Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 124


__ADS_3

Di tengah kebahagian yang dirasakan oleh Dian dan Riyadh, tiba-tiba ponsel lelaki itu berdering. Riyadh bergegas meraih ponselnya kemudian menerima panggilan tersebut.


"Ya, Zaid. Ada apa, Nak?" tanya Riyadh.


Zaid menyahut dari seberang telepon dengan nada cemas dan suaranya pun bergetar saat itu.


"Apa?! Baiklah Papa akan segera kembali," pekik Riyadh setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Zaid dari negara asalnya.


Semua orang di ruangan itu memperhatikan ekspresi Tuan Riyadh saat itu dan mereka mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi, tak terkecuali Joe.


"Ada apa, Ayah?" tanya Marissa cemas.


Riyadh yang baru saja memutus panggilannya bersama Zaid, kembali meletakkan ponsel tersebut kedalam saku celananya. Ia menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan dari Marissa.


"Sesuatu terjadi pada Ismika dan sekarang ia sedang dirawat di Rumah Sakit," jawab Riyadh.


"Jadi, kamu akan kembali?" tanya Marcello.


"Ya, tapi aku tidak sendiri. Bolehkah aku mengajak serta Dian dan Marissa bersamaku, Marcello?" tanya Riyadh.


Dian yang tadinya hanya duduk manis sembari memperhatikan lelaki itu, akhirnya bangkit kemudian menghampirinya.


"Kenapa kamu ingin mengajak serta kami, Riyadh?" sela Dian sambil menautkan kedua alisnya.


Riyadh kembali menghembuskan napas berat kemudian menatap lekat kedua bola mata calon istrinya itu.

__ADS_1


"Sebab, saat ini kondisi Ismika sudah sangat buruk. Ia ingin bertemu dengan kalian, terutama kamu, Dian. Mungkin dia ingin meminta maaf kepadamu," tutur Riyadh.


"Baiklah kalau begitu. Joe, segera persiapkan semuanya, kita berangkat hari ini," titah Marcello tanpa meminta pendapat siapapun.


Mau tidak mau, Dian dan Marissa pun terpaksa mengikuti perintah lelaki itu. Mereka bersiap-siap menuju negara asal Riyadh untuk menemui Ismika yang sedang sakit. Setelah persiapan kilat mereka beres, mereka pun segera meluncur dengan menggunakan pesawat pribadi milik Marcello.


Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mereka pun tiba di Rumah Sakit, dimana Ismika dirawat. Dengan langkah cepat, Riyadh menuju ruangan dimana Ismika sedang tergolek lemah.


Ketika pintu ruangan itu dibuka oleh Riyadh, nampak Zaid sedang duduk disamping tempat tidur Ismika. Nampak jelas gurat kesedihan terpancar diwajah Zaid. Sejahat apapun Ismika, wanita itu tetaplah Ibu kandungnya. Orang yang sudah mengandung dan melahirkannya ke dunia ini.


Tubuh Ismika yang sudah lemah itu di penuhi dengan berbagai alat-alat medis. Alat bantu napas, selang infus dan sebagainya. Kondisinya benar-benar sangat memprihatinkan, napasnya pun sudah tidak normal.


"Pah," lirih Zaid sembari bangkit dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan sanga Ayah.


Setelah Zaid melerai pelukannya bersama sang Ayah, ia pun kembali menghampiri tempat tidur Ismika dan berbicara disamping telinga wanita itu.


"Mah, Papa dan yang lainnya sudah datang," ucap Zaid sambil menyeka air matanya.


Tidak lama setelah Zaid mengatakan hal itu, kelopak mata Ismika mulai bergerak. Perlahan netra wanita yang sedang tergolek lemah itupun terbuka. Ia memperhatikan sekelilingnya kemudian mencoba tersenyum di tengah rasa sakit yang ia rasakan saat itu.


"Ri-Riyadh, maafkan aku," lirih Ismika.


Suaranya terdengar sangat lemah, apalagi saat itu tarikan napasnya sudah pendek-pendek. Riyadh menghampiri Ismika kemudian duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Zaid. Ia meraih tangan Ismika yang terasa dingin kemudian menggenggamnya.


"Tidak, Ismika. Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu karena selama ini aku tidak bisa membahagiakanmu apalagi menjadi suami yang baik untukmu," jawab Riyadh dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Ismika mencoba tersenyum sambil mengelus tangan Riyadh. Dan kini matanya tertuju pada wanita yang sedang berdiri tak jauh dari Tuan Marcello. Wanita yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Di-Dian, kemarilah."


Marcello dan Marissa menoleh kearah Dian dan sekarang wanita itu berjalan menghampiri Ismika. Saat Dian sudah berdiri disamping Riyadh, air mata Ismika pun meluncur deras. Dengan tenaganya yang masih tersisa, ia meraih tangan Dian.


"Maafkan semua kesalahanku, Dian. Aku tahu perbuatanku sungguh tidak dapat dimaafkan, tetapi hari ini aku butuh pengampunan darimu agar aku bisa kembali dengan tenang," tuturnya dengan terbata-bata.


Dian menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Nyonya Ismika. Saya sudah memafkan semua kesalahan Anda," sahut Dian dengan mata berkaca-kaca menatap wanita itu.


"Terima kasih, Dian. Kamu memang wanita yang sangat baik."


Air mata Ismika kembali meluncur deras. Ia begitu terharu karena sudah mendapatkan maaf dari wanita yang sepanjang hidupnya terus ia dzolimi. Ismika meletakkan tangan Dian di atas tangan Riyadh sembari berucap.


"Segeralah menikah. Aku doakan semoga kalian selalu bahagia,"


Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba tubuh Ismika kejang-kejang. Semua orang diruangan itu panik. Zaid bergegas memanggil Dokter, tetapi sayangnya Dokter terlambat. Ismika sudah menghembuskan napas terakhirnya ketika Dokter sedang menuju ruangan tersebut.


"Mamaaa!!!"


Zaid tidak kuasa menahan tangisnya. Ia terus memanggil-manggil Ismika sambil mencoba membangunkan wanita itu.


"Zaid, ikhlaskan kepergiannya Mamamu," ucap Riyadh sambil mengusap punggung Zaid yang masih bergetar di samping tubuh Ibunya yang sudah tidak bernyawa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2