
"Tenanglah, Joe! Jangan tegang begitu. Masa-masa menegangkan sudah lewat. Sekarang saatnya masa untuk bersenang-senang," goda Marcello kepada Joe yang sejak tadi hanya terdiam seribu bahasa.
Memang masa Ijab kabul memang sudah lewat dan Sofia sudah sah menjadi istrinya. Namun, ada masa tegang selanjutnya yang harus ia hadapi. Malam ini ia tidak lagi tidur sendiri. Ada seorang gadis yang akan menemaninya.
"Tuan, sharing-lah sedikit tentang malam pertama Anda. Saya benar-benar takut dan gugup," tutur Joe dengan wajah pucat.
Marcello tergelak mendengar penuturan Joe saat itu. Matanya bahkan sampai berair.
"Ya ampun, Joe! Itulah efek kelamaan jomblo. Sampai-sampai malam pertama saja kamu takut, seperti anak gadis saja! Seharusnya yang takut itu Sofia, bukan dirimu."
Tiba-tiba saja terlintas pikiran konyol Marcello. Ia melirik Joe kemudian bertanya kepada lelaki itu dengan penuh selidik.
"Jangan buat aku curiga, Joe. Apa jangan-jangan senjatamu sudah tidak aktif lagi?"
Sontak, Joe mengapit kedua pahanya dan menatap sang majikan dengan tatapan kesal karena senjatanya dikatakan sudah tidak aktif lagi.
"Masih aktif, Tuan. Percayalah padaku," sahut Joe.
"Ya, baguslah kalau masih aktif. Itu artinya kamu tidak perlu mengkhawatirkan malam pertamamu. Kamu tidak perlu cemas, senjatamu tidak perlu diajari cara bangkit dan dia sudah tau jalan menuju sarangnya tanpa harus kamu tuntun, Joe." Marcello kembali terkekeh pelan.
"Semoga saja, Tuan."
__ADS_1
Sementara Joe dan Marcello masih bebincang di ruang utama sambil bersantai. Marissa sedang berada didalam kamar Joe yang sekarang juga menjadi kamar Sofia.
"Ini salah satu koleksiku, tapi kamu tenang saja, ini belum pernah aku kenakan sekalipun. Hanya menjadi pajangan di dalam ruangan pakaianku karena aku sangat menyukai modelnya," ucap Marissa sembari menyerahkan selembar Lingerie seksi kesayangannya.
Sofia menenteng lingerie tersebut sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Oh, Tuhan! Seksi sekali ... apa aku harus mengenakannya, Nona?" tanya Sofia
"Ya, harus. Aku sudah mencium aroma-aroma ketakutan dari Om Joe dan aku yakin sekali jika kamu tidak memulainya, Om dingin itu tidak akan pernah mau memulai malam pertama kalian!"
"Hah? Benarkah?!" pekik Sofia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Marissa menyerahkan dua buah pil ke tangan Sofia sambil mengerlingkan matanya kepada gadis itu. Sofia sudah tahu pil apa yang diberikan oleh Marissa padanya karena Marissa sudah menjelaskan semuanya ketika ia sedang di rias tadi siang.
"Sofia, sepertinya aku harus kembali. Mungkin Om Joe sudah menuju kesini dan aku tidak ingin menjadi pengganggu malam kalian," ucap Marissa sembari bangkit dari posisi duduknya.
Marissa bergegas keluar dari kamar itu dan ternyata firasatnya benar. Joe sedang melangkahkan kakinya menuju ruangan itu dengan langkah gontai.
"Selamat malam, Om Joe!" sapa Marissa ketika berpapasan dengan lelaki itu.
"Selamat malam, Nona." Joe membungkuk hormat dan setelah Marissa menjauh darinya, ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Dimana Sofia sudah menunggunya disana.
__ADS_1
Perlahan Joe membuka pintu kamar tersebut dan matanya langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang masih lengkap dengan kebaya pengantinnya. Gadis itu duduk di tepian tempat tidur sambil memperhatikan sesuatu di telapak tangannya.
Mendengar pintu kamar terbuka, Sofia pun segera menoleh ke arah pintu kemudian melemparkan senyuman hangatnya kepada Joe. Sofia menyembunyikan pil yang tadi diserahkan oleh Marissa kedalam genggamannya.
Perlahan Joe melepaskan setelan jas yang sedang dikenakannya dan meletakkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Satu persatu pakaiannya terlepas hingga kini yang tertinggal hanya celana boxernya saja.
Sofia terpaku melihat punggung mulus Tuan Joe yang berdiri membelakanginya. Tangan Sofia sangat gatal. Ia ingin sekali menyentuh punggung lebar itu kemudian bersandar disana sambil mendengarkan detak jantung lelaki itu. Namun, sepertinya itu hanya angan-angan saja. Joe malah masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Sofia menekuk wajahnya ketika Joe begitu sombong pada dirinya. Ia memperhatikan pil yang ada di dalam genggamannya kemudian menyeringai licik.
"Baiklah, Tuan Joe! Sekarang kita buktikan apakah Anda masih bisa menolak menatapku jika obat ini meluncur ke tenggorokanmu?!" gumam Sofia.
Sementara Joe sedang menikmati ritual mandinya, Sofia menghancurkan pil itu menjadi serbuk kemudian memasukkannya ke dalam gelas minuman milik Tuan Joe yang berada di atas nakas. Gadis itu mengaduk-aduk minuman tersebut hingga serbuk obat itu menyatu dengan minuman milik Tuan Joe.
"Aku ingin lihat bagaimana reaksi Tuan Dingin ketika obat ini bereaksi pada tubuhnya. Walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana reaksi obat ini sebenarnya. Tapi ya sudahlah, demi menaklukkan suami dadakan agar tidak tersesat jalan, seperti kata Nona Marissa," gumam Sofia.
Tidak berselang lama, Joe pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang untuk melindungi senjata mautnya. Joe melangkah keluar dari ruangan itu sambil mengeringkan rambut lebatnya dengan menggunakan handuk. Wajah lelaki itu terlihat masih bimbang dan bibirnya pun masih tertutup rapat.
Sofia terus memperhatikan lelaki itu bahkan tanpa berkedip sedikitpun. Ia berharap Joe membalas tatapannya, tetapi lelaki itu terus membuang pandangannya ke arah lain. Sebenarnya Joe bukannya sombong, hanya saja ia sedang mencoba mengontrol kegugupannya di hadapan Sofia. Ia takut bertindak lebih konyol lagi dari sebelumnya.
...***...
__ADS_1