Gadis Nakal Milik Hot Daddy

Gadis Nakal Milik Hot Daddy
Bab 260


__ADS_3

"Mac, kenapa aku jadi gugup begini, ya? Padahal aku sudah terbiasa berkumpul dengan orang-orang penting, tapi kali ini rasanya sangat berbeda. Coba kau sentuh tanganku, tanganku bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin," ucap Dylan dengan wajah memucat menatap Mac.


Mac mengelus tengkuknya sambil tersenyum tipis. "Ya, memang seperti itu rasanya, Tuan Dylan. Saya pun pernah merasakannya ketika melamar Istri saya."


"Benarkah? jadi rasanya memang seperti ini, ya?"


"Ya, Tuan. Kurang lebih seperti itulah," jawab Mac sambil terkekeh pelan.


Dylan bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri tepat di depan Mac sambil memperlihatkan penampilannya saat itu. Penampilannya terlihat sangat keren dengan setelan jas mahal serta aksesoris mahal lainnya.


"Bagaimana penampilanku malam ini? Apa aku terlihat keren?" tanya Dylan dengan wajah serius menatap Mac.


Mac memperhatikan penampilan Dylan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Anda terlihat sangat keren, Tuan. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apalagi."


"Benarkah itu? Jangan bilang kamu mengatakan hal itu karena aku adalah Bossmu, ya!"


"Saya berani bersumpah, Tuan. Saya berkata jujur. Mana pernah saya berkata bohong kepada Anda," sahut Mac.


Dylan memperhatikan penampilannya sekali lagi dan setelah yakin bahwa penampilannya cukup memuaskan, ia pun segera beranjak dari ruangan tersebut menuju kamar Kakak perempuannya.


Mac tidak ikut, ia memilih menunggu Bossnya itu di halaman depan. Setibanya disana, Dylan memperhatikan wanita itu tengah berbaring dengan posisi meringkuk. Sudah beberapa hari ini Kakak perempuan Dylan hanya diam dan berbaring di atas tempat tidurnya tanpa melakukan apapun. Perlahan Dylan menghampiri wanita itu kemudian duduk di sampingnya.


"Kak ... Kakak baik-baik saja?" Dylan mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut.


Wanita itu tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Ia masih diam dan tidak berbicara sepatah katapun.


"Kak, malam ini aku ingin melamar seorang gadis. Doakan acara malam ini lancar ya, Kak."


Dylan menggenggam tangan wanita itu kemudian menciumnya. Tak ada respon sedikitpun darinya. Namun, Dylan sudah tahu bagaimana Kakak perempuannya itu. Kadang wanita itu bisa di ajak bicara sebagaimana orang-orang normal lainnya, tetapi tidak jarang ia diam seribu bahasa seperti sekarang ini.


Setelah meminta izin kepada sang Kakak, Dylan pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut dan menyusul Mac yang sudah menunggunya di halaman depan.


Mac segera membukakan pintu mobil untuk Dylan ketika lelaki itu sudah mendekat padanya.

__ADS_1


"Mari, Tuan."


"Terima kasih, Mac."


Sementara itu di mansion.


"Mom, Maria harus make yang mana?" tanya Maria kepada sang Mommy yang baru saja tiba di kamarnya.


Gadis itu masih belum bersiap, rambutnya bahkan masih terlihat acak-acakan dengan kimono mandi yang masih melekat erat di tubuhnya.


"Ya, ampun Maria! Mungkin saat ini Om Udinmu sudah di jalan tapi kamu masih belum siap juga!" pekik Marissa dengan mata membulat menatap Maria yang masih mengenakan kimono mandi.


"Maria bingung harus memakai dress yang mana? Semuanya terlihat jelek!" umpatnya sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Marissa menekuk wajahnya setelah mendengar ucapan anak gadisnya itu.


"Hhh, yang bikin jelek itu pikiranmu, Maria. Masa dress cantik-cantik begini dibilang jelek semua! Bakal kena demo kalau desainernya mendengar ucapanmu ini!"


Marissa mulai memilih-milih dress Maria yang berserak di atas tempat tidur. Setelah menemukan satu yang cocok untuk di kenakan oleh Maria malam ini, ia pun segera menyerahkannya kepada gadis itu.


"Sudah, kenakan saja yang ini!"


Maria menyambutnya kemudian memperhatikan dress pilihan sang Mommy dengan seksama.


"Serius, ini bagus?"


"Ya, paling tidak terlihat lebih bagus dari pada saat kamu mengenakan kimono mandimu itu!" jawab sang Mommy.


"Ah, Mommy!"


Setelah Marissa membantu anak gadisnya mengenakan dress tersebut, ia juga membantu Maria berdandan dan merapikan rambutnya yang masih acak-acakan.


"Selesai! Sekarang, ayo!" ajak Marissa sembari menarik tangan Maria.

__ADS_1


"Maria sudah cantik, 'kan?"


"Ya, sudah!"


Marissa dan anak gadisnya tiba di ruang utama dan ternyata semuanya sudah bersiap, tinggal menunggu kedatangan Dylan.


"Wah, Gadis Daddy ... kamu terlihat sangat cantik malam ini," goda Marcello.


"Tentu saja, Daddy. Kan mau ketemu sama Om Udin kesayangan," sahut Marissa.


Seorang Bodyguard tiba di ruangan itu dengan wajah semringah. Ia segera menghampiri Marcello dan kedua anak kembarnya yang sedang duduk di sofa ruang utama.


"Tuan Marcello, tamu Anda sudah tiba."


"Ah, syukurlah kalau begitu. Sambut kedatangan mereka dan ajak mereka ke ruangan ini."


"Baik, Tuan."


Maria terlihat sangat gugup. Ia bahkan sampai meremass-remass tangan Marissa yang sejak tadi ia genggam tanpa ia sadari. Marissa membulatkan matanya sambil menatap gadis itu.


"Maria, tangan Mommy sakit."


"Ah, iya ... maaf, Mom."


Tidak berselang lama, Dylan pun tiba di ruangan itu sambil tersenyum hangat. Marcello, Marvel dan Melvin membelalakan mata mereka setelah melihat kehadiran Dylan di ruangan itu. Begitupula Maria, ia tidak menyangka bahwa Om Udin akan terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Dylan?!" pekik Marvel dan Melvin.


"Dylan? Yang mana Tuan Dylan? Yang disamping Om Udin, ya? Kata Om Udin itu assistennya Tuan Dylan, namanya Mac!" sahut Maria dengan setengah berbisik kepada dua Kakaknya.


"Apa!?" Marvel dan Melvin saling tatap dan mereka benar-benar bingung.


...***...

__ADS_1


__ADS_2