
Joe memarkirkan mobilnya tepat disamping warung kecil tersebut, dimana Marcello dan Marissa sedang menunggu pesanannya.
"Joe, duduklah disini," titah Marcello sembari menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.
Joe pun mengangguk dan mengikuti perintah Marcello. Tidak berselang lama, pesanan mereka pun tiba. Satu porsi untuk Marissa, satu porsi untuk Marcello dan satu porsinya lagi untuk Joe.
Marissa begitu bersemangat menyambut pesanannya. Ia segera meraih sendok dan garpu yang telah tersedia diatas meja kemudian mulai menyantapnya.
Marcello memberi isyarat kepada Asistennya itu untuk mulai mencicipi sop ayam tersebut sebelum dirinya. Ini pertama kalinya bagi seorang Marcello duduk di warung makan dan memakan makanan di pinggir jalan.
Sebenarnya bukan hanya Marcello, ini pun pertama kalinya Joe menikmati makanan pinggir jalan seperti itu. Berbeda dengan Marissa yang memang sudah terbiasa dengan kehidupan sederhananya.
Dengan ragu-ragu, Joe memulai suapan pertamanya. Marcello dengan serius memperhatikan ekspresi Joe saat itu.
"Bagaimana, Joe?"
"Tidak buruk, Tuan."
Marissa terkekeh mendengar obrolan kedua lelaki tersebut.
"Ya ampun, Tuan-Tuan, nikmatilah! Anda-anda tidak akan mati konyol hanya karena menikmati makanan pinggir jalan seperti ini," ucap Marissa.
"Baiklah, akan ku coba."
Marcello mulai membuka mulutnya dan mencicipi sop ayam tersebut. Untuk pertama kalinya, wajahnya biasa-biasa saja dan saat mencicipi untuk yang kedua kalinya, ekspresi wajahnya berubah menjadi heran.
"Kalau menurutku, rasanya jauh lebih enak buatan juru masak di Mansion kita, Cha. Lalu kenapa kamu malah menyukai masakan disini?"
Marissa hanya tersenyum dan terus menikmati sop ayamnya. Setelah beberapa saat, Marissa pun selesai. Sedangkan Joe dan Marcello menikmatinya dengan ogah-ogahan.
"Aku sudah kenyang. Terima kasih, Dad," ucap Marissa sembari memeluk lengan Marcello dan menyandarkan kepalanya ke pundak lelaki itu.
__ADS_1
"Sama-sama." Marcello tersenyum kemudian mengelus lembut kepala Marissa yang bersandar di pundaknya.
Setelah Joe membayar makanan mereka, ia pun kembali melajukan mobilnya menuju Mansion. Sesampainya di depan Mansion, Marissa kembali bersikap aneh.
"Daddy, gendong!" rengeknya seperti bocah.
Marcello membulatkan matanya ketika menatap istri kecilnya itu. Sedangkan Joe sempat terkekeh pelan mendengar permintaan ganjil Marissa saat itu.
"Tumben?"
Marcello menghampiri Marissa dan mengangkat tubuhnya. Marissa terlihat begitu bahagia, ia mengalungkan tangannya ke leher Marcello sambil tersenyum hangat. Sedangkan lelaki itu menaggapinya biasa-biasa saja. Walaupun jauh di lubuk hatinya ia merasa perilaku Marissa hari ini sedikit aneh.
Marcello membopong tubuhnya hingga kedalam kamar mereka dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Daddy mau kemana?" tanya Marissa ketika lelaki itu menjauh darinya.
"Mau ke kamar mandi, Cha. Memangnya kenapa, kamu mau ikut juga?" goda Marcello sembari melepaskan pakaian yang sedang dikenakannya.
Marissa menggelengkan kepalanya pelan kemudian bersandar di sandaran tempat tidurnya. Setelah Marcello masuk kedalam kamar mandi, Marissa meraih ponselnya. Ia ingin menghubungi Erika yang kini tak ada kabarnya setelah hari pernikahan waktu lalu.
"Hhhh, pengantin baru. Saking asiknya sama pak Fattan, sahabatnya sampai dilupakan," kesal Marissa.
"Eh, bukan begitu, Icha sayang. Seminggu setelah hari pernikahan, aku dan Fattan sempat tinggal di desa karena Ibu mertuaku yang minta dan sekarang aku dan Fattan berencana tinggal di kota Tuan Marcello!!!" teriaknya kegirangan.
"Serius?!" Marissa pun tidak kalah senang mendengarnya.
"Ya, Cha. Fattan 'kan masih ngajar disana. Jadi, mau gak mau kami pun harus tinggal disana juga."
"Wah, berarti kita bisa ketemuan setiap saat, donk! Secara kita 'kan berada di kota yang sama. Mana jaraknya gak jauh juga," ucap Marissa.
"He'em. Eh, thanks ya lingerie-nya. Rencanamu memang hebat, Fattan bahkan tidak bisa berkutik malam itu, bhahaa!" Erika tergelak karena mengingat malam pertamanya bersama sang suami.
__ADS_1
"Huwahhh! Udah jebol aja." Marissa pun ikut tergelak.
Marcello yang baru saja keluar dari kamar mandi, memperhatikan istrinya yang sedang asik tergelak dengan sebuah ponsel di samping telinganya. Ia geleng-geleng kepala, setelah tahu apa yang sedang dibahas oleh kedua sahabat itu.
"Ehem!"
Marcello berdehem karena pembicaraan kedua sahabat itu semakin kesini, semakin ngelantur saja.
Sontak saja Marissa menoleh kepada lelaki itu. "Eh, sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi," ucap Marissa kepada Erika dan segera mematikan ponselnya.
"Sudah selesai, Daddy sayang?" goda Marissa.
"Ya, sudah sejak tadi."
Marissa tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya. Tepat disaat itu Joe mengetuk pintu kamar mereka.
"Tuan, bolehkah kita bicara sebentar?" ucap Joe dari luar.
Marcello melirik jam tangan mewahnya kemudian segera meraih kemeja dan celananya. "Tunggulah sebentar, aku akan segera menyusulmu," sahutnya.
"Baik, Tuan."
Joe segera berlalu dan memilih menunggu Marcello di ruang pribadinya.
"Aku ikut, ya!" rengek Marissa lagi.
"Tidak usah, Sayang. Aku janji tidak akan lama, tunggulah disini."
Marcello melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Marissa dan segera berlalu menuju ruang pribadinya. Marissa menekuk wajahnya dan memilih bermain dengan ponselnya lagi.
"Ada apa, Joe? Apa kalian sudah menemukan titik terang tentang Marissa?"
__ADS_1
"Ya, Tuan. Dan mungkin ini sungguh mengejutkan," sahut Joe.
...***...