yang duduk di sampingnya.


Fattan hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa Erika serius ketika mengucapkannya.


"Maafkan Daddy, Cha. Pernikahan ini sangat sederhana sekali, tetapi Daddy janji akan merayakan pernikahan ini setibanya di kota nanti," tutur Marcello menatap sedih Marissa yang sedang mencium punggung tangannya.


,Marissa mengangkat kepalanya kemudian menatap lelaki itu. "Jangan lupa cincin mahal seperti milik Sarrah," ucap Marissa sambil menyeringai.


Marcello tersenyum. "Baiklah, apapun itu."


Bu Nilam bergegas ke dapur bersama para Ibu-Ibu (tetangga sebelah rumah) yang membantunya mempersiapkan makanan sederhana untuk semua tamu, baik itu warga desa maupun Pak Kades beserta para tetua desa.


Mereka menikmati makanan sederhana itu, begitupula Marcello. Walaupun makanan yang sedang disantapnya sekarang hanya sepiring nasi putih dengan telor balado, tetapi kebersamaan mereka saat itu membuat masakan sederhana tersebut terasa sangat nikmat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2