
Kembali ke kediaman Tuan Riyadh.
"Aku benar-benar menyesal sudah mengenal lelaki itu! Dia benar-benar menyebalkan!" gerutu Ismika sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sekarang bukan saatnya memikirkan lelaki bodoh itu. Saat ini nasibku sedang berada di ujung tanduk. Aku harus dihadapkan dengan pilihan yang sama sekali tidak aku inginkan."
Ismika bangkit dari tempat tidurnya kemudian menuju cermin rias miliknya. Wanita itu memperhatikan bayangannya di dalam cermin dengan tatapan sendu.
"Mungkin karena aku sudah tua dan jelek, hingga Riyadh tidak sudi lagi hidup bersamaku," gumam Ismika sambil mengelus wajahnya.
"Apa aku harus melakukan operasi biar wajahku kelihatan lebih muda dan kembali cantik?!" tanya Ismika pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Zaid muncul dari balik pintu dan segera menghampirinya.
"Ma, Zaid pergi dulu. Ada yang harus Zaid kerjakan," ucap Zaid sembari meraih tangan Ismika kemudian menciumnya.
"Ehm, Zaid. Kemarilah, Mama ingin bicara sebentar padamu."
Ismika mengajak Zaid menuju tempat tidur dan duduk di tepian tempat tidur mewahnya dengan mengajak serta Zaid. Setelah Zaid duduk di sampingnya, Ismika melemparkan sebuah senyuman hangat kepada anaknya itu.
"Zaid, jujurlah. Menurutmu apa Mama sudah terlihat tua dan jelek?" tanya Ismika dengan tatapan serius menatap Zaid.
__ADS_1
Zaid terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, Mah! Mamah itu wanita yang paling cantik yang ada di dunia ini," ucap Zaid.
Ismika menghembuskan napas panjang sembari menekuk wajahnya. "Ya, mungkin bagimu memang begitu, Zaid. Tapi tidak untuk Ayahmu. Dia mungkin menganggap Mama sudah tidak cantik dan menarik lagi hingga ia ingin menceraikan Mama," jawab Ismika dengan mata berkaca-kaca.
"Apa, bercerai!!!" pekik Zaid.
Lelaki tampan itu nampak marah dan kesal. Wajahnya kembali memerah dan ia tidak menyangka bahwa Papanya memiliki niat seperti itu. Ismika puas, ternyatanya Zaid benar-benar berada di sisinya. Anak semata wayangnya itu bisa ia andalkan untuk mempertahankan hubungannya dengan Riyadh.
"Ya, Zaid. Papamu berniat menceraikan Mama dan Mama yakin alasannya adalah karena ia kembali berhubungan dengan wanita yang bernama Dian itu. Mungkin Dian jauh lebih cantik dan lebih muda dari Mama," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak bisa dibiarkan, Mah! Mama tenang saja, Aku akan bicara sama Papa dan jika Papa masih bersikeras dengan keinginannya, maka kita harus buat perhitungan kepada wanita yang bernama Dian itu," jawabnya dengan rahang yang mengeras.
"Mama tenang saja dan jangan terlalu banyak pikiran, nanti penyakit Mama kumat lagi. Sebaiknya, Mama istirahat saja dan jangan kemana-mana," tutur Zaid sembari melerai pelukannya. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian melabuhkan ciuman hangat di kening Ismika .
"Aku berangkat dulu. Aku janji tidak akan lama dan setelah semua kerjaan itu selesai, aku akan kembali menemui Mama disini," ucapnya lagi.
"Baiklah," jawab Ismika sembari menyeka air matanya.
Zaid pun bergegas menuju halaman depan rumahnya dan segera melaju bersama mobil mewahnya. Sepeninggal Zaid, Ismika kembali ke depan cermin hiasnya. Ia merapikan riasan wajahnya yang nampak berantakan.
Drettt ... dreett ...
__ADS_1
Ponsel Ismika kembali berdering. Dengan cepat, wanita itu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri benda pipih yang tergeletak diatas tempat tidur. Ia sangat berharap mendapat panggilan dari dua lelaki suruhannya. Ia ingin sekali menemui kedua lelaki itu dan memberitahu bahwa kondisi mereka dalam keadaan bahaya. Keberadaan mereka sedang diincar oleh anak buahnya Riyadh.
Namun, sayang apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Bukannya mendapatkan panggilan dari kedua orang pesuruhnya, ia malah mendapatkan panggilan dari laki-laki yang selama ini hanya menggerogoti kehidupannya seperti benalu.
"Sialan, dia lagi!" kesalnya sembari menerima panggilan itu.
"Apa lagi? Apa uang yang aku berikan semalam masih kurang banyak, ha?!" geram Ismika dengan wajah memerah.
"Ismika sayang, jangan marah-marah seperti itu. Nanti tidak baik untuk kesehatan jantungmu." Lelaki itu terkekeh dan membuat Ismika semakin geram.
"Tidak usah berbasa-basi, sekarang katakan apa maumu?!"
"Temui aku di hotel XX. Aku menunggumu, emuach!" ucap lelaki itu sambil tergelak sebelum ia memutuskan untuk menutup panggilan itu.
Ismika memegang dadanya yang mulai terasa berdenyut. Permasalahannya yang semakin ruwet membuat dirinya semakin frustrasi.
Ismika menjatuhkan dirinya di tepian tempat tidur kemudian mencoba menenangkan dirinya agar rasa nyeri di dadanya sedikit berkurang.
"Ya Tuhan, seandainya aku tidak tergoda oleh ***** saat itu, mungkin pernikahanku dengan Riyadh akan baik-baik saja hingga saat ini," gumamnya dengan gurat wajah yang begitu jelas menampakan sebuah penyesalan terdalam.
...***...
__ADS_1