
Tidak berselang lama, mobil yang membawa Sofia pun tiba. Joe bergegas menghampiri mobil tersebut bersama para tim medis. Setelah Sofia keluar, ia pun segera dibawa ke ruang bersalin.
"Sakit sekali, Mas!" rintih Sofia sembari memegang perutnya.
"Tahan ya, Sayang. Demi calon bayi-bayi kita."
Joe mengikuti Dokter yang membawa Sofia hingga ke ruang bersalin. Rencananya Sofia ingin melahirkan secara normal jika tidak tidak ada masalah saat proses melahirkan nanti. Setelah Sofia dipindahkan ke tempat tidur pasien yang ada di ruangan itu, Dokter pun mulai memeriksa pembukaan Sofia.
"Maaf ya, Nona. Tahan sebentar," ucap Dokter sebelum ia mencoba memasukkan jarinya ke dalam area pribadi Sofia.
Sofia tersentak kaget, ia refleks memukul tangan Dokter yang ingin menyentuh area pribadinya.
"Dokter mau apa?" tanyanya sambil menahan sakit.
Dokter tersenyum melihat reaksi Sofia saat itu. "Maafkan saya, Nona. Saya ingin memeriksa bukaan Anda dan saya harus melakukannya karena memang seperti ini prosedurnya," ucap Dokter itu.
"Baiklah, tapi pelan-pelan ya, Dok."
"Ya, tentu saja, Nona."
Dokter pun melanjutkan tugasnya. Dengan sangat hati-hati, Dokter mulai memeriksa bukaan Sofia saat itu.
"Masih bukaan 5. Tahan sebentar lagi ya, Nona."
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Sakit sekali!" Sofia lagi sambil menggigit ujung bantal.
Joe hanya diam seribu bahasa sambil memperhatikan wajah pucat Sofia yang menahan rasa sakitnya. Ia menggenggam tangan Sofia dan ketika Sofia meringis, genggaman tangan Sofia semakin erat mencengkeram tangan Joe.
Bahkan kuku-kuku Sofia sampai membuat kulit tangan Joe memerah akibat cengkeramannya.
"Aku tidak menyangka sakitnya akan seperti ini!" gumam Sofia dengan wajah bercucuran keringat.
"Ya Tuhan, Sayang ... seandainya bisa, aku ingin menggantikan posisimu saat ini," bisik Joe di samping telinga Sofia sembari mengelus puncak kepala wanita itu.
Setelah beberapa saat, Dokter pun kembali menghampiri tempat tidur Sofia dan ingin mengecek pembukaannya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat kepala bayi mungil Sofia sudah mulai kelihatan.
"Oh, astaga! Kepalanya sudah kelihatan," seru Dokter yang kemudian bersiap-siap menyambut mahluk mungil tersebut.
"Semangat, Nona Sofia! Yakinlah, Anda pasti berhasil!" ucap Dokter itu.
Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya seorang bayi mungil berjenis kelamin perempuan berhasil keluar dengan selamat. Suara tangisnya memecahkan keheningan di ruangan itu. Tangis yang begitu indah terdengar di telinga Joe.
Joe bahkan sampai menitikkan air matanya karena terharu. Akhirnya, di usia Joe yang sudah tidak muda lagi, ia menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya.
"Terima kasih, Tuhan," gumam Joe sembari menyeka air mata yang sempat menetes.
"Kamu dengar itu, Sofia? Itu tangis pertama bayi perempuan kita," ucap Joe yang masih setia duduk di samping tempat tidur Sofia sambil menggenggam erat tangan wanita itu.
__ADS_1
Sofia yang masih kelelahan, hanya bisa membalas senyuman Joe tanpa bisa berkata-kata. Namun, tatapan matanya saat itu seolah mengatakan bahwa ia pun sangat bahagia.
Seorang perawat meraih bayi mungil pertama Sofia kemudian membersihkannya. Sedangkan Dokter masih menunggu kelahiran bayi kedua, bayi berjenis kelamin laki-laki yang masih betah berada di dalam kandungan Sofia.
Hanya berjarak lima belas menit, Sofia kembali merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Dokter yang sejak tadi sudah menunggu momen itu, kembali mempersiapkan dirinya untuk menyambut kelahiran bayi yang kedua.
Hampir sama seperti bayi sebelumnya, bayi yang kedua ini pun tidak terlalu membuat Sofia kesusahan. Hanya beberapa kali mengejan, bayi berjenis kelamin laki-laki itupun lahir dengan selamat.
"Huft! Akhirnya," ucap Dokter sambil tersenyum puas.
Ia mengangkat bayi laki-laki tampan itu dan memperlihatkannya kepada Joe dan Sofia. "Bayi laki-laki kalian terlihat sangat tampan, Tuan dan Nyonya Joe!"
"Terima kasih, Dok!" sahut Joe dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Sama-sama, Tuan."
Dokter kembali menyerahkan bayi mungil tersebut kepada seorang Perawat agar di bersihkan sebelum melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini).
Setelah kedua bayi mungil itu bersih, Dokter membawa mereka menghampiri tempat tidur Sofia dan meletakkan salah satu bayi mungil itu di atas tubuh Sang Ibu.
Perlahan ia mulai merangkak dan akhirnya menemukan asinya yang pertama, begitupula bayi yang kedua. Joe begitu terharu, beberapa kali ia melabuhkan ciuman ke kening Sofia sambil mengucapkan terima kasih.
...***...
__ADS_1