Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 242


__ADS_3

Dylan sedang duduk di depan meja kerja sama seperti biasanya. Namun, kali ini terlihat sedikit berbeda karena lelaki itu nampak tidak tenang. Beberapa kali ia memperhatikan gelang pemberian Maria yang masih melekat di pergelangan tangannya.


Mac yang masih sibuk dengan pekerjaannya, tidak sengaja menoleh kearah Dylan yang masih melamun sembari memainkan gelang pemberian Maria. Mac penasaran, ia pun memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada lelaki itu.


"Anda kenapa, Tuan Dylan? Sejak tadi saya perhatikan, Anda nampak tidak tenang. Apakah ada sesuatu yang menggangu pikiran Anda?"


"Entahlah, Mac. Aku tidak tahu kenapa hari ini semangat kerjaku benar-benar menurun. Sepertinya aku butuh refreshing sebentar."


"Ya, Tuan. Sepertinya Tuan memang membutuhkan itu," jawab Mac.


Dylan bangkit dari tempat duduknya yang empuk kemudian berjalan menghampiri Mac kemudian mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.


"Aku ingin jalan-jalan sebentar. Mungkin dengan begitu, moodku akan segera membaik."


Mac segera menyerahkan kunci mobilnya dan segera disambut oleh Dylan. Setelah mendapatkan kunci mobilnya, Dylan pun bergegas pergi, meninggalkan Mac sendirian di ruangannya.


Sementara itu di sekolah Maria.


Maria nampak serius memperhatikan situasi di depan gerbang sekolahnya. Ia takut kalau-kalau Aidan kembali menjemputnya. Setelah memastikan bahwa lelaki itu tidak ada disana, Maria pun segera menuju tempat parkir. Dimana motor matic kesayangannya sedang terparkir.


"Huh, syukurlah dia tidak ada disini! Aku tidak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi," gumam Maria sembari meletakkan helmnya ke atas kepala.


Setelah jaket dan helmnya terpasang dengan sempurna, Maria pun segera melajukan motor tersebut keluar dari lingkungan sekolahnya. Di perjalanan menuju pulang, tanpa ia sadari ternyata mobil Dylan mengikutinya dari belakang.


"Hmm, gadis ini lah yang telah membuat semangat bekerjaku menurun drastis hari ini dan dia harus bertanggung jawab," gumam Dylan sembari tersenyum menatap punggung Maria yang sedang melaju di depan mobilnya bersama motor matic berstiker Hello Kitty tersebut.


Tin ... tin ... tin ....

__ADS_1


"Ih, siapa sih! Rese banget!"


Maria menggerutu karena seseorang yang sedang mengemudikan mobil di belakangnya, terus saja membunyikan kalkson. Hal itu membuat Maria merasa terganggu dan tidak nyaman.


Maria melirik ke kaca spion sebelah kanan untuk mengetahui siapa yang sedang iseng mengerjainya. Namun, mata Maria tiba-tiba saja membesar setelah tahu siapa yang sedang berada di dalan mobil tersebut.


"Om Udin!" pekiknya.


Maria refleks mencengkeram kedua buah rem yang ada di sebelah kanan dan kirinya, hingga motor matic kesayangannya tersebut berhenti tiba-tiba.


Bahkan Dylan sendiri terlambat menginjak rem mobilnya dan kejadian itupun kembali terulang lagi. Dimana mobil Dylan lagi-lagi menabrak bagian belakang motor matic kesayangan gadis itu.


Brukkh!


"Waduh, terjadi lagi!" pekik Maria sambil menepuk jidatnya.


"Nona Maria, kamu tidak apa-apa?" tanya Dylan sembari memperhatikan Maria dan juga kondisi motor gadis itu.


"Ih, ternyata mobil milik Bossmu ini kecentilan, Om Udin. Sudah dua kali aku ditabrak seperti ini!" pekik Maria.


"Tapi, sebenarnya ini salahmu sendiri, Nona Maria. Kenapa juga kamu suka sekali mengerem mendadak seperti itu? Ehm, tunggu sebentar."


Dylan kembali memasuki mobilnya kemudian menepikan mobil tersebut ke tempat yang lebih aman. Begitupula Maria, gadis itu menuntun motor kesayangannya ke pinggir jalan agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.


"Sudah ditabrak, disalahkan pula!" gerutu Maria sembari menuntun motornya.


Setelah mengamankan mobilnya, Dylan pun kembali menghampiri Maria. Ia memperhatikan tubuh Maria dengan seksama, dari ujung rambut hingga ujung kepala.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Nona Maria?"


"Aku sih baik-baik saja, Om Udin. Tapi, tidak dengan si Kitty-ku ini."


"Iya, maafkan aku, Nona Maria. Aku tidak sengaja, tapi kali ini aku berjanji padamu bahwa aku akan mengganti rugi biaya kerusakan motormu," sahut Dylan.


"Benarkah?" Maria menatap lekat kedua bola mata Dylan.


"Ya, aku serius."


"Tidak usah lah, Om. Aku tahu berapa gaji seorang sopir. Lebih baik uangnya Om simpan saja untuk keperluan Om lainnya."


Dylan terkekeh pelan mendengar penuturan polos gadis itu.


"Tapi ...." lanjut Maria sambil menyeringai licik.


Dylan menautkan kedua alisnya sambil menatap Maria dan dari senyuman licik gadis itu, Dylan tahu ada sesuatu yang konyol, yang sedang dipikirkan oleh Maria.


"Tapi apa, Nona?"


"Aku ingin Om mengganti dengan cara lain, bagaimana?"


"Apa itu? Katakanlah," ucap Dylan.


"Menikahlah denganku, Om Udin. Selamatkan aku dari laki-laki yang akan dijodohkan denganku. Aku tidak menyukainya, laki-laki itu tidak cocok denganku," tutur Maria sambil menangkupkan kedua tangannya ke dada.


Mata Dylan membulat setelah mendengar permintaan Maria. "Tapi ... aku hanya seorang sopir, Nona. Nona pasti akan menyesal setelah menikah denganku," jawab Dylan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2