Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 36


__ADS_3

"Icha!" sapa Marcello sambil tersenyum hangat.


Marcello berjalan menghampiri Marissa yang sedang terbaring di bed pasien. Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun ketika menatap Marcello yang mendekat kepadanya. Lelaki itu meraih sebuah kursi dan meletakkannya disamping bed Marissa kemudian duduk disana.


"Cha, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Marcello sembari membelai pipi Marissa.


"Aku lelah, Dad! Usiaku sudah 19 tahun tetapi Daddy memperlakukan aku seperti bocah yang baru berusia 10 tahun," sahut Marissa dengan wajah cemberut.


Marcello terkekeh pelan. Ia meraih tangan Marissa kemudian menggenggamnya dengan kedua belah tangannya. "Itu karena Daddy begitu menyayangimu, Cha. Daddy tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang tidak diinginkan, itu saja," sahut Marcello.


"Apa Daddy tau, di luaran sana banyak sekali gadis seusia Icha yang sudah menikah, teman-teman Icha juga banyak yang sudah menikah, bahkan ada yang punya anak. Lah, Icha ... dideketin sama laki-laki aja, masa gak boleh?!" keluhnya.


"Cha, di dunia ini, tidak ada laki-laki yang menyayangimu setulus Daddy. Percayalah! Apalagi Dosen menyebalkan itu, Daddy yakin ia hanya mengincar sesuatu darimu."


Marissa membuang napas kasar. "Ya, sudah! Icha pacaran sama Daddy aja kalo begitu!" Marissa menarik tangannya dari genggaman Marcello kemudian menyilangkan tangannya ke dada sembari membuang muka.


"Memangnya kamu mau punya pacar seperti Daddy?" goda Marcello.


Marissa kembali menoleh kepada lelaki yang sedang tersenyum manis di sampingnya. Marissa terdiam sambil menetap lekat wajah tampan itu.


"Ya, Tuhan! Apakah aku melakukan dosa besar karena sudah mencintai Daddy-ku sendiri? Aku tahu, ini bukanlah perasaan seorang anak kepada Ayahnya, tetapi lebih kepada seorang Gadis yang jatuh hati kepada seorang laki-laki," batin Marissa.


Tepat disaat itu, Sarrah masuk ke dalam ruangan Marissa tanpa mengetuk apalagi meminta izin. Sontak saja, kedatangan Sarrah yang tiba-tiba membuat Marcello dan Marissa terkejut. Mereka kompak menoleh kearah Sarrah yang berjalan menghampiri laki-laki itu.

__ADS_1


"Drama apa lagi yang diciptakan oleh Gadis ini?" tanya Sarrah dengan wajah kesal, ia memperhatikan seluruh tubuh Marissa tanpa terlewat sedikitpun.


"Sarrah? Siapa yang memberitahu kamu kalau aku ada disini?" tanya Marcello, karena seingat lelaki itu, ia belum memberitahu soal Marissa dan juga keberadaan mereka kepada wanita itu.


"Aku baru saja dari Mansionmu! Dan salah satu Penjaga keamanan bilang bahwa kalian sedang berada disini," sahut Sarrah.


Marcello bangkit dari posisi duduknya kemudian melemparkan senyum untuk wanita itu. "Ehm, sebaiknya kita bicara diluar saja. Biar Icha bisa beristirahat," ajak Marcello sembari merengkuh pinggang ramping Sarrah.


"Daddy keluar dulu, ya, Cha. Sekarang kamu beristirahat lah."


Marcello segera menuntun Sarrah keluar dari ruangan Marissa. Sedangkan Marissa hanya bisa menatap punggung mereka, hingga pasangan itupun menghilang dari pandangan matanya.


Setelah keluar dari ruangan itu, Marcello mengajak Sarrah untuk duduk disalah satu kursi tunggu.


"Maafkan aku, Sarrah. Tadi malam aku ..."


Lelaki itu meraih tubuh Sarrah kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya. Ia mencoba menenangkannya sembari mengelus rambut Sarrah yang tergerai indah.


"Maafkan aku, Sarrah."


"Kamu kejam, Marcel! Kamu meninggalkan aku di tengah pesta dan memilih menghabiskan malam bersama Gadis itu!" hardik Sarrah sambil memukul-mukul dada bidang Marcello.


Marcello diam dan membiarkan Wanita itu tetap berada didalam pelukannya sembari mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya. Setelah tangis Sarrah mulai reda, Marcello kembali berucap.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu salah paham, Sarrah. Tadi malam aku memberi hukuman kepada Marissa karena sudah berani melakukan hal yang tidak senonoh bersama Dosen menyebalkan itu. Aku mengurung Marissa didalam kamarnya, kemudian kembali ke ruang pribadiku. Karena kelelahan, akhirnya aku tertidur disana, bukan bersama Marissa," tutur Marcello sembari meraih wajah cantik Sarrah dengan kedua tangannya.


Kini merekapun saling bertatap mata. Marcello bahkan tidak dapat mengedipkan matanya saat menatap kedua bola mata indah milik wanita itu. "Percayalah padaku, Sarrah!"


Akhirnya Sarrah pun luluh. Kemarahannya sirna saat ia menatap mata elang milik Marcello. "Baiklah, untuk kali aku maafkan, tapi jangan pernah lakukan itu lagi, ya, Sayang!" lirih Sarrah.


"Ya, aku berjanji."


Tanpa disadari oleh pasangan itu, Marissa memperhatikan mereka. Ia sengaja mengikuti pasangan itu dan mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Sayang, coba kamu lihat! Kenapa jariku bisa jadi seperti ini?" tanya Sarrah sembari memperlihatkan jari manisnya kepada Marcello.


Marcello menautkan kedua alisnya sambil melihat kearah jari manis Sarrah. "Kenapa jari manismu jadi seperti ini?!" pekik Marcello. Ia meraih tangan Sarrah kemudian memperhatikan dengan seksama jari manis tunangannya itu.


"Aku juga tidak mengerti, kenapa jariku jadi seperti ini," lirih Sarrah.


"Apa ini sakit?!" tanya Marcello, mencoba melepaskan cincin pertunangan mereka dari jari manis Sarrah.


"Aw!!!"


Sarrah meringis kesakitan saat Marcello berusaha melepaskan cincin tersebut.


Marissa masih memperhatikan pasangan itu. Ia terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan ketika mendengar penuturan Sarrah tentang yang terjadi pada jarinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ibu tiri. Karena aku, jarimu jadi seperti itu."


...***...


__ADS_2