
"Ehm, aku permisi dulu ya."
Baru saja satu langkah Marcello meninggalkan wanita itu, wanita itu kembali berkata kepadanya.
"EL, bisakah kita bicara sebentar? Ini ada hubungannya dengan masa lalu kita," ucapnya sambil memelas kepada Marcello.
Marcello berbalik lalu menatap wanita itu. "Maafkan aku, Bella. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa," jawabnya.
Bella itu nampak kecewa. Ia mencoba tersenyum kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tasnya.
"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"
Marcello kembali berpikir. Sebenarnya ia enggan memberikan nomor ponselnya kepada siapapun yang berhubungan dengan masa lalunya. Sekarang, ia hanya ingin berfokus pada Marissa dan masa depan mereka berdua, itu saja.
"Aku berjanji tidak akan mengganggumu, EL," ucap Bella lagi.
"Baiklah,"
Akhirnya Marcello pun bersedia memberikan nomor ponselnya kepada Bella.
Marissa terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Namun, sayangnya ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Posisi wanita itu selalu berdiri membelakanginya.
Setelah memberikan nomor ponselnya, Marcello pun pamit dan segera memasuki toko bunga tersebut. Ia ingin membeli satu buket bunga yang cantik untuk Marissa. Sedangkan Bella memasuki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari toko bunga tersebut.
Selesai melakukan pembayaran, dengan langkah cepat, Marcello membawa buket bunga tersebut kepada Marissa yang masih menunggunya di Cafe.
"Untukmu," ucap Marcello sembari menyerahkan buket bunga tersebut.
Marissa menatap bunga yang masih berada ditangan Marcello dengan wajah malas. Ia masih kesal dengan kejadian yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, dimana Marcello menahan tubuh wanita yang tadi ia tabrak.
"Siapa wanita itu?" tanya Marissa dengan wajah kesal menatap Marcello.
"Wanita? Siapa?"
__ADS_1
"Yang tadi Daddy tabrak? Tidak mungkin 'kan baru kenal sudah sedekat itu?" kesal Marissa.
"Marissa melihat kejadian itu, tapi kenapa Marissa tidak mengenalinya?" batin Marcello.
"Ehm itu, dia teman lamaku, Cha. Memang kenapa? Kamu cemburu, ya?" goda Marcello.
Marissa mendengus kesal. Ia meraih buket bunga di tangan Marcello kemudian melenggang pergi.
"Cha, tunggu!"
Setelah Marissa pergi, Marcello bergegas membayar minuman yang ia pesan sebelumnya kepada kasir lalu mengejar Marissa yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Gawat, gadis itu marajuk. Alamat, tidur diluar malam ini!" gumamnya dengan wajah panik.
Bahkan hingga kembali ke kamar, Marissa masih menekuk wajahnya. Ia malas bicara dan tetap menutup bibirnya dengan sempurna.
Marcello menghampiri Marissa yang sedang duduk di tepian tempat tidur. Lelaki itu ikut duduk disana, tepat disamping Marissa. "Maafkan Daddy ya, Cha. Daddy berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi, Daddy berjanji."
Jangankan peduli, Marissa malah berbaring kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya. Marcello hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ikut menjatuhkan diri tepat disamping gadis itu.
Dalam keadaan kesal, Marissa membangunkan Marcello yang masih terbuai mimpi. Hari ini adalah hari yang istimewa buat Fattan dan Erika. Istimewa atau Petaka, entahlah. Yang pastinya pasangan itu akan segera melangsungkan pernikahan mereka hari ini.
"Dad, bangunlah."
Marcello mengerjapkan mata. Ia tersenyum ketika mendengar suara Marissa yang sedang membangunkannya
"Akhirnya kamu bicara juga, Cha. Daddy lega," ucapnya.
"Terpaksa." jawab Marissa singkat dan jelas.
"Tidak apa, yang penting kamu sudah bersedia bicara sama Daddy," tutur Marcello dengan wajah semringah.
"Jangan banyak bicara, Dad! Cepat mandi dan bersiap-siap. Aku tidak ingin terlambat dihari istimewa sahabatku," sahutnya.
__ADS_1
"Baiklah, Daddy akan segera bersiap."
Beberapa jam kemudian, mereka pun segera berangkat menuju kediaman Pak Ferdinand, dimana acara pernikahan Erika dan Fattan dilaksanakan secara meriah. Erika terlihat begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih, senada dengan setelan jas yang sedang digunakan oleh Fattan.
Walaupun raut wajah Fattan dan Erika terlihat lebih aneh, tetapi tidak ada gurat kesedihan di wajah kedua mempelai itu. Marissa dan Marcello menghampiri mereka kemudian mengucapkan 'selamat'.
"Haha, akhirnya kamu kena batunya, Fattan! Siapa suruh membawa anak gadis orang tanpa izin," goda Marcello sambil tertawa puas. Puas karena pada akhirnya ia tidak memiliki saingan lagi.
"Terima kasih atas sanjungannya, Tuan Marcello." Fattan tersenyum kecut menanggapi kata-kata Marcello barusan.
"Siapa yang menyanjungmu."
Sementara para lelaki itu sedang asik mengobrol, Marissa dan Erika pun tidak mau ketinggalan.
"Ini buatmu, nanti malam kenakan, ya?!" ucap Marissa sembari menyerah kado yang sudah ia persiapkan sejak semalam.
"Apa ini?" tanya Erika kebingungan.
"Lingerie penghancur iman! Pokoknya kenakan saja, buat Fattan tak berkutik dengan kecantikan dan keseksian tubuhmu," tuturnya.
"Hhhh," protesnya. "Masa aku harus menjatuhkan harga diriku sih, Cha?" gumam Erika.
"Halah, tidak apa! Sudah sah juga, kok! Nungguin dia beraksi, sampe lumutan belum tentu dia nyentuh kamu, Erika. Tuh, contohnya Hot Daddy-ku. Bilangnya aja, enggak-enggak, sekarang malah ketagihan."
"Haha, benarkah? Jadi, kalian udah ...."
"Udah. Nih, lagi proses pembuatan para junior kami," sela Marissa sambil tergelak.
"Ya Tuhan, Cha. Kamu memang nakal," sahut Erika sambil menggelengkan kepalanya.
...***...
Doain hari ini bisa UP tiga bab, ye. 😘😘😘
__ADS_1
Oh, ya. Kehadiran Bella disini hanya pemanis saja, supaya ceritanya tidak monoton. Pokoknya, gak ada pelakor yang bisa mengganggu hubungan mereka. Ikuti terus cerita mereka, ya.