Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 230


__ADS_3

"Siapa gadis itu? Kenapa dia begitu mirip dengan Shakila? Apakah Shakila dan Akira kembar atau mereka hanya kebetulan mirip saja? Tapi, jika mereka kembar, kenapa Om Joe tidak pernah bercerita? Dan kenapa juga Om Joe tega melepaskan salah satu anaknya? Atau ...." Melvin bergumam ria sambil melajukan mobilnya kembali ke mansionnya.


Sementara itu di dalam sebuah mobil mewah lainnya.


"Siapa lelaki itu? Kenapa dia begitu berani menyentuhku? Bukankah aturan mainku sudah jelas atau kalian lupa memberitahukan hal itu kepadanya?" kesal gadis penari erotis yang terkenal dengan sebutan Akira tersebut.


"Maafkan kami Nona, tapi kami sudah memberitahukan hal itu pada Tuan Felix dari jauh hari." Salah seorang Bodyguard menjawab pertanyaan gadis itu sambil melajukan mobilnya.


"Lalu, kenapa dia nekat melakukan hal itu padaku dan sekarang dia sudah melihat wajahku dengan sangat jelas! Blacklist nama lelaki itu karena aku sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi."


"Baik, Nona!"


Keesokan harinya.


"Melvin sayang, matamu kenapa?" tanya Marissa saat ia melihat mata panda Melvin.


"Tadi malam aku tidak bisa tidur, Mom."


Melvin menarik sebuah kursi dan duduk di samping Maria yang sudah memulai sarapannya tanpa mempedulikan yang lain.


"Kamu begadang lagi?" tanya Marissa.


"Memangnya kamu pulang jam berapa tadi malam? Pasti pestanya sangat meriah, ya?" sela Marvel yang kini juga duduk di salah satu kursi.


"Sebenarnya--"


Melvin terdiam, untuk saat ini dia tidak ingin menceritakan sosok Akira yang begitu mirip dengan Shakila kepada siapapun. Ia ingin menyelidikinya terlebih dahulu dan setelah semuanya jelas, baru ia akan menceritakan hal itu pada mereka.


"Sebenarnya apa, Vin?" Marissa masih penasaran.


"Bukan apa-apa, Mom. Ya, pesta tadi malam sangat meriah hingga aku lupa waktu."

__ADS_1


"Hmm, dasar!"


Marissa meraih sendok dan garpu kemudian memulai sarapannya. Marissa sempat melirik Marcello yang hanya diam dan tidak bicara sepatah katapun. Namun, netra elang tersebut terus memantau ketiga anaknya.


Setelah beberapa saat, sarapan mereka pun selesai. Maria dan kedua Kakak lelakinya siap berangkat ke tujuan mereka masing-masing.


"Bye, Mom! Bye, Dad!"


Maria menaiki motor maticnya kemudian memasang helm berwarna pink tersebut ke atas kepala. Setelah selesai, ia pun segera melajukan benda tersebut menuju sekolahnya.


"Bagaimana reaksi Aidan ketika ia tahu bahwa Maria adalah seorang pecinta Si Kitty? Entah mengapa aku tidak yakin Aidan bisa menerima hal itu," ucap Marissa sembari melangkahkan kakinya memasuki mansion bersama Marcello.


"Aidan pasti menerimanya, aku yakin itu."


Marissa menghembuskan napas panjang seraya tersenyum getir. "Hmm, semoga saja."


Di perjalanan,


Sementara Maria tengah asik duduk melamun memikirkan masalah pertunangannya bersama Aidan, Dylan malah melewati taman itu bersama Pak Udin yang kini tengah fokus melajukan mobilnya.


Mata Dylan tertuju pada sebuah motor matic berstiker Hello Kitty yang sangat ia kenali, yang kini terparkir di pinggir jalan.


"Bukankah itu motor milik Maria? Sedang apa dia disana? Apa dia bolos lagi?" gumam Dylan sembari melirik jam tangannya.


"Ah, biarin lah," ucap Dylan yang mencoba acuh.


Namun, baru beberapa meter Dylan melewati taman tersebut, ia sudah memerintahkan Pak Udin untuk putar balik.


"Pak Udin, kembali!" titah Dylan refleks.


"Kita mau kemana, Tuan?"

__ADS_1


"Kembali ke taman di pinggir jalan yang baru saja kita lewati."


Walaupun Pak Udin bingung, tetapi karena ini adalah titah dari Big Bossnya, Pak Udin pun menurut saja. Ia memutar balik mobil yang ia kemudikan kembali menuju taman.


"Berhenti disini, Pak!" titah Dylan sebelum mobil tersebut mencapai taman.


Seperti biasa, Dylan melepaskan dasi, jas serta rompi mahalnya kemudian keluar dari mobil tersebut.


"Pak Udin, pergilah. Nanti jika urusanku sudah selesai, aku akan segera menghubungimu," ucap Dylan sebelum ia melangkahkan kakinya menuju taman tersebut.


"Siap, Tuan!" jawab Pak Udin dengan wajah semringah.


Dari kejauhan, Dylan memperhatikan seorang gadis sedang duduk di salah satu kursi taman dengan wajah menekuk. Ia menghampiri gadis itu kemudian duduk di sampingnya.


"Hai, Maria! Sedang apa kamu disini?"


Maria sempat terkejut dan refleks menoleh ke sampingnya.


"Om Udin?"


Mata Maria terlihat berkaca-kaca saat bersitatap dengan lelaki tampan yang kini duduk di sampingnya.


"Kenapa lagi, Maria? Bukankah harusnya kamu sudah berada di sekolah saat ini? Kenapa kamu malah duduk disini, sendirian lagi," ucap Dylan sambil memperhatikan wajah kusut Maria.


"Aku malas sekolah, Om. Aku sedang bad mood," jawab Maria sambil menundukkan kepalanya.


"Bad mood kenapa?"


"Tadi malam orang yang akan di jodohkan denganku berkunjung ke mansion dan hasil akhirnya, kami akan resmi bertunangan setelah selesai ujian akhir sekolah," tutur Maria.


"Apa?!" pekik Dylan sambil membulatkan matanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2