
Marcello tergelak mendengar cerita Marissa. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Assisten yang dingin itu ternyata bisa jatuh hati kepada seorang wanita.
"Baguslah, itu artinya dia masih normal. Aku bahkan sempat berpikir bahwa itu tidak normal," ucap Marcello disela gelak tawanya.
"Dad, berjanjilah untuk tidak membahas masalah ini kepada Om Joe, ya. Kasihan Om Joe, Dad. Dia pasti malu," pinta Marissa.
"Wah, sayang sekali! Padahal lidahku sudah gatal ingin sekali menggoda lelaki itu."
"Jangan, ya! Pliss ...."
"Ok, ok! Baiklah," jawab Marcello sembari mengelus lembut pipi Marissa.
"Maafkan aku, Cha. Aku sudah berpikiran aneh kepadamu saat kulihat kamu memeluk Joe."
"Aku refleks saat itu, Dad. Aku bahagia karena ternyata Om Joe begitu baik dan tulus. Ia tidak marah walaupun Ibu lebih memilih Ayah sebagai pendamping hidupnya," tutur Marissa.
"Mungkin ini sudah saatnya untuk Riyadh dan Bu Dian bahagia."
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Dian sudah bersiap. Hari ini, seperti janji Riyadh. Lelaki itu akan kembali lagi ke Mansion untuk menunggu jawaban darinya.
"Bu," sapa Marissa yang kini sedang mengintipnya dari balik pintu kamar.
"Marissa sayang, masuklah."
Marissa pun bergegas masuk kedalam kamar Dian kemudian duduk di tepian tempat tidur wanita itu. Dian tersenyum ketika memperhatikan Marissa. Ternyata Marissa juga sudah bersiap menunggu kedatangan sang Ayah.
"Bagaimana, Bu?" tanya Marissa.
Dian menyentuh tangan Marissa dan Marissa merasakan tangan Ibunya yang begitu dingin.
"Ibu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan jawaban Ibu sudah bulat."
"Apa itu, Bu?" tanya Marissa penasaran.
__ADS_1
"Ibu bersedia menerima lamaran Tuan Riyadh tetapi dengan syarat dia benar-benar sudah sendiri," jawab Dian.
"Oh, Ibu! Terima kasih."
Marissa memeluk tubuh Dian dengan erat sambil menitikkan airmata. Ia begitu terharu, akhirnya Ayah dan Ibunya akan segera bersatu.
"Sama-sama, Nak."
"Tapi Ibu melakukan ini bukan karena terpaksa, 'kan?" tanya Marissa lagi.
Ia kembali menatap Ibunya dengan airmata yang masih menetes. Dian menyeka airmata Marissa kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak, Nak. Tidak ada keterpaksaan sama sekali. Entah mengapa, setelah pembicaraan kita tadi malam, hati Ibu merasa yakin menerima lamaran Tuan Riyadh."
"Syukurlah. Sekarang Marissa tenang. Marissa sempat takut, takut Ibu terpaksa melakukannya demi Icha,"
"Tidak, Sayang," jawab Dian sambil mengelus pipi Marissa.
Tidak berselang lama, mobil mewah milik Tuan Riyadh tiba di halaman Mansion. Joe berdiri disana sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan lelaki itu.
Joe mengulurkan tangannya dan disambut oleh Riyadh.
"Terima kasih, Joe."
Joe kembali tersenyum setelah bersalaman dengan Tuan Riyadh. Ia merasakan tangan lelaki itu begitu dingin.
"Anda gugup, Tuan Riyadh?"
Riyadh menoleh kepada Joe yang kini sedang menuntunnya menuju ruang utama dimana Marcello, Marissa dan Dian sudah menunggu kedatangannya.
"Ya, Joe! Apakah terlihat begitu jelas di wajahku?"
"Tidak juga. Hanya saja tangan Anda terasa begitu dingin."
"Benarkah? Sebenarnya aku ragu, Joe. Aku takut Dian menolak lamaranku hari ini."
__ADS_1
Joe terkekeh pelan. "Percayalah, Nyonya Dian pasti akan menerima lamaran Anda," jawab Joe.
Akhirnya kedua lelaki itu tiba di ruang utama dimana Marcello sudah bersiap menyambut kedatangan Tuan Riyadh kembali.
"Selamat datang kembali, Sobat!" sapa Marcello sembari memeluk dan menepuk punggung lelaki itu dengan lembut.
"Terima kasih, Marcello. Maafkan aku karena lagi-lagi aku menganggu waktu kalian," ucapnya.
"Tidak sama sekali," jawab Marcello.
Joe memilih duduk disebuah kursi kecil tak jauh dari Marcello. Sedangkan Riyadh duduk di sofa yang berseberangan dengan tempat duduk Dian dan Marissa.
Riyadh menatap lekat wajah Dian yang nampak lebih tenang. Wanita itu bahkan sudah bisa menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk Tuan Riyadh.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan keluarga Marcello, Riyadh pun akhirnya kembali menyatakan keinginannya melamar Dian. Ia kembali mengeluarkan cincin cantik itu dari kotak perhiasan berwarna gold tersebut.
"Bagaimana, Dian? Bersediakah kamu menjadi calon Istriku?" tanya Tuan Riyadh dengan gugup. Bahkan tangannya gemetar saat ia memegang cincin cantik itu.
Tanpa berpikir panjang, Dian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat kepada Tuan Riyadh.
"Ya, aku bersedia, Tuan."
"Aakhh!!!"
Marissa berteriak histeris karena saking bahagianya. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri sang Ayah.
"Ayo, Ayah! Pasangkan cincinnya segera!" ucap Marissa.
Tuan Riyadh pun bangkit dan segera menghampiri Dian yang masih duduk di sofa. Perlahan, Riyadh meraih tangan Dian dan memasangkan cincin tersebut ke jari manisnya.
Marissa yang sejak tadi berdiri di belakang Tuan Riyadh, bertepuk tangan dan diikuti oleh Marcello juga Joe. Beberapa kali Marcello memperhatikan ekspresi wajah Joe saat itu. Wajahnya sama seperti biasanya, dingin dan datar.
Marcello menepuk pelan pundak Joe sambil berucap. "Semoga kelak kamu mendapatkan seseorang seperti Dian,"
Joe sontak menoleh kepada lelaki itu dan menatapnya dengan tatapan serius. "Apakah Tuan Marcello sudah tahu tentang itu? Ya Tuhan, ini sangat memalukan!" batinnya.
__ADS_1
...***...