
Setelah melihat keadaan gadis itu, Joe mengurungkan niatnya. Tiba-tiba saja ia menjadi Iba dan tidak tega jika harus meminta pertanggung jawaban kepada gadis yang bernama Sofia tersebut.
Joe pun memilih kembali dan mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi pada mobilnya. Sebelum memasuki mobil tersebut, Joe kembali memperhatikan bagian body mobil yang penyok akibat perbuatan gadis itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil memikirkan biaya yang akan ia keluarkan untuk memperbaikinya.
"Ada-ada saja! Kenapa apesku tidak habis-habis," gumam Joe sembari memasuki mobilnya.
Selang beberapa saat mobil yang ia kemudian tiba di kediaman Tuan Marcello. Kebetulan saat itu sang pemilik mobil sedang berada di depan Mansion sambil berbincang bersama beberapa orang Bodyguardnya.
Sepintar-pintarnya Joe mencoba menyembunyikan penyok tersebut dari Tuan Marcello, ternyata mata lelaki itu lebih tajam daripada seekor elang. Ia sudah melihat keanehan pada mobil kesayangannya daru kejauhan dan segera mendekat.
Marcello memperhatikan body mobilnya yang penyok dengan wajah aneh sambil merabanya. "Sepertinya ini disengaja, apa kamu yang melakukannya, Joe?"
Joe menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian menghampiri pria tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan Marcello, ia sempat menghembuskan napas berat.
"Sebenarnya tadi ada gadis aneh yang tiba-tiba saja menimpuk mobil ini dengan menggunakan batu, Tuan. Saya ingin meminta ganti rugi, tetapi tidak tega setelah mengetahui kondisi gadis itu yang sebenarnya," jawab Joe.
Marcello menatap aneh kepada Assistennya itu kemudian menepuk pundaknya. "Itu artinya gajimu bulan ini akan berkurang jumlahnya."
Marcello berjalan meninggalkan Joe sambil tersenyum tipis. Sedangkan Joe hanya bisa menatap punggung lelaki itu sambil menggaruk peipisnya.
"Ya Tuhan, sialnya nasibku," gumamnya.
Marcello memasuki Mansion dan berhenti tepat di ruang utama, dimana Marissa sedang duduk disana sambil mengelus perutnya. Marcello menjatuhkan dirinya tepat disamping Marissa kemudian turut mengelus perut itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dad, minggu depan jadwal ku memeriksakan kandungan. Daddy temenin Icha, ya."
"Tentu saja, Cha. Apapun untuk kalian. Kamu dan anakku," jawab Marcello sembari mencolek hidung Marissa.
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan dan berpamitan kepada Marissa, Marcello segera bersiap menuju halaman depan. Dimana Joe sudah menunggu kedatangannya. Joe tersenyum hangat ketika Marcello berjalan mendekatinya dan segera membukakan pintu mobil tersebut sambil menyapa lelaki itu.
"Selamat pagi, Tuan Marcello."
"Selamat pagi, Joe. Oh ya, bagaimana body mobil yang penyok kemarin, sudah beres?" tanya Marcello sembari memasuki mobil dan duduk dengan nyaman didalam sana.
"Ehm, sebenarnya belum, Tuan. Hari ini saya akan mengurusnya," jawab Joe seraya melajukan mobilnya meninggalkan Mansion dan menuju kantor Tuan Marcello.
Setelah mengantarkan Marcello ketempat kerja, Joe meminta izin keluar untuk membawa mobil kesayangan tuannya tersebut ke tempat reparasi mobil resmi.
"Bukankah itu gadis yang kemarin menimpuk mobil ini?" batin Joe.
Joe menepikan mobilnya dipinggir jalan sambil memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Tiba-tiba ada tiga orang preman yang menghampirinya. Joe sudah mulai curiga karena gelagat para preman itu terlihat mencurigakan.
Benar saja, mereka memalak Sofia dan mengambil paksa uang hasil penjualan kuenya. Tak ada satupun orang yang berani membantunya. Mereka hanya menjadi penonton dan tidak ada yang berani mendekat apalagi menolong gadis malang itu.
Sofia terlihat memohon kepada para preman itu agar uangnya dikembalikan, tetapi para preman itu tidak menggubrisnya. Malah sebaliknya, mereka menertawakan kemalangan Sofia dan lebih parahnya lagi kue-kue milik Sofia pun dilemparkan oleh mereka hingga kue-kuenya jatuh berserak di tanah. Sofia menangis lirih sambil memunguti kue-kuenya yang masih bisa diambil.
__ADS_1
Joe benar-benar meradang. Wajahnya memerah dan rahangnya terlihat dengan jelas. Ia keluar dari mobilnya kemudian berjalan menuju para preman itu.
"Berhenti!" titah Joe yang kini berdiri tepat di belakang ketiga preman itu.
Ketiga preman itu berbalik kemudian menatap Joe sambil menyeringai.
"Wah, wah, wah! Sepertinya orang ini ingin menjadi pahlawan kesiangan rupanya," ucap salah satu preman sambil tergelak dan diikuti oleh kedua temannya.
"Kembalikan uang gadis itu!" titah Joe.
Ketiga preman itu kembali tergelak mendengar perintah Joe. "Bagaimana jika kami tidak mau?" tanya salah satu dari mereka.
"Itu artinya kalian mencari mati," sahut Joe.
Joe menghampiri ketiga lelaki itu dan terjadilah perkelahian tiga lawan satu. Mereka mengerubuti Joe dan meluncurkan pukulan berkali-kali kearah Joe. Namun, tak satupun yang mengenai tubuhnya. Bahkan pakaiannya saja tidak tersentuh oleh ketiga preman itu.
Bukan mudah melawan seorang Joe, ketika Joe sudah mulai mengeluarkan berbagai jurusnya, ketiga orang itu babak belur hanya dalam hitungan menit.
"Ampun, Tuan! Ampun!" lirih mereka sambil meringis menahan sakit karena tubuh dan wajah mereka dipenuhi dengan luka lebam akibat pukulan Joe. Belum lagi darah segar yang masih mengucur dari sudut bibir dan hidung ketiga lelaki itu.
Salah satu dari mereka, dengan gemetar menyerahkan uang milik Sofia kepada Joe. "Ini uangnya, Tuan. Tapi, biarkan kami pergi. Kami berjanji tidak akan mengganggu gadis itu lagi."
Joe meraih uang itu kemudian menyerahkannya kembali kepada Sofia yang masih shok melihat perkelahian antara Joe dan ketiga preman itu.
__ADS_1
"Sekarang pergilah dan jangan pernah ingkari janji kalian. Jika sampai kalian macam-macam lagi padanya, aku tidak akan pernah mengampuni kalian," ucap Joe.
...***...