Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 131


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menguras tenaga, akhirnya Sofia tiba di halaman depan rumahnya. Gadis itu memboyong serta sepedanya memasuki rumah kecilnya. Sang Ibu terperanjat saat melihat anak gadisnya datang-datang membawa sebuah sepeda. Ia segera menghampiri Sofia yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


"Sepeda siapa ini, Sofia?"


"Coba Ibu tebak, sepeda siapa?"


Sofia menepuk tempat duduk sepedanya dengan penuh bangga. Sang Ibu semakin kebingungan, ia memperhatikan raut wajah bahagia sang Anak sambil mengerutkan kedua alisnya. 


"Jangan buat Ibu semakin penasaran, Sofia. Katakan saja yang sebenarnya, sepeda ini milik siapa? Jangan bilang kamu nyolong punya orang, ya! Soalnya kalau dipikir-pikir, kamu tidak mungkin bisa membelinya 'kan, dapat duit darimana?" gumam Sang Ibu.


"Ih, Ibu mah kalau ngomong tuh suka asal, deh. Mana mungkin anak gadis Ibu yang cantik membahana ini jadi maling sepeda orang? Yang benar saja, Bu," sahut Sofia sambil terkekeh pelan.


"Lah trus, punyanya siapa?" tanya sang Ibu yang semakin penasaran.


Sofia tersenyum kemudian memeluk tubuh kurus sang Ibu. "Sini deh, Bu. Sofia ingin menceritakan kisah Sofia hari ini."


Sofia menuntun Ibunya untuk duduk di lantai rumah sambil bersandar di dinding kamar yang sudah terlihat lapuk karena dimakan usia. Setelah sang Ibu duduk, Sofia pun menjatuhkan tubuhnya di samping Ibunya.


Sofia mulai menceritakan kejadian yang ia lewati hari ini. Mulai dari para preman yang datang mengganggunya, kemudian Asisten Joe yang rela baku hantam dengan para preman itu demi menolong dirinya, hingga ia di berikan pekerjaan sebagai Pelayan di Mansion megah milik Marcello dengan gaji di atas rata-rata.


"Apa Ibu tahu, Istri dari pemilik Mansion tersebut orangnya sangat cantik dan dia masih seumuran sama Sofia. Dia seperti boneka barbie hidup, Bu. Sofia aja terpesona, apalagi laki-laki. Selain cantik, Nona Marissa juga sangat baik, Bu. Ia bahkan rela membeli semua kue-kue Sofia kemudian membagikannya kepada para Bodyguard yang sedang berjaga saat itu. Dan sebagai gantinya, Nona Marissa menyerahkan ini untuk Ibu." 


Sofia menyerahkan sejumlah uang yang diberikan oleh Marissa untuk berobat ke tangan sang Ibu. Dengan gemetar, Ibunda Sofia memperhatikan uang yang sekarang ada di atas telapak tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca dan butiran kristal itu hampir saja merembes tadi sudut matanya.

__ADS_1


"Mereka baik sekali ya, Nak. Nanti bolehlah kapan-kapan Ibu bertemu dengan mereka."


"Ya, Bu. Mereka memang sangat baik dan Sofia yakin mereka pasti bersedia menemui Ibu."


"Jadi, sepeda inipun pemberian mereka juga?"


"Kalau sepeda ini, Sofia dikasih sama Asisten Joe, Bu. Dia memang sangat cuek dan kadang mulutnya itu suka ngeselin kalo bicara, tapi sebenarnya dia sangat baik. Buktinya ia bersedia bergelut bersama para preman itu hanya demi menolong Sofia, Bu," jawab Sofia sambil membayangkan perkelahian seru yang terjadi tadi pagi antara Asisten Joe dengan para preman itu.


Sementara itu di Mansion.


Marissa sedang berendam di bath up sambil memejamkan matanya. Entah sudah berapa lama Marissa berada di dalam ruangan itu hingga sang Suami mencemaskannya.


"Benar-benar deh, si Icha. Kalau sudah berada di dalam kamar mandi, ia pasti lupa waktu," gumam Marcello sambil melirik jam dinding mewahnya.


Kebiasaan aneh Marissa terjadi setelah wanita itu dinyatakan positif hamil. Mungkin hal itu memang bawaan bayi mereka, tetapi Marcello tetap merasa khawatir.


"Cha?!"


Marissa sontak membuka matanya. Ia menoleh kemudian tersenyum hangat menyambut Marcello yang datang menghampirinya.


"Dad?!"


Marcello memperhatikan tubuh polos sang istri yang tertutupi busa-busa sabun dan entah mengapa ia pun ingin ikut berendam bersama Marissa. Marcello menyeringai sambil melepaskan pakaiannya dan melemparkannya ke sembarang arah. Setelah tubuhnya polos, Marcello pun segera masuk kedalam bath up dengan posisi di belakang Marissa.

__ADS_1


Marissa tersenyum kemudian bersandar di dada bidang Marcello. Sedangkan Marcello memeluk tubuh Marissa dari belakang sambil menciumi tengkuknya.


"Daddy, tinggal beberapa hari lagi pernikahan Ibu dan Ayah akan dilaksanakan. Aku pasti akan merindukan Ibu," lirih Marissa dengan wajah sendu.


"Tidak masalah, kamu tinggal hubungi dan suruh Ibumu menjengukmu di sini. Lagipula Tuan Riyadh sudah memutuskan untuk tinggal di negara kita, jadi kamu tidak perlu repot-repot menyusul ke negara asalnya."


Marissa sontak menoleh kepada Marcello sambil menautkan kedua alisnya. "Benarkah? Kenapa aku tidak tahu, baik Ayah maupun Ibu tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku?"


Marcello tersenyum kemudian menyingkirkan rambut Marissa yang menutupi tengkuk kesukaannya. Ia kembali menciumi salah satu tempat favoritnya itu sambil berucap.


"Tuan Riyadh baru saja menghubungiku dan mengatakan hal itu. Oh ya, Cha. Setelah mereka sah menjadi suami istri, maka bersiaplah mendapatkan anggota keluarga baru," ucap Marcello sambil terkekeh pelan.


"Hah, maksudnya?"


"Bersiaplah mendapatkan adik baru karena Tuan Riyadh sudah tidak sabar ingin menambah momongan. Lagipula Ibumu masih muda, masih bisa nambah satu atau dua bayi lagi," goda Marcello.


"Ih, Daddy. Masa iya aku dan Ibu harus barengan hamilnya?"


"Lah, memangnya kenapa? Ya, bagus donk."


"Entah mengapa Icha kok malu membayangkannya. Disaat nanti aku dan Ibu beradu perut buncit. Ya, Tuhan," lirih Marissa sambil menutup wajahnya kedua tangan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2